Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Praktik Eksorsisme Masih Dipercaya untuk Melakukan Pengusiran Setan dan Ilmu Hitam di Negara Sekuler

Halo Jember • Jumat, 25 April 2025 | 02:00 WIB
Ilustrasi melakukan praktik eksorsisme (Canva)
Ilustrasi melakukan praktik eksorsisme (Canva)

HALOJEMBER - Di tengah kemajuan teknologi dan dominasi pemikiran rasional di dunia Barat, praktik eksorsis ritual pengusiran roh jahat dari tubuh seseorang—masih terus hidup, bahkan menunjukkan peningkatan. 

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: Apakah eksorsis masih relevan dan dibutuhkan di era modern yang serba ilmiah?

Menurut data dari Asosiasi Internasional Eksorsis (IAE), jumlah imam Katolik yang dilatih secara resmi untuk melakukan eksorsis meningkat dua kali lipat dalam dua dekade terakhir, khususnya di negara-negara seperti Amerika Serikat, Italia, Prancis, dan Spanyol. 

Hal ini berbanding terbalik dengan anggapan umum bahwa masyarakat Barat telah menjauh dari kepercayaan spiritual tradisional.

Gereja Katolik Roma mengakui bahwa permintaan untuk eksorsis meningkat secara signifikan, bahkan di negara-negara yang dianggap sekuler. 

Di Amerika Serikat, Keuskupan Indianapolis mencatat lebih dari 1.700 permintaan eksorsis dalam satu tahun terakhir. 

Sementara di Italia, laporan menyebutkan lebih dari 500 imam kini aktif melakukan ritual pengusiran setan.

“Banyak orang yang merasa bahwa ilmu pengetahuan belum mampu menjawab semua persoalan batin manusia,” kata Pastor Gary Thomas, salah satu eksorsis resmi di California yang juga menjadi konsultan untuk film The Rite (2011). 

“Ketika seseorang mengalami sesuatu yang tak bisa dijelaskan secara logis, mereka akhirnya mencari bantuan rohani," lanjutnya.

Namun di sisi lain, para psikiater dan ilmuwan menyuarakan kekhawatiran terhadap tren ini. 

Mereka menilai bahwa sebagian besar kasus yang dianggap “kerasukan” atau gangguan spiritual sebenarnya merupakan gejala gangguan mental, seperti psikosis, schizophrenia, atau trauma berat.

“Pasien dengan gangguan kejiwaan seringkali menjadi korban mistifikasi,” ujar Dr. Julia Morgan, psikiater di London Mental Health Trust. 

“Alih-alih diberikan terapi dan obat yang tepat, mereka justru dibawa ke ritual eksorsis yang berpotensi memperburuk kondisi mental mereka," lanjutnya.

Banyak kasus di masa lalu menunjukkan bahwa eksorsis bisa berujung pada kekerasan fisik, pengabaian medis, bahkan kematian.  

Salah satu kasus paling kontroversial adalah kematian Anneliese Michel di Jerman pada 1976, yang kemudian menginspirasi film The Exorcism of Emily Rose.

Eksorsis juga memiliki tempat tersendiri dalam budaya pop Barat. Film klasik seperti The Exorcist (1973) hingga serial modern seperti The Exorcist (2016) dan The Conjuring terus menanamkan citra eksorsis sebagai pertempuran heroik melawan kejahatan supranatural.

Menurut Dr. Nathan Carter, dosen kajian media di University of Edinburgh, eksorsis dalam film justru berkontribusi terhadap mitologi seputar kerasukan.

“Eksorsis dalam budaya pop adalah metafora dari pergulatan batin dan trauma,” ujarnya. “Namun bagi sebagian orang, tontonan tersebut memperkuat keyakinan bahwa kekuatan gaib benar-benar ada," lanjutnya.

Polemik eksorsis di Barat kini berada di persimpangan antara kebebasan beragama dan perlindungan terhadap kesehatan mental. 

Beberapa kelompok menyuarakan pentingnya regulasi dan pengawasan terhadap praktik eksorsis, terutama jika dilakukan pada anak-anak atau orang dengan gangguan kejiwaan.

Sementara itu, Gereja Katolik menekankan bahwa eksorsis resmi hanya boleh dilakukan setelah diagnosis medis menyatakan bahwa tidak ditemukan gangguan fisik atau psikologis.

“Eksorsis bukan pengganti pengobatan,” tegas Pastor Thomas. “Kami bekerja sama dengan psikiater dan dokter sebelum memutuskan apakah seseorang benar-benar membutuhkan ritual tersebut," lanjutnya.

Pertanyaan apakah eksorsis masih diperlukan di Barat yang sudah maju secara ilmiah, tidak memiliki jawaban tunggal. 

Bagi sebagian orang, ritual ini adalah jalan keluar terakhir saat pengobatan medis gagal. Bagi yang lain, eksorsis adalah warisan spiritual yang sebaiknya dikaji ulang dan dikritisi secara etis dan ilmiah.

Yang jelas, meski dunia Barat telah dibanjiri oleh logika dan teknologi, ruang untuk hal-hal metafisik dan spiritual tampaknya masih belum benar-benar tertutup. 

Dalam lanskap sosial yang terus berubah, eksorsis tetap menjadi bagian dari diskusi tentang bagaimana manusia memahami penderitaan, kejahatan, dan keselamatan.

 

MG25 Maria Yakomin Angella Unawekla

Editor : Halo Jember
#gereja katolik #ilmu hitam #eksorsisme