HALOJEMBER - Perbincangan soal NPD (Narcissistic Personality Disorder) semakin ramai di media sosial. Tak sedikit konten yang mengelompokkan NPD ke dalam beberapa “tipe” kepribadian.
Meski pembagian ini kerap membantu masyarakat awam memahami pola perilaku narsistik, para pakar menegaskan bahwa tipe-tipe tersebut bukan diagnosis resmi, melainkan klasifikasi populer dalam literatur psikologi untuk memudahkan pemahaman.
Secara umum, pakar psikologi membagi NPD ke dalam beberapa pola utama berdasarkan cara perilaku ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari:
- Narsistik Grandios (Overt/Grandiose)
Tipe ini paling mudah dikenali. Penderitanya cenderung percaya diri berlebihan, suka menjadi pusat perhatian, merasa dirinya paling unggul, dan haus pujian. Mereka terlihat dominan di lingkungan sosial, namun kerap kurang peka terhadap perasaan orang lain.
- Narsistik Rentan (Covert/Vulnerable)
Berbeda dengan tipe grandios, tipe ini tampak pendiam atau sensitif. Individu dengan pola ini mudah merasa tersinggung, sangat peka terhadap kritik, dan sering merasa tidak dihargai. Meski terlihat rendah hati di luar, di dalam diri tetap ada kebutuhan kuat untuk diakui dan dipuji.
- Narsistik Malignan (Malignant Narcissism)
Tipe ini dianggap paling berisiko karena memadukan sifat narsistik dengan kecenderungan manipulatif, agresif, dan kurang empati. Dalam relasi, pola perilaku ini dapat memicu konflik serius karena melibatkan kontrol emosional dan perilaku merugikan orang lain.
- Narsistik Komunal (Communal Narcissism)
Pada tipe ini, individu terlihat baik, suka menolong, dan ingin dipandang sebagai orang paling peduli. Namun, dorongan utamanya tetap mencari pengakuan dan pujian atas citra dermawan tersebut. Kebaikan yang dilakukan sering kali menjadi alat untuk membangun citra diri.
Pakar kesehatan mental mengingatkan bahwa pembagian tipe-tipe di atas tidak bersifat baku secara klinis. Seseorang bisa menunjukkan campuran dari beberapa pola sekaligus.
Selain itu, memiliki sifat narsistik tertentu tidak otomatis berarti seseorang mengidap NPD. Diagnosis gangguan kepribadian hanya bisa dilakukan oleh profesional melalui asesmen yang komprehensif.
Maraknya konten psikologi di media sosial seperti di TikTok dan Instagram turut mempercepat penyebaran istilah tipe-tipe NPD ke publik luas.
Para ahli menilai fenomena ini positif untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mental, tetapi juga berpotensi menimbulkan stigma jika digunakan untuk melabeli orang lain secara sembarangan.
Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menyerap informasi kesehatan mental. Jika merasa terganggu oleh pola perilaku diri sendiri atau orang terdekat, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional.
Pemahaman yang tepat akan membantu membangun relasi yang lebih sehat tanpa terjebak pada stigma dan label yang keliru.
Editor : Harry Erje