Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mengunjungi Langgar Sepuh di Pondok Pesantren Tertua Bondowoso

Halo Jember • Selasa, 19 Maret 2024 | 14:05 WIB
langgar sepuh di Bondowoso (Foto : Radar Ijen)
langgar sepuh di Bondowoso (Foto : Radar Ijen)

HALOJEMBER.COM - Kesan kuno begitu terasa saat memasuki pelataran bangunan itu. Langgar sepuh begitu warga sekitar menyebutnya. Konon usianya nyaris dua setengah abad.

Langgar artinya adalah mushollah atau tempat sholat. Hingga saat ini langgar ini masih aktif digunakan untuk kegiatan keagamaan.

Langgar sepuh berada di wilayah pondok pesantren Nurul Islam. Salah satu pondok pesantren tertua di Bondowoso.

Pondok pesantren ini berdiri sejak tahun 1769 dan menganut pendidikan salaf atau tradisional.

“Bangunan ini sudah berdiri sejak pondok pesantren ini didirikan,” kata Ubaidillah Abdul Halim, salah satu keturunan pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Islam, Desa/Kecamatan Curahdami.

Para santri biasa memanggilnya Lora Ubaid. Dia baru saja selesai mengisi pengajian kitab kuning berjudul Bidayatul Hidayah di Langgar Sepuh.

Photo
Photo

Desain bangunan Langgar Sepuh mirip seperti rumah adat khas Jawa. Ada dua tingkat dengan beda 20 sentimeter.

Tingkat atas adalah inti bangunan dan yang kedua adalah bangunan perluasan. Hampir semua bangunan material bangunan terdiri atas kayu yang kokoh. Mulai dari tiang, alas, hingga kerangka penyangga genteng.

Saat pertama kali dibangun langgar sepuh hanya seluas 6X6 meter. Namun pada 1980 Langgar sepuh diperluas sekitar 20X20 meter karena jumlah santri yang terus bertambah.

Bangunan ini memiliki enam tiang, empat tiang diantaranya sudah ada sejak awal mula didirikan dan tidak pernah diganti. Sementara itu dua tiang dibelakangnya telah diperbaharui.

“Makanya kontur permukaan empat tiang itu masih terlihat kasar dan tidak rata. Beda dengan dua tiang yang belakang, yang sudah halus. Karena dulu memang membuatnya masih pakai metode manual. Bukan pakai mesin seperti sekarang,” celetuk Kholil Nur, paman Ubai.

Editor : Halo Jember
#Musholla #bondowoso