HALOJEMBER – Hidangan Lebaran seperti opor ayam, rendang, hingga gulai menjadi menu yang hampir tidak pernah absen di meja makan.
Cita rasa gurih dari santan membuat makanan tersebut sulit ditolak, apalagi saat momen kumpul keluarga.
Namun di balik kelezatannya, konsumsi santan berlebihan ternyata menyimpan risiko kesehatan, terutama bagi penderita hipertensi.
Lonjakan tekanan darah menjadi salah satu dampak yang kerap terjadi saat pola makan tidak terkontrol selama Lebaran.
Dokter umum, dr. Andika Pratama menjelaskan bahwa santan mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi.
Jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan berulang dalam satu hari, dapat meningkatkan kadar kolesterol yang berpengaruh terhadap tekanan darah.
Menurutnya, pola makan saat Lebaran cenderung berubah drastis dibanding hari biasa. Frekuensi makan meningkat, jenis makanan lebih berat, dan porsi sering kali tidak terkontrol.
“Kalau hari biasa mungkin makan berat dua sampai tiga kali, tapi saat Lebaran bisa lebih dari itu. Belum lagi setiap rumah menyajikan makanan serupa,” ujarnya.
Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam dan gorengan sebagai pelengkap.
Kombinasi antara lemak jenuh dan natrium yang tinggi membuat tekanan darah lebih mudah meningkat, terutama pada orang dengan riwayat hipertensi.
Selain itu, aktivitas fisik selama Lebaran cenderung menurun. Waktu lebih banyak dihabiskan untuk duduk, bersilaturahmi, dan makan bersama. Hal ini membuat metabolisme tubuh tidak bekerja optimal.
“Tubuh itu butuh keseimbangan. Kalau asupan tinggi tapi aktivitas rendah, dampaknya pasti terasa,” jelasnya.
Untuk menyiasati hal tersebut, dr. Andika menyarankan agar masyarakat tetap memperhatikan porsi makan.
Mengonsumsi makanan bersantan tidak dilarang, namun perlu dibatasi dan tidak dikonsumsi berulang dalam waktu singkat.
Ia juga menekankan pentingnya mengimbangi dengan konsumsi sayur dan buah yang tinggi serat.
Selain membantu pencernaan, serat juga berperan dalam menjaga kadar kolesterol dalam tubuh.
“Minimal ada penyeimbangnya. Jangan dari pagi sampai malam isinya santan semua,” katanya.
Selain itu, memperbanyak minum air putih dapat membantu tubuh menetralisir asupan berlebih.
Mengurangi minuman manis dan bersoda juga disarankan agar tidak memperparah kondisi tubuh.
Aktivitas ringan seperti berjalan kaki setelah makan juga bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga tekanan darah tetap stabil. Tidak harus olahraga berat, yang penting tubuh tetap bergerak.
“Setelah makan jangan langsung duduk atau tidur. Jalan santai 10–15 menit saja sudah membantu,” tambahnya.
Bagi penderita hipertensi, kontrol rutin dan konsumsi obat tetap harus dijaga meski sedang libur Lebaran.
Banyak kasus tekanan darah naik justru terjadi karena pasien lalai mengonsumsi obat saat momen liburan.
“Jangan sampai karena suasana Lebaran, justru pengobatan terabaikan. Itu yang sering terjadi,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa kunci utama menikmati hidangan Lebaran adalah pengendalian diri. Bukan menghindari sepenuhnya, melainkan mengatur pola konsumsi agar tetap seimbang.
“Silakan menikmati makanan Lebaran, tapi tetap tahu batas. Jangan sampai setelah Lebaran justru harus ke dokter,” pungkasnya.(yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi