Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

TELEGRAM DARI TUHAN , Cerpen: Erna Winarsih Wiyono

Halo Jember • Jumat, 26 April 2024 | 00:50 WIB

 

Photo
Photo

“Esensi yang sejati dari cinta, yaitu kasih tanpa syarat yang menghubungkan kita sebagai umat manusia.”

Bolehkah aku tetap menunggumu?

Sebaiknya jangan, lanjutkan hidupmu.

Kembalikan aku padaNYA.

Dan aku kembalikan dirimu di imanmu.

 

Sepuluh tahun berlalu Nanda, dan kamu masih rutin berkunjung ke kapel itu?

Jangan bohong!

 

Sampai kapan kamu terkurung dalam bayangan itu?

Sepuluh tahun itu tidak sebentar, dan kau menghabiskan dengan setiamu berdoa di kapel itu, kau mengulang waktu yang sama, hampir di setiap waktu, tidak peduli itu pagi, siang, sore, malam, lalu pagi lagi.

 

Nanda tertegun mendengar Irene yang biasanya pendiam, menjadi kebalikannya. Sepuluh tahun berlalu dan Nanda masih belum move on dari sosok Bejana, pria yang memiliki kedekatan dengannya, menemaninya berdiskusi tentang filsafat dan puisi dari tahun ke tahun. 

 

Bejana yang kerap memakai kemeja lengan pendek dan celana jeans belel. Bejana yang menyentuh hati Nanda dengan sikap humornya, meruntuhkan beting angkuhnya. Bejana anak rantau dari tanah timor yang membuat Nanda luluh dengan cerita perjuangannya. Bejana yang tidak memiliki uang untuk membeli tiket nonton bioskop di waktu weekend, dan menggantinya dengan mengajak Nanda berjalan melihat tarung ikan cupang, lalu menuliskan skor pada lembar kertas yang sudah diberi garis. 

 

Bejana yang jauh dari kesan tampan, berambut ombak dengan kacamata tebal membingkai wajahnya. Keanehan yang dirasakan Irene, kala seorang Nanda menyukai pria dengan tipikal seperti Bejana. 

 

“Irene, aku tahu sepuluh tahun itu lama, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengunjungi kapel itu.”

Bagiku, itu adalah tempat yang penuh kenangan dan rasa sakit, tapi juga tempat di mana aku merasa dekat dengan Bejana.

 

“Tapi Nanda, apakah kamu tidak merasa bahwa kamu terjebak dalam masa lalu? Kamu harus melanjutkan hidupmu dan mencari kebahagiaanmu sendiri. Bejana sudah pergi, dan kamu harus menerimanya.”

 

“Aku tahu, Irene. Tapi sulit bagiku untuk melepaskan semua itu, Setiap kali aku berada di kapel itu, aku merasa seperti Bejana masih ada di sana, mendengarkan doaku, Aku merasa bahwa aku masih dapat berhubungan dengannya di dunia ini.”

 

“Nanda, aku mengerti perasaanmu, tapi kamu harus mencoba untuk melepaskan.”

Bejana sudah pergi, dan kamu harus membiarkannya pergi. Kamu perlu melanjutkan hidupmu dan mencari kebahagiaanmu sendiri.

 

“Aku tahu, Irene. Tapi rasanya sulit untuk melupakan seseorang yang begitu berarti bagiku, Aku akan mencoba, tapi mungkin butuh waktu yang lebih lama bagiku untuk benar-benar move on.”

 

“Aku akan selalu mendukungmu, Nanda. Jika kamu butuh seseorang untuk berbicara atau menemanimu, aku akan selalu di sini untukmu, Kita bisa melalui ini bersama-sama.”

 

“Terima kasih, Irene. Aku sangat menghargainya, Aku tahu kamu selalu ada untukku. Kita akan melalui ini bersama-sama, dan aku berharap suatu hari aku bisa menemukan kebahagiaan yang sejati.”

 

“Aku yakin kamu akan menemukannya, Nanda. Kita semua memiliki masa lalu yang sulit, tapi dengan dukungan dan cinta dari orang-orang di sekitarmu, kamu akan bisa melanjutkan hidupmu dan menemukan kebahagiaan yang sejati.”

 

“Terima kasih, Irene. Kamu adalah teman yang luar biasa. Aku beruntung memiliki kamu di sisiku.”

 

Malam di Rome,

Bulan purnama mendekati pukul 00.00 waktu setempat ...

 

Bejana, dengan hati yang berat, memandangi buku puisi dan sketsa wajahnya yang terjatuh dari lembaran buku itu. Hatinya terasa teriris oleh perasaan campuran antara kebingungan, kehilangan, dan cinta yang masih terpendam. Dia tahu bahwa Nanda akan menikah dengan orang lain pekan depan, dan kini dia harus menghadapi kenyataan itu.

 

Malam itu, Bejana menuju altar doa di kamarnya sebelum tidur. Dia duduk di depan salib, memejamkan mata, dan memulai doanya. Dalam doanya, dia mendoakan Nanda agar bahagia dalam pernikahannya yang akan datang. Meskipun hatinya hancur, dia tidak ingin keegoisannya menghalangi kebahagiaan Nanda.

