Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mitos Segoro Getih, Larangan Pernikahan Antar Tetangga Masyarakat Jawa

Dwi Siswanto • Senin, 22 Juli 2024 | 02:26 WIB
Ilustrasi pernikahan (Radar Jombang)
Ilustrasi pernikahan (Radar Jombang)

HALO JEMBER - Mitos Segoro Getih, yang juga dikenal sebagai mitos larangan perkawinan yang masih dipercayai oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. Khususnya Jawa

Mitos Segoro Getih untuk namun, di Gresik mitos ini dikenal dengan nama “Gotong Dalan”. Dan berhubungan dengan larangan perkawinan antara orang-orang yang rumahnya bersebrangan jalan.

Mitos menikahi seseorang yang rumahnya berada di seberang sungai atau laut, yang disebut sebagai segoro getih.

Berikut adalah penjelasan lengkap tentang asal usul dan implikasinya. Baca Juga: Manfaat Purwaceng, Tanaman Asal Dieng yang Dipercaya Berkhasiat untuk Laki-Laki.

Asal Usul Mitos Segoro Getih

Mitos Segoro Getih berasal dari kejadian di masa lalu di mana terjadi sepasang kemanten yang berhubungan dengan salah seorang keluarganya. Dalam cerita ini, sepasang kemanten tersebut membawa beras yang diharapkan dapat memberikan rezki yang halal.

Mitos ini juga dikaitkan dengan petuah nenek moyang yang tidak tertulis tapi diyakini kebenarannya. Menurut beberapa sumber, mitos ini muncul karena suatu kejadian di mana sepasang kemanten tersebut membawa beras yang diharapkan dapat memberikan rezki yang halal.

Mitos Segoro Getih memiliki implikasi yang signifikan dalam kehidupan masyarakat. Mitos ini mengatur bagaimana calon pasangan harus menentukan kriteria mereka. Selain berdasarkan doktrin agama, penentuan kriteria calon pasangan juga didasarkan pada petuah nenek moyang.

Petuah ini diyakini sebagai kebenaran dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Implikasi dari mitos ini adalah bahwa jika larangan ini dilanggar, maka rumah tangganya tidak akan bahagia dan akan mendapatkan banyak rintangan.

Jika tetap melaksanakan pernikahan meskipun termasuk dalam “Segoro Getih,” masyarakat yang mempercayai mitos ini percaya bahwa rumah tangganya tidak akan bahagia dan akan mendapatkan banyak rintangan.

Mereka juga percaya bahwa kehidupan rumah tangganya akan selalu bertengkar dan akan mendapat musibah-musibah. Hal ini berdasarkan petuah nenek moyang yang diyakini sebagai kebenaran dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil Penelitian 

Dalam penelitian Fitriyah, Lailiyatul (2016) Universitas Negeri Islam Maulana Malik Ibrahim, Pandangan tokoh masyarakat terhadap mitos “nyebrang segoro getih” : Studi tradisi di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Menjelaskan, nyebrang segoro getih adalah mitos yang berlaku dalam masyarakat adat yang mengakibatkan larangan perkawinan antara laki-laki dan perempuan karena berhadapan rumah.

Masyarakat Desa Pandanrejo masih mempercayai mitos tersebut, jika perkawinan tersebut dilangsungkan akan mengakibatkan suatu ancaman seperti sakit-sakitan dan sulit untuk disembuhkan dengan obat.

Oleh karena itu, jika ada yang melanggar mitos tersebut maka harus ada ritual-ritual yang harus dilakukan agar hal yang menjadi ancaman tidak terjadi dalam keluarga mempelai.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Mitos Nyebrang Segoro Getih sudah ada sejak zaman nenek moyang. Mitos ini termasuk peninggalan dari ajaran Hindu.

Dalam mitos ini terdapat dua pandangan tokoh masyarakat, pertama masyarakat meyakini terhadap tradisi perkawinan Nyebrang Segoro Getih. Kedua masyarakat yang tidak meyakini tradisi ini dikarenakan semua tergantung kepada keyakinan.

Penulis: Sufi Binti Khofifah

Editor : Dwi Siswanto
#mitos segoro getih #kriteria calon pasangan #larangan perkawinan #mitos menikah #rezeki yang halal