HALO JEMBER – Dalam Idul Adha yang disiapkan masyarakat tidak berfikir bagaimana cara masak yang tepat daging kurban. Lebih dari itu, bagaimana langkah menyimpan daging kurban yang tepat. Agar tetap higienis.
Dosen Teknologi Industri Pertanian sekaligus Pakar Ilmu Pangan Universitas Muhammadiyah Jember, Ara Nugrahayu Nalawati, memberikan penjelasan.
Menurutnya, kebersihan daging kurban sangat ditentukan saat proses pasca penyembelihan hingga pengemasan.
Memakai alat yang bersih dan bebas dari kontaminasi tentu diperlukan dalam menyembelih hewan kurban ataupun memotong dagingnya. Bahkan,bila perlu, petugas penyembelihan dan petugas yang membagikan ataupun memotong daging harus memakai alat perlindung diri atau APD.
“Ini cara agar daging kurban yang akan dibagikan tetap higienis dan bebas dari kontaminasi," katanya.
Panitia hewan kurban pun membagikan daging dalam satu tempat. Termasuk jeroan hingga tetelan. Namun, bila daging yang kurban itu langsung dimasak dan dikonsumsi, maka tidak jadi masalah.
Tapi, bila daging itu tidak langsung dimasak dan disimpan di lemari es. Maka harus ada pemilihan terlebih dahulu.
Ara Nugrahayu juga menyarankan, agar daging kurban segar, jeroan, dan daging yang sudah diolah harus dipisahkan dalam wadah penyimpanan yang berbeda. Hal ini untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.
Kepala Bidang Keamanan Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Ermariah pada tahun 2022 lalu juga pernah memaparkan alasan perlu ada pemisahan daging dengan bagian jeroan.
Sebab, pemisahan antara daging dan jeroan adalah langkah menghindari penyebaran virus dan bakteri. "Bakteri dan virus (pada hewan sakit) lebih banyak berada pada jeroan. Makhluk parasit seperti cacing pun berada pada jeroan,” ucapnya.
Sementara itu, daging cenderung lebih aman dari virus, bakteri, dan parasit.
Dalam pengolahannya, Ermariah berpesan, masyarakat perlu memasak daging maupun jeroan sampai 30 menit. Seandainya, hendak memasak jeroan dengan membakar. Maka, sampai betul-betul matang.
“Bukan medium rare (setengah matang). Dengan begitu, bakteri maupun virus bisa mati. Intinya, daging mesti betul-betul matang,” ucapnya.
Editor : Dwi Siswanto