HALO JEMBER - Setiap kata dalam puisi memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati dan pikiran, dan pada Festival Pesantren Tebuireng 2024, kekuatan ini diperlihatkan secara memukau oleh dua penyair nasional, D'Zawawi Imron dan Fileski.
Acara Mimbar Penyair menjadi medan magis di mana kata-kata menjadi jembatan antara realitas dan imajinasi. Di atas panggung, Fileski memulai pertunjukan sastra dengan resital puisi yang disertai dengan permainan instrumen ocarina, menciptakan suasana yang menghipnotis dan memukau.
Puisi-puisinya membawa para hadirin dalam perjalanan eksistensial, dari "Sebuah Cerita di Kereta" yang menggambarkan dinamika kehidupan, hingga "Ilmu Seorang Santri" yang menyentuh isu-isu pendidikan dengan ketajaman yang menyegarkan.
Namun, keajaiban tidak berhenti di situ. D'Zawawi Imron, penyair nasional yang dikenal luas, juga turut meramaikan panggung dengan kehadirannya yang mempesona. Bersama para penyair lokal Tebuireng, mereka mengukir cerita-cerita dari sudut pandang yang berbeda-beda, menyentuh aspek-aspek kehidupan yang mendalam seperti pendidikan, kemanusiaan, dan cinta.
Mimbar Penyair juga dimeriahkan oleh beberapa penyair dari Tebuireng. Mereka membacakan puisi-puisi karya mereka yang sarat makna, menyentuh berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, kemanusiaan, dan cinta.
Di antara para penyair Tebuireng yang turut berkontribusi adalah Prof. Dr. H. Abd. Haris, M.Ag, Chamim Kohari, HM. Ghufron Rofii, HM. Nasruddin Anshoriy, Dr. Khoirul Anwar, Martina Susanti, M. Faizi, M. Iqbal Sapujagad, Madiana Aliyatul Hima, dan para penyair muda santri Tebuireng.
Tidak hanya sebagai ajang apresiasi seni sastra, Festival Pesantren Tebuireng 2024 menjadi wadah yang memperkaya wawasan dan pengalaman bagi semua pesertanya. Melalui kekuatan kata-kata, Fileski, D'Zawawi Imron, dan para penyair lainnya telah berhasil menciptakan sebuah pesta sastra yang tak terlupakan, memberikan warna baru dalam panorama sastra Indonesia. /Ayu ksd.
Baca Juga: Merah yang Indah, Puisi Santri Ponpes Baitul Arqom, Balung-Jember.
Dalam jombang.nu.or.id, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfud atau yang akrab dipanggil dengan Gus Kikin memberikan amanah yang berkaitan dengan halal bi halal dalam forum Festival Pondok Pesantren Tebuireng.
Baca Juga: Daftar Peringatan Haul yang Sedot Jamaah
Menurutnya, Halal bi halal yang kini disebut dengan forum festival menunjukkan bahwa Tebuireng tingkat alumninya semakin tinggi dan terus mengikuti perkembangan zaman.
“Dulu zamannya halal bi halal kemudian sekarang berubah zamannya menjadi festival. Akan tetapi halal bi halal sendiri masih perlu kita pertahankan pada forum yang berbeda,” jelas Gus Kikin, Sabtu (4/05/2024).
Rangkaian kegiatan Festival Pesantren Tebuireng digelar selama 4 hari. Sebab, terdapat 19 acara. Mulai dari Halal bi Halal hingga Tahlil Akbar Masyayikh.
"Ini merupakan waktu yang yang cukup lama. Namun, Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Nah ini memang patut kalau disebut festival karena melibatkan senior-senior serta sesepuh-sesepuh Ikatan Alumni Pesantren Tebuireng.
“Salah satu tujuan dari diadakannya festival silaturahim ini adalah berkumpul. Kalau dulu kita memaknai silaturahim itu kumpul-kumpul, ketemu dan bergembira, kemudian makan bareng. Sekarang mungkin maknanya akan berbeda. Tidak lain karena belakangan ini kita mulai menggali apa saja yang ditinggalkan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari,” ujarnya.
Perjalanan sejarah Hadratussyekh mulai dari pendirian Pondok Tebuireng hingga bagaimana ia menghadapi begitu banyak apa intervensi-intervensi untuk memecah belah umat Islam. Yang perlu diingat dari perjuangannya adalah ia sangat sabar mempertahankan Islam agar tidak terpecah belah.
“Kita merujuk kepada apa yang ditinggalkan dan apa yang sudah dilakukan oleh Hadratussyekh. Beliau membangun ukhuwah itu tujuannya adalah mencari Ridha Allah,” tutur Gus Kikin.
Gus Kikin menceritakan bahwa Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari memberi catatan tentang tujuan dari ukhuwah.
"Menjaga ukhuwah adalah satu perintah yang sangat suci dan indah. Karena kalau dijalani, modalnya adalah silaturahim. Mudah-mudahan semangat beliau serta ilmu-ilmu yang diwariskan dengan ridha Allah menjadikan kegiatan ini bermanfaat fidini wad dunya wal akhirah,” pungkasnya.
Baca Juga: Haul Tempel atau Haul Habib Ahmad 2024, Berikut Jadwalnya.
Editor : Halo Jember