 

Dalam doanya, Bejana juga memohon kepada Tuhan untuk memberinya kekuatan dan keteguhan hati. Dia menyadari bahwa dia harus tetap setia pada keputusannya untuk menjadi seorang imam Katolik dan hidup selibat sepanjang hidupnya. Meskipun cinta untuk Nanda masih terasa begitu kuat, dia tahu bahwa panggilan rohaninya adalah yang terpenting dalam hidupnya.

 

Dalam keheningan malam, Bejana merenungkan pilihan hidupnya. Dia tahu bahwa jalan yang dia pilih mungkin akan penuh dengan kesulitan dan perjuangan, tetapi dia siap menghadapinya dengan tekad yang bulat. Dia akan tetap setia pada imannya dan melayani Tuhan dengan sepenuh hati.

 

Dengan air mata yang mengalir di pipinya, Bejana mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas cinta yang pernah dia rasakan bersama Nanda. Dia berjanji untuk menjaga kenangan itu di dalam hatinya dan membiarkan cinta itu menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dalam pelayanannya sebagai imam.

 

Setelah berdoa, Bejana merasakan ketenangan yang datang menghampirinya. Dia tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, dan dia siap menghadapinya dengan penuh keyakinan dan keberanian. Dia berharap bahwa Nanda akan menemukan kebahagiaan yang sejati dalam pernikahannya, dan dia akan selalu mendoakannya dari kejauhan.

 

Dalam kegelapan malam, Bejana membiarkan hatinya dipenuhi oleh rasa damai. Dia tahu bahwa dia telah membuat pilihan yang benar, meskipun pahit. Dalam kebersamaan dengan Tuhan, dia merasa diberkati dan dikuatkan untuk melanjutkan perjalanannya sebagai seorang imam Katolik yang setia.

 

Dengan tekad yang bulat, Bejana siap menghadapi hidupnya dengan penuh semangat dan pengabdian. Dia tahu bahwa panggilan rohaninya adalah yang terpenting, dan dia akan menjalaninya dengan sepenuh hati, sambil tetap menyimpan kenangan cinta yang pernah dia rasakan bersama Nanda di dalam hatinya.

 

Dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang imam, Bejana menemui banyak orang yang membutuhkan bimbingan dan dukungan rohani. Dia memberikan nasehat yang bijaksana dan kasih yang tak terbatas kepada mereka yang mencari kedamaian dan pengharapan. Dalam setiap pelayanannya, dia membawa cahaya dan kehangatan kepada mereka yang membutuhkan.

 Meskipun perasaan cintanya masih terpendam dalam hatinya, Bejana menemukan kekuatan dan kebahagiaan dalam melayani Tuhan dan menjalani panggilan rohaninya. Dia tahu bahwa

hidupnya memiliki makna yang mendalam, dan dia siap melanjutkan perjalanan ini dengan penuh keyakinan dan keberanian.

Dalam kegelapan malam, Bejana terus memeluk imannya dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas setiap pengalaman dan kenangan yang pernah dia bagikan dengan Nanda. Dia membiarkan cinta itu menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dalam pelayanannya sebagai imam, mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk melayani Tuhan dan umat-Nya.

“Ya Tuhan, aku datang ke hadapan-Mu dengan hati yang terbuka, Aku merasa terombang-ambing dalam perasaan yang rumit. Aku mencintai Nanda, namun aku juga telah berjanji untuk setia pada panggilan rohani-Mu. Tolong berikan aku petunjuk dan kekuatan untuk melalui perjalanan ini.”

 

Nanda menikah dengan seseorang yang mencintainya dengan tulus, dan mereka membangun kehidupan yang bahagia bersama. Bejana, sebagai seorang imam Katolik yang setia, melanjutkan tugasnya dalam melayani Tuhan dan umat-Nya dengan sepenuh hati.

Meskipun jarak dan waktu memisahkan mereka, Nanda dan Bejana tetap menjaga hubungan persahabatan yang kuat. Mereka saling mendukung dan menghormati pilihan hidup masing-masing, dengan memahami bahwa cinta sejati tidak selalu berarti bersama secara fisik. Mereka terus saling mendoakan dan berbagi kebahagiaan serta kesedihan dalam perjalanan hidup mereka.

 

April’ 2024.

Erna Winarsih Wiyono, seorang Visual Artist, Penulis, Jurnalis, Creative Designer Program Rumah Galeri Kopi Cinta Damai. Karya tulisnya termuat di sejumlah antologi  bersama, dua buku puisi tunggal Tea Without Sugar dan Stasiun Rupa Aksara. Dalam perform panggung  pembacaan puisi, diantaranya di tahun 2017 & 2018 ia mengikuti Women Poetry Slam 2017 & 2018, sebagai rangkaian agenda dari UWRF, Ubud Writers & Readers Festival 2017 & 2018 di Ubud, Bali dan beberapa pembacaan puisi lainnya dalam berbagai event literasi. Ubud Writers & Readers Festival tahun 2017 dan 2018. Selain menulis, perform, dia juga terlibat dalam berbagai pameran lukis, termasuk “Postcards From Indonesia Series 1” di Swiss dan “Kunst in der Kapelle” di BadenART exhibition 2023.

 

Editor : Halo Jember
#opini #gereja #jember #cerpen #cinta #cerpen bagus