HALOJEMBER.COM - Kekhawatiran mengenai pernikahan dalam masyarakat semakin perlu mendapat perhatian. Mulai dari kekhawatiran terhadap anak perempuan yang dikenal sebagai "paraban tuah" atau perawan tua hingga fenomena pernikahan anak yang masih dapat kita saksikan.
Salah satu masalah pernikahan lainnya yang ada dalam masyarakat Madura adalah "Tako’ Sangkal," sebuah mitos yang dipercaya oleh masyarakat Madura bahwa menolak lamaran akan membuat seorang perempuan sulit menikah, atau dalam istilah yang lebih keras, tidak laku.
Seolah-olah perempuan adalah barang yang diperjualbelikan, namun itulah bahasa yang digunakan masyarakat untuk menggambarkan perempuan yang belum menikah.
Sangkal, suatu istilah yang berarti 'tertolak'. Dalam mitos Madura, sangkal sering kali dikaitkan dengan seorang gadis yang tidak segera menikah pada usia yang seharusnya.
Mitos “Tako’ Sangkal” ini dipercaya oleh masyrakat Madura ketika menolak lamaran akan membuat sang Perempuan tidak akan menikah atau tidak laku. Maka dari itu, jika seorang gadis Madura belum menikah pada usia lebih dari 25 tahun, ia akan mulai dicurigai sebagai gadis sangkal.
Bagi perempuan yang lahir dan besar di Madura, mitos “takok sangkal” ini menjadi patokan hidup yang begitu penting dalam tatanan masyarakat.
Keadaan sangkal pada seorang gadis dapat mengindikasikan beberapa hal berikut:
- Menolak setiap kali ada yang melamar.
- Putus setiap kali bertunangan.
- Calon pasangannya meninggal sebelum mereka menikah.
Terlepas dari benar atau tidaknya mitos ini, hingga saat ini istilah sangkal masih cukup melekat dalam fenomena sosial masyarakat Madura, dan menjadi persepsi umum bahwa seorang gadis disebut sangkal ketika teman-teman seusianya sudah menikah, sementara ia belum bertemu jodoh.
Biasanya, beberapa upaya dilakukan oleh para tetua untuk menghindari kesangkalan ini. Salah satunya adalah tidak menolak lamaran pertama untuk anak gadisnya. Siapapun yang melamar, lamaran pertama jika ditolak, diyakini akan membawa kesangkalan bagi si gadis di kemudian hari.
Sehingga, meskipun si pelamar dan keluarganya dianggap tidak sesuai dengan harapan, menerima lamaran tersebut menjadi keharusan. Dalam situasi ini, orang tua gadis tidak memandang bobot bibit dan bebetnya; lamaran tetap harus diterima.
Biasanya, keluarga si gadis yang menerima lamaran pertama demi menolak sangkal ini telah memiliki rencana untuk membatalkan pertunangan. Bagaimana caranya? Bisa dengan menunda waktu pernikahan, menolak ajakan menikah dari pihak laki-laki, sehingga pertunangan itu batal.
Istilah "bhakal bhurung bhakal tolos" (tunangan gagal, tunangan gagal) di Madura menunjukkan bahwa ikatan pertunangan bukanlah sesuatu yang harus diakhiri dengan pernikahan. Dalam pandangan masyarakat Madura, pertunangan bisa berlanjut ke pernikahan (tolos), tetapi juga bisa putus (bhurung).
Inilah celah yang dijadikan solusi oleh orang tua yang menerima lamaran pertama untuk anak gadisnya demi menghindari sangkal.
Ada juga pandangan bahwa jika tunangan pertama meninggal dunia, maka si gadis akan mengalami kesangkalan di kemudian hari jika ia tidak dimandikan di atas makam tunangannya setelah kematian sang tunangan.
Ritual mandi kembang ini dipercaya untuk menolak kesangkalan. Berbagai jenis bunga dimasukkan dalam wadah terbuat dari tanah liat dan dicampur dengan air yang telah didoakan demi menolak kesangkalan si gadis karena tunangan pertamanya meninggal dunia.
Namun, di antara mitos-mitos terkait sangkal ini, yang paling kuat adalah mitos sangkal terkait perjodohan. Sudah menjadi hal yang umum jika seorang gadis yang dianggap telah melewati usia emasnya untuk menikah tetapi belum menikah, ia akan divonis sebagai sangkal. Orang-orang akan mencari alasan untuk menjelaskan kesangkalannya.
Apakah sangkal hanya berlaku bagi anak gadis? Di Madura, tidak lazim bagi seorang gadis untuk melamar lebih dulu seorang pria. Hal ini dianggap merendahkan martabat perempuan. Apalagi jika lamaran itu ditolak.
Meskipun diterima, pembicaraan tentang 'perempuan melamar terlebih dahulu