Kenyamanan yang ditawarkan True Wireless Stereo (TWS) memang sulit ditolak. Tanpa kabel, pengguna merasa lebih bebas dan praktis. Namun di balik kemudahan tersebut, para ahli mulai mengingatkan adanya risiko kesehatan dan dampak sosial jika penggunaannya tidak bijak.
Dokter Spesialis THT Rumah Sakit Unmuh Jember, dr Bambang Indra Sp.THT, menegaskan pentingnya membatasi penggunaan TWS. Ia menyarankan volume maksimal hanya 60 persen dari kapasitas perangkat, dengan durasi pemakaian maksimal 60 menit, lalu diikuti waktu istirahat 10–15 menit.
“Tujuannya agar telinga punya waktu untuk pulih,” jelasnya.
Menurut dr Bambang, di dalam telinga terdapat bagian bernama koklea atau rumah siput, yang berfungsi menangkap suara melalui bulu-bulu getar halus. Paparan suara keras dalam waktu lama dapat menyebabkan bulu getar tersebut rontok.
Masalahnya, kerusakan ini bersifat permanen. “Kalau sudah rontok, tidak bisa tumbuh kembali. Dampaknya bisa gangguan pendengaran seumur hidup,” tegasnya.
Selain aspek medis, dampak sosial juga mulai terlihat. Di kafe, kantor, hingga ruang publik, TWS kerap menciptakan “tembok tak kasat mata” antarindividu. Fitur Active Noise Cancellation yang terus aktif membuat pengguna kurang peka terhadap lingkungan.
“Disapa tidak dengar, diajak bicara harus melepas TWS dulu. Ini menciptakan sekat komunikasi,” ujar Abdur Rokib, warga Kecamatan Jambesari, Bondowoso.
Menariknya, di tengah dominasi perangkat nirkabel, sejumlah pemain sepak bola profesional Eropa justru mulai meninggalkan TWS dan kembali memilih headset berkabel. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Beberapa pemain top Liga Inggris dan Liga Champions kerap terlihat mengenakan headset kabel saat tiba di stadion atau sesi latihan.
Headset berkabel dinilai lebih andal karena tidak bergantung pada baterai, minim latensi, serta menghasilkan suara yang lebih konsisten tanpa risiko gangguan sinyal. Bagi mereka, momen mendengarkan musik bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari ritual mental untuk menjaga konsentrasi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berarti meninggalkan yang lama. Di situasi tertentu, perangkat konvensional justru masih relevan.
Bahkan menjadi pilihan utama, karena keandalan dan kontrol yang ditawarkannya. Pada akhirnya, baik TWS maupun headset kabel memiliki tempat masing-masing, tergantung kebutuhan, aktivitas, dan kesadaran penggunanya. (ham/dwi)
Editor : Dwi Siswanto