JEMBER, Halojember - Video perkelahian siswi sekolah dasar di Desa Selodakon, Kecamatan Tanggul, Jember, ternyata bukan direkam spontan.
Akan tetapi, polisi menemukan dugaan bahwa aksi tersebut memang direkam atas permintaan salah satu pelaku menggunakan telepon seluler miliknya.
Rekaman itu awalnya hanya ditujukan untuk dibagikan kepada kelompok pertemanan, sebelum akhirnya menyebar lebih luas dan viral di media sosial.
Kanitreskrim Polsek Tanggul Aipda Aditya Prahara P. Utama mengatakan, sebelum aksi kekerasan berlangsung, salah satu siswi yang diduga sebagai pelaku meminta rekannya untuk merekam kejadian tersebut.
Baca Juga: Viral Siswi SD Berkelahi di Jember, Diduga Dipicu Cemburu Gegara Follow TikTok
Perekaman dilakukan menggunakan telepon seluler milik pelaku. Polisi kini masih mendalami siapa pihak yang pertama kali menyebarkan video tersebut keluar dari kelompok pertemanan.
“Pelaku menyuruh rekannya untuk merekam aksi tersebut menggunakan HP milik pelaku. Tujuannya untuk dipamerkan di grup WhatsApp komunitas mereka yang berisi teman-teman sebayanya,” paparnya, Sabtu (8/8/2026).
Grup WhatsApp tersebut diketahui beranggotakan enam orang, terdiri dari tiga laki-laki dan tiga perempuan. Setelah video dikirim ke dalam grup, rekaman tersebut kemudian beredar ke luar kelompok hingga akhirnya menyebar di media sosial.
Baca Juga: Kru Sound Horeg di Jember Tewas Terbentur Gapura, Video Insiden Viral di Medsos
Polisi masih menelusuri jalur penyebaran video tersebut, termasuk dugaan keterlibatan dua siswa lain yang disebut turut menyebarkannya.
Aksi kekerasan itu terjadi Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 12.30 WIB, seusai kegiatan ekstrakurikuler Pramuka. Korban A, diduga dipukul dan ditendang oleh dua siswi dari sekolah berbeda.
Persoalan yang melatarbelakangi kejadian tersebut diduga bermula dari rasa cemburu terkait aktivitas mengikuti akun TikTok seorang siswa.
“Awal masalahnya terkait follow-follow-an TikTok. Ada rasa cemburu. Korban ini dituduh mem-follow akun TikTok milik seorang siswa berinisial H yang merupakan pacar pelaku,” ujar Aditya.
Persoalan kemudian berkembang melalui komunikasi di DM hingga salah satu pihak menantang untuk bertemu. Polisi menyebut peristiwa itu terjadi begitu cepat dan awalnya sempat dianggap sebagai candaan oleh guru yang berada di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Karnaval SCTV JEMBER : Ada Deklarasi Anti-Bullying Pelajar
Setelah kejadian, aparat bersama unsur Muspika Tanggul, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Jember berupaya melakukan mediasi.
Namun proses tersebut untuk sementara ditangguhkan karena adanya miskomunikasi dengan keluarga korban. Polisi juga belum menerima laporan resmi dan masih menunggu perkembangan langkah hukum dari pihak keluarga.*
Editor : Sidkin