Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Waspada! Gempa Megathrust Berpotensi Terjadi di Indonesia, BMKG Sebut ‘Tinggal Tunggu Waktu’

Halo Jember • Jumat, 16 Agustus 2024 | 03:43 WIB
Seismografi. Foto: Jawa Pos
Seismografi. Foto: Jawa Pos

HALOJEMBER.COM - Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beri peringatan mengenai gempa megathrust. Masyarakat dihimbau untuk menunggu waktu terjadinya gempa megathrust yang mengguncang Indonesia.

Gempa dengan skala besar yang dapat memicu terjadinya tsunami itu memiliki potensi terjadi di dua megathrust Indonesia.

BMKG menyebutkan bahwa ada kekhawatiran dari ilmuwan Indonesia terhadap Megathrust Selat Sunda M 8.7 dan Megathrust Mentawai-Siberut M 8.9.

Sebab, dua megathrust tersebut cukup lama tidak melepaskan energi besarnya.

Gempa bumi megathrust berasal dari zona megathrust yang merupakan bagian dangkal suatu lajur di zona subduksi yang memiliki sudut tukik yang landai.

Megathrust adalah wilayah pertemuan antara lempeng tektonik bumi yang dapat memicu terjadinya gempa dengan skala besar bahkan tsunami.

Perkiraan dari para pakar, megathrust bisa saja pecah berkali-kali. Namun, waktunya bisa terjeda hingga ratusan tahun.

Zona megathrust merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut jalur subduksi lempeng bumi yang sangat panjang tapi cukup dangkal.

Gempa tersebut digambarkan dengan menumpuknya lempeng bumi yang mana lempeng bagian bawah mendorong lempeng yang ada di atasnya.

Zona megathrust hanyalah istilah untuk menyebutkan sumber gempa tumbukan lempeng yang ada di kedalaman dangkal.

Lempeng yang menunjam ke bawah lempeng benua akan membentuk tegangan (stress) di bidang kontak antarlempeng. Kemudian, pergeserannya secara tiba-tiba akan menyebabkan gempa.

Ketika terjadi gempa, bagian lempeng benua yang ada di atas lempeng samudra bergerak terdorong naik (thrusting). Dengan demikian, gempa berskala besar tersebut dapat memicu tsunami.

Daerah yang termasuk zona megathrust Indonesia ada tiga yakni subduksi Sunda yang mencakup Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.

Kemudian ada subduksi Banda, subduksi Lempeng Laut Maluku, subduksi Sulawesi, subduksi Lempeng Laut Filipina, dan subduksi Utara Papua.

Selain itu, terdapat tiga segmentasi megathrust di Samudera Hindia selatan Jawa. Yakni segmen Jawa Timur, segmen Jawa Tengah-Jawa Barat, dan segmen Banten-Selat Sunda. Magnitudo yang dimiliki segmen ini ditargetkan sebesar M 8.7 yang dapat berpotensi gempa besar.

Dengan demikian, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengungkapkan bahwa terdapat kekhawatiran Seismic Gap Megathrust Selat Sunda M 8.7 dan Meghatrust Mentawai Siberut M 8.9.

Sebab, zona sumber gempa cukup berpotensi tetapi selama ratusan tahun belum mengalami gempa berskala besar.

"Rilis gempa di kedua segmen megathrust ini boleh dikata 'tinggal menunggu waktu', karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar," ungkap Daryono, pada Selasa (13/8).

Masyarakat dihimbau untuk tidak khawatir karena BMKG sudah mempersiapkan sistem monitoring, prosesing, dan diseminasi informasi gempa bumi. Serta peringatan dini tsunami yang semakin cepat dan akurat.

Terdapat sistem InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) milik BMKG yang dapat digunakan untuk memberikan informasi tentang gempa bumi dan peringatan dini tsunami di seluruh wilayah Indonesia secara cepat.

BMKG juga sudah melakukan upaya lain seperti memberi edukasi, pelatihan mitigasi, drill, serta evakuasi tsunami kepada para instansi terkait, masyarakat, pengusaha wisata pantai, serta industri pantai dan infrastruktur kritis pelabuhan dan bandara pantai.

Penulis: Delia Enggar Sugiana

Editor : Halo Jember
#indonesia #gempa #megathrust