HALO JEMBER - Film “Sekawan Limo” rilis pada 4 Juli kemarin, dengan latar Gunung Madyopuro, meski fiktif, menjadi latar seru bagi kisah Sekawan Limo. Salah satu mitos terkenal adalah larangan mendaki dengan jumlah rombongan ganjil.
Kalau nekat mendaki dengan jumlah ganjil, siap-siap aja menghadapi berbagai gangguan misterius! Nah, dalam film ini, Bagas (diperankan oleh Bayu Skak) dan empat temannya tetap nekat mendaki meski hanya berlima.
Sekawan Limo bercerita tentang perjalanan mendaki Gunung Madyopuro Baca Juga: Misteri Gunung Panderman. Ketinggiannya Hanya 2.045 Mdpl Sama dengan Gunung Madyopuro oleh Bagas bersama Lenni, Dicky, Juna, dan Andrew. Saat memulai pendakian, mereka mengabaikan dua peringatan penting dari penjaga pos yaitu tidak menoleh ke belakang dan rombongan harus berjumlah genap. Menurut mitos, melanggar larangan ini bisa membuat makhluk gaib ikut dalam rombongan.
Sepanjang perjalanan, mereka sering dihantui oleh makhluk halus dengan berbagai bentuk. Meski begitu, mereka tetap semangat menuju puncak, meski menghadapi berbagai rintangan.
Seriring dengan gangguan yang terus muncul selama perjalanan, kecurigaan mulai muncul di antara mereka, apakah salah satu dari mereka adalah hantu yang menyamar? Keadaan makin rumit saat mereka tersesat di malam 1 Suro. Baca Juga: Waspada Sengkolo di Malam Satu Suro, Kenali Sosoknya Lewat Film Horor Sengkolo Malam Satu Suro
Situasi makin seram dengan kehadiran makhluk halus yang terus mengikuti mereka. Akhirnya, mereka menyadari bahwa salah satu dari mereka memang bukan manusia, melainkan hantu.
Sekawan artinya empat, dan limo artinya lima. Jika kita berlima sekarang ini, berarti satu dari kita bukan manusia (dialog dalam film Sekawan Limo).
Siapa yang ternyata hantu di antara mereka? Penasaran? Tonton filmnya di bioskop!
Larangan Gunun Lawu dan Gunung Semeru
Indonesia, sebuah negara yang kaya akan kekayaan alam yang melimpah. Dengan lebih dari 17.000 pulau yang tersebar di seluruhnya, Indonesia memiliki gunung-gunung yang sangat banyak dan beragam.
Salah satu keunikan yang dimiliki oleh gunung-gunung di Indonesia adalah adanya aturan yang melarang pendaki untuk naik gunung dengan jumlah ganjil dan menoleh ke belakang. Aturan ini berlaku di berbagai gunung di Indonesia, termasuk Gunung Lawu dan Gunung Semeru di Jawa Timur.
Mitos Larangan di Gunung Lawu
- Larangan Mendaki dalam Jumlah Ganjil
Masyarakat setempat percaya bahwa mendaki dalam jumlah ganjil dapat digenapkan oleh makhluk gaib atau kekuatan supranatural lainnya. Oleh karena itu, para pendaki diharapkan untuk mendaki dalam jumlah genap untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
- Larangan Memakai Baju Hijau
Dipercaya bahwa memakai pakaian berwarna hijau dapat mengundang gangguan atau kejadian tidak diinginkan selama perjalanan di Gunung Lawu. Hal ini terkait dengan kaitannya dengan Ratu Pantai Selatan alias Nyi Roro Kidul, yang diyakini akan menculik siapa pun yang menggunakan pakaian hijau.
- Larangan Memakai Pakaian dengan Motif Mrutu Sewu
Motif mrutu sewu dianggap sebagai tindakan yang melanggar aturan, karena diyakini dapat mengundang gangguan atau kejadian tidak diinginkan selama perjalanan di Gunung Lawu. Hal ini karena motif tersebut akan terlihat samar saat berada di antara pepohonan, sehingga jika si pemakai tersesat akan sulit ditemukan.
- Larangan Berniat Buruk
Pendaki yang naik ke Gunung Lawu tidak boleh berniat buruk. Sebab, selama ini gunung tersebut masih sering dipakai untuk kegiatan spiritual. Para pendaki diharapkan untuk menikmati proses perjalanan mendaki agar mendapat bonus sampai ke puncak.
- Larangan Berbicara dengan Kata-Kata Kasar
Gunung Lawu diyakini mempunyai nyawa sehingga bisa mendengar perkataan manusia. Oleh karena itu, para pendaki diingatkan untuk menjaga sopan santun, tidak merusak alam, dan tidak mengucapkan kata-kata kasar. Hal ini karena beberapa kasus kejadian beberapa pendaki hilang atau tersesat di gunung Lawu, yang diyakini terkait dengan perilaku kurang sopan.
Larangan di Gunung Semeru
- Larangan Menoleh Ke Belakang
Pendaki juga dilarang menoleh ke belakang saat melewati Tanjakan Cinta. Menoleh ke belakang di Tanjakan Cinta diyakini akan memutuskan cinta. Dulu, ada dua sejoli yang menoleh ke belakang dan akhirnya putus cinta.
- Larangan Mandi di Danau Ranu Kumbolo
Pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melarang pendaki mandi di Danau Ranu Kumbolo. Alasan utamanya adalah karena air di danau dianggap suci oleh masyarakat suku Tengger, dan suhu airnya yang sangat rendah dapat menyebabkan kram dan bahkan kematian jika pendaki nekat menceburkan diri.
- Larangan Memancing di Ranu Kumbolo
Selain larangan mandi, para pendaki juga dilarang memancing atau menangkap ikan di Ranu Kumbolo. Konon, ada seekor ikan mas titisan seorang dewi yang bertugas menjaga danau ini, sehingga kegiatan memancing dianggap tidak boleh dilakukan.
- Larangan Mendirikan Tenda di Ranu Kumbolo
Tidak hanya mandi dan memancing, para pendaki juga dilarang mendirikan tenda di dekat Ranu Kumbolo. Hal ini karena air danau ini dianggap suci dan harus dijaga kesuciannya.
Itulah beberapa larangan dan mitos yang sering kali kita dengar saat mendaki gunung, seperti yang digambarkan dalam film Sekawan Limo, termasuk Gunung Lawu dan Gunung Semeru. Meskipun terdengar menakutkan, mitos-mitos ini menambah warna dalam petualangan mendaki.
Baca Juga: Habib Alwi bin Ali Al Habsyi, Anak Bungsu Habib Ali Solo, Diminta Wisata Hati ke Pulau Jawa
Mendaki gunung tidak sehoror pengalaman Bagas dan teman-temannya dalam film "Sekawan Limo". Film garapan Bayu Skakini telah mencapai satu juta penonton. Gimana nih, sudah nonton "Sekawan Limo" belum?
Penulis: Sufi Binti Khofifah
Baca Juga: Jumat Kliwon, Bukan Hari Horor. Tapi Punya Weton Spesial. Weton Idu Geni
Editor : Dwi Siswanto