HALO JEMBER - dr Tirta Mandira Hudhi atau dikenal dengan Dokter Tirta baru-baru ini diundang dalam podcast PWK. Acara yang dipandu oleh stand up comedy Praz Teguh tersebut tidak sekedar menghibur semata. Tapi juga ada pelajaran berharga, salah satunya tentang kesehatan.
Dalam acara tersebut diawali dengan pembicaraan IPK. Praz Teguh yang tidak menuntaskan kuliahnya itu menyakini IPK itu tidak menunjang kesuksesan atau pekerjaan. Namun, Dokter Tirta menimpal yang berlawanan. “Kalau kamu ingin jadi dosen, tenaga kesehatan, IPK ya tentu saja menunjang kesuksesan,” ucap Dokter Tirta.
Podcast tersebut juga membahas, Dokter Tirta adalah seorang mualaf. Bahkan, proses mualaf dokter tirta pada usia dewasa yaitu 22 tahun. Pria asal Boyolali, Jawa Tengah tersebut, lahir dari keluarga yang berbeda agama. Ayahnya adalah muslim, sedangkan ibunya non muslim.
Toleransi agama pun sudah diajarkan oleh keluarga Dokter Tirta. “Alasan untuk mualaf itu karena ayah saya,” ungkap Dokter Tirta.
Menurutnya, pernah mendengarkan teman-temannya yang muslim, bahwa ayah Dokter Tirta tidak akan bisa masuk surga, karena anaknya bukan muslim. Lantas, dirinya pun mencari guru yang tepat tentang islam dan lainnya. “Kasihan ayah saja, sudah berjuang, berusaha, membesarkan saya,” paparnya.
Dalam podcast tersebut pun juga berubah ke arah kesehatan. Awalnya membahas tentang daging kambing bukan penyebab kolesterol dan darah tinggi. Hingga, berujung kebiasaan anak muda yang buruk bisa membuat gagal ginjal.
“Jangan mengkambing hitamkan kambing. Daging kambing jangan disalahkan. Daging kambing itu proteinya bagus, lebih baik dari daging sapi. Yang membuat kolesterol dan darah tinggi naik ya karena kebanyakan kecap dan garam. Tapi banyak orang setelah makan sate kambing, tongseng kambing yang disalahkan daging kambingnya,” terangnya.
dr Tirta yang juga mengatakan bahwa banyak anak muda terserangnya diabetes. Bahkan, bisa berujung gagal ginjal.
Jaman sekarang yang membuat diabetes, bukan dari nasi. Melainkan minuman-minuman manis instan yang berada di botol.
dr Tirta juga menjelaskan bahwa minuman-minuman manis ini dapat mengandung gula sebanyak 20 gram dalam satu kemasan. Sedangkan batas konsumsi gula, garam, dan lemak yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan RI (Kemkes) per hari adalah 50 gram atau setara dengan empat sendok makan gula.
dr Tirta juga menjelaskan bahwa terdapat trend Hemodialisis atau yang biasa kita kenal sebagai cuci darah pada orang – orang yang berusia 25 sampai 35 tahun.
Pada orang – orang yang melakukan cuci darah pada usia tersebut memiliki riwayat meminum minuman manis dalam botol.
Bagi kalian yang tidak tahu, Hemodialisis atau cuci darah dilakukan untuk membuang racun – racun dari dalam tubuh akibat ginjal yang sudah mengalami kerusakan, sehingga dibutuhkan prosedur yang menggunakan mesin khusus yang digunakan untuk pasien yang mengalami gagal ginjal.
Gula merupakan salah satu sumber energi utama yang dibutuhkan dalam tubuh. Tentunya gula juga merupakan salah satu asupan energi yang penting untuk tubuh manusia.
dr Tirta juga menegaskan bahwa asupan gula dalam tubuh yang dibutuhkan setiap harinya sudah terpenuhi dengan kita memakan nasi. Jadi bila sudah memakan nasi jangan minum minuman manis.
Jadi jangan mencoba menghilangkan gula sepenuhnya karena gula merupakan sumber energi tubuh kita. dr Tirta juga menjelaskan bahwa untuk mencegah terjadi gagal ginjal pada usia muda selain mengurangi asupan gula kita setiap hari adalah dengan berolahraga atau berjalan sebanyak lima ribu langkah dalam satu hari.
Editor : Dwi Siswanto