HALOJEMBER.COM - Pelet sering kali digunakan untuk berbagai tujuan, salah satunya adalah untuk memikat hati lawan jenis. Di Jawa, terdapat beberapa jenis pelet yang sangat terkenal, antara lain jaran goyang dan semar mesem.
Namun, selain dari Jawa, ada juga jenis pelet lain yang berasal dari Pulau Lombok, yaitu senggenger. Pelet ini memiliki cara dan ritual khusus yang dipercaya mampu membuat seseorang terpikat dan jatuh cinta.
Senggeger, atau yang lebih dikenal sebagai "pelet," adalah sebuah budaya turun-temurun yang sangat sakral bagi masyarakat Sasak di Lombok.
BACA JUGA: Misteri Ritual Pesugihan Menikah dengan Jin di Gunung Salak Untuk Cari Kekayaan
Pelet ini merupakan sebuah mantra yang digunakan untuk mencapai berbagai keinginan, termasuk memikat hati wanita.
Budaya ini telah dilestarikan hingga saat ini dan dianggap sangat efektif karena kekuatan gaib yang terkandung di dalamnya.
Pelet ini digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk memikat hati wanita, menarik perhatian orang lain, dan bahkan untuk keperluan magis.
BACA JUGA: Asal Muasal Kata Jamu. Minuman Indonesia Mendunia. UNESCO Mengakuinya
Pelet ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu: senggeger aliran putih dan senggeger aliran hitam. Senggeger aliran putih digunakan untuk memperoleh kasih sayang dan dicintai banyak orang, sedangkan senggeger aliran hitam digunakan untuk menaklukkan hati wanita.
Proses pembuatan senggeger sangat ritualistik dan membutuhkan bahan-bahan yang sering ditemui di dapur. Bahan-bahan tersebut meliputi merica, pala, lada, kelapa hijau, bunga tembakau, cengkeh, kunyit, jahe, dan kayu manis.
BACA JUGA: Hewan Menjijikan Muncul di Rumah? Waspada Bisa Jadi Kena Guna-guna
Proses pengolahan senggeger melibatkan pembacaan asma (nama-nama Allah) dan ayat-ayat Alquran. Selain itu, proses ini harus dilakukan pada waktu yang tepat, seperti malam Jumat pada tanggal 12 bulan Maulid atau bulan Syawal.
Istilah "Senggeger" berasal dari kata dasar "geger" yang dalam bahasa Indonesia, "geger" berarti senang atau gembira. Oleh karena itu, Senggeger bisa diterjemahkan sebagai “alat untuk membahagiakan.”
Beberapa jenis ajian atau ilmu mantra yang digunakan oleh suku Sasak pada zaman dahulu meliputi ajian Setumbal dan Senggeger.
Ajian Setumbal digunakan untuk mengelabui pandangan seseorang, membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas atau membuatnya bingung. Sementara itu, ajian Senggeger digunakan untuk menarik perhatian lawan jenis, membuatnya tertarik atau terpikat.
Beberapa jenis senggeger diantaranya adalah:
- Pelet Tojang Andong Andos
Ajian ini termasuk dalam kategori Senggeger dan menggunakan minyak sebagai media. Dikenal sejak zaman kerajaan Pejanggik, ilmu ini merupakan andalan dari seorang tokoh bernama Demung Pena, yang mewarisi ilmu tersebut dari Datu Pena, Arya Pena.
"Masku dalem kurungan, mas lunta aran aku, mas marsah aran kamu, dan seterusnya"
- Senjerit Ulah Lapang
Ajian ini termasuk dalam ilmu kedigdayaan dan digunakan untuk menakut-nakuti orang yang sedang kita tatap. Setelah membaca mantra ini, konon, orang yang kita tatap akan merasa takut seperti takutnya pada ular atau kodok besar. Mantra ajian ini adalah:
"Denna momot melingken, Ndakna gomen nyenyatok, Hawas gentiqku otakmek sik otak bajo, pook belang, tel-tetuntel tuntel, Besebo bawak tengkulak dan seterusnya."
Mantra ini harus dibaca dalam satu tarikan nafas sambil menatap tajam ke arah orang yang dituju.
- Senggeger Lindur Segumi
Ajian ini juga berfungsi untuk menarik lawan jenis, namun berbeda dengan Pelet Tojang Andong Andos yang menggunakan media minyak, Senggeger Lindur Segumi menggunakan media suara. Mantra dari ajian ini adalah:
"Nabi Daud Kang Wa Raras, Sepi Gumi Milu Nangis, Angin Deres Pulang Gedong, Angin Terunggu Suarangku. Dan seterusnya."
Setelah membaca mantra ini, Anda harus menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan dengan mantra tambahan yang berbunyi:
"Cubit-cubitan oh cubit-cubitan senggol-senggolan oh senggol-senggolan, kantong-kantongan oh kantong tebelan, pook belang."
Mantra tambahan ini memberikan sentuhan yang lebih nyeleneh dalam penggunaan ajian ini.
Penulis: Sufi Binti Khofifah
Editor : Halo Jember