“Usus buntu juga dapat disebabkan oleh masuknya benda asing. Seperti biji-bijian pada saat proses pencernaan. Benda itu tidak bisa keluar, kemudian menyumbat.”
dr Bela Mayvani SpBA
Dokter Spesialis Bedah Anak RS Siloam Jember
HALOJEMBER.COM - Apendisitis atau infeksi pada apendiks yang sering disebut usus buntu tidak hanya menyerang orang dewasa.
Anak dengan usia di bawah lima tahun juga bisa mengalami penyakit tersebut. Kasus ini paling banyak dijumpai pada anak dengan usia belasan tahun.
Dokter spesialis bedah anak RS Siloam Jember, dr Bela Mayvani SpBA, menjelaskan, gejala yang biasa dirasakan oleh penderita apendisitis adalah nyeri pada perut.
Diawali di sekitar pusar, kemudian menjalar ke bagian perut bawah. Sebelum disusul gejala lainnya, seperti panas, mual, muntah, hingga gangguan buang air besar.
Infeksi usus buntu disebabkan adanya sumbatan pada apendiks, yang berbentuk seperti tabung dalam usus manusia.
Benda yang dapat menyumbat organ tersebut bisa berupa feses yang mengeras (fekalit). Serta pembesaran kelenjar getah bening, baik disebabkan oleh bakteri maupun virus.
“Usus buntu juga dapat disebabkan oleh masuknya benda asing. Seperti biji-bijian pada saat proses pencernaan. Benda itu tidak bisa keluar, kemudian menyumbat,” tuturnya.
Dikonfirmasi terkait makanan pedas dapat menyebabkan apendisitis, dr Bela menyebut, hal tersebut hanya mitos belaka.
Namun, biji cabai yang dikonsumsi juga berpotensi menyebabkan adanya sumbatan, sehingga memicu infeksi. “Tapi, persentasenya ini sangat kecil. Hanya 0,04 persen saja dalam literatur,” imbuhnya.
Begitu juga dengan anggapan bahwa pijat dapat menyebabkan usus buntu, menurutnya hal tersebut juga dapat dikatakan sebagai mitos.
Meski ada literatur yang mengatakan bahwa usus buntu juga dapat disebabkan oleh trauma. Meski kejadiannya sangat jarang dijumpai oleh petugas kesehatan.
Lebih lanjut, dr Bela menjelaskan, cara untuk mencegah infeksi usus buntu adalah dengan menerapkan pola hidup sehat.
Dengan mengonsumsi makanan bergizi, tinggi serat, serta memperbanyak konsumsi air agar feses tidak mengeras.
Jika ada anak diduga mengalami infeksi usus buntu, disarankan untuk periksa ke fasilitas kesehatan.
Untuk dilakukan deteksi lebih lanjut, karena biasanya anak sulit menjelaskan bagian tubuhnya yang nyeri.
“Karena anak gak bisa mengungkapkan rasa nyeri, usus buntu yang awalnya hanya akut bisa pecah dan menyebabkan komplikasi yang cukup serius,” pungkasnya. (ham/c2/fid)
Editor : Halo Jember