Parenting ala ‘VOC’ atau pola asuh otoriter menjadi salah satu metode yang masih diterapkan sebagian orang tua di Indonesia. Meski dianggap mampu mencetak anak yang patuh, dampaknya terhadap perkembangan anak ternyata tidak selalu positif.
ADE APRIANIS, Lumajang
Dokter spesialis anak di Brawijaya Hospital, dr Tania Paramita SpA menjelaskan, parenting ala ‘ ' VOC ’ bisa melahirkan anak yang disiplin dan taat aturan, tetapi ada risiko yang perlu diwaspadai. “Anak bisa kehilangan ruang berekspresi dan merasa tertekan secara psikologis,” jelasnya.
Pola asuh ‘VOC’ menuntut anak untuk selalu patuh tanpa banyak bertanya. Hal ini memang membuat mereka lebih mudah diarahkan, namun di sisi lain mengurangi kemandirian dalam berpikir.
Selain itu anak yang dibesarkan dengan pola otoriter cenderung memiliki rasa percaya diri rendah dan sulit mengambil keputusan sendiri ketika dewasa.
“Ketika anak tumbuh besar, mereka bisa jadi lebih mudah cemas dan takut berbuat salah. Itu akibat dari pola asuh yang menekankan hukuman dan kontrol penuh,”pungkasnya.
Meski begitu, parenting ‘VOC’ juga punya sisi positif. Anak-anak bisa lebih terbiasa dengan disiplin, menghormati aturan, dan memahami batasan sejak dini.
Tantangan terbesar ada pada keseimbangan. Orang tua yang terlalu kaku bisa membuat hubungan emosional dengan anak renggang.
“Sebaliknya, jika disiplin diterapkan dengan kasih sayang, hasilnya bisa lebih baik,” terangnya. (dea/dwi)
Editor : Dwi Siswanto