HALO JEMBER - Tren gaya hidup yang akrab dengan boba, es teh manis, kopi susu, dan aneka makanan siap saji sudah menjadi kesukaan gen z.
Dibalik rasanya yang enak, banyak anak muda sering lupa membatasi konsumsi gula harian. Tanpa disadari, kebiasaan ini berdampak buruk bagi kesehatan.
Tak sulit mencari kedai minuman manis disetiap sudut kota, bahkan es teh terkadang menjadi minuman rutin selepas makan sebagai pengganti air putih.
Menurut data Kementerian Kesehatan RI, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan adalah maksimal 50 gram atau sekitar 4 sendok makan per hari.
Sayangnya, kebiasaan masyarakat jauh dari ideal. Data Riskesdas 2022 mencatat, lebih dari 61 persen penduduk usia 3 tahun ke atas mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali sehari.
Dampak dari konsumsi gula berlebihan tidak bisa dianggap remeh. Bahaya bisa terasa dalam jang pendek, dan bahkan dalam jangka panjang seperti sebagai berikut:
- Risiko Diabetes
Di Indonesia, obesitas dan hipertensi merupakan faktor dominan penyebab diabetes, termasuk pada kelompok usia muda. Kandungan gula tinggi dalam makanan/minuman dapat menyebabkan resistensi insulin, pemicu utama diabetes tipe 2. Konsumsi minuman berpemanis berulang kali juga memicu penambahan berat badan
- Menyembabkan Penyakit Jantung
Kelebihan gula memicu obesitas, tingginya tekanan darah, dan kolesterol, yang semuanya merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke. Studi juga menghubungkan konsumsi minuman manis harian dengan risiko lebih tinggi terkena stroke dan serangan jantung
- Kadar Kolesterol Tinggi
Diet tinggi gula meningkatkan produksi trigliserida dan meningkatkan peradangan pembuluh darah, memperburuk profil lipid serta risiko penyakit kardiometabolik
- Memicu Jerawat
Jerawat bisa muncul karena mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat olahan, seperti makanan dan minuman manis secara berlebihan. Penelitian membuktikan bahwa diet glikemik rendah berkaitan dengan berkurangnya risiko jerawat.
- Meningkatkan Resiko Kanker
Bukti epidemiologi menunjukkan konsumsi gula berlebih meningkatkan risiko kanker tertentu secara tidak langsung melalui obesitas. Obesitas merupakan faktor kuat terkait kanker payudara, kolorektal, prostat, pankreas, dan lainnya. Gula sendiri tidak langsung menyebabkan kanker, tetapi tubuh kelebihan gula berat badan naik risiko kanker meningkat.
Gaya hidup manis akan memberikan kebahagiaan, tetapi kebahagiaan yang sesaat. Sedangkang dampak yang akan dirasakan yaitu seumur hidup
Generasi muda perlu lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman, bukan hanya demi penampilan, melainkan juga untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Membatasi konsumsi gula, memperbanyak aktivitas fisik, serta memilih alternatif sehat adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan masa depan dari penyakit kronis.
Penulis : Nafila Aprillia
Editor : Dwi Siswanto