HaloJember – Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati International Women's Day atau Hari Perempuan Sedunia.
Peringatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga momentum untuk menegaskan identitas, perjuangan, dan pengalaman perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.
Di tengah perbincangan tentang kesetaraan gender, ada satu kisah unik sekaligus kontroversial yang kerap kembali diingat, eksperimen sosial yang dilakukan jurnalis Amerika Norah Vincent.
Perempuan yang dikenal sebagai penulis dan kolumnis ini pernah melakukan penelitian ekstrem dengan menyamar sebagai laki-laki selama sekitar 18 bulan pada awal 2000-an.
Pengalaman tersebut kemudian ia tulis dalam buku terkenal berjudul Self-Made Man yang terbit pada 2006.
Menyamar Jadi Pria Selama 18 Bulan
Untuk menjalankan eksperimen tersebut, Vincent menciptakan identitas laki-laki bernama “Ned.” Ia memotong rambutnya pendek, mengenakan pakaian pria, meratakan dadanya dengan sport bra, bahkan berlatih mengubah suara agar terdengar lebih maskulin.
Selama menjalani kehidupan sebagai “Ned”, Vincent mencoba masuk ke berbagai ruang sosial yang didominasi laki-laki.
Ia bergabung dengan tim bowling pria, mengikuti kelompok terapi khusus pria, hingga berkencan dengan perempuan tanpa mengungkap identitas aslinya.
Eksperimen itu bertujuan untuk memahami bagaimana kehidupan laki-laki dari sudut pandang langsung, bukan sekadar asumsi.
Temuan yang Mengubah Cara Pandangnya
Awalnya Vincent menduga bahwa laki-laki memiliki lebih banyak privilese dalam kehidupan sosial.
Namun pengalaman langsung justru membuat pandangannya berubah.
Ia menemukan bahwa banyak laki-laki menghadapi tekanan psikologis yang jarang dibicarakan, seperti kesepian, tuntutan untuk selalu kuat secara emosional, serta kesulitan mengekspresikan perasaan.
Vincent bahkan mengatakan bahwa pengalaman tersebut membuatnya memiliki empati lebih besar terhadap kehidupan laki-laki.
Berujung Gangguan Mental
Namun eksperimen tersebut juga membawa dampak serius pada kondisi mentalnya. Setelah menjalani kehidupan ganda sebagai perempuan dan laki-laki selama berbulan-bulan, Vincent mengalami kelelahan psikologis yang berat.
Ia mengalami depresi hingga akhirnya dirawat di rumah sakit jiwa setelah eksperimen tersebut selesai. Pengalaman itu kemudian ia tulis dalam buku lain yang membahas kehidupan di fasilitas psikiatri.
Refleksi di Hari Perempuan Sedunia
Kisah Norah Vincent sering kembali dibicarakan ketika isu gender menjadi perbincangan publik, termasuk saat peringatan Hari Perempuan Sedunia.
Eksperimen tersebut menunjukkan bahwa pengalaman hidup perempuan dan laki-laki memiliki tantangan masing-masing.
Perbedaan itu tidak selalu sesederhana siapa yang lebih diuntungkan atau dirugikan.
Hari Perempuan Sedunia sendiri menjadi pengingat bahwa perjuangan kesetaraan gender tidak hanya tentang perempuan, tetapi juga tentang memahami pengalaman manusia secara lebih luas—termasuk bagaimana identitas gender membentuk kehidupan seseorang.(yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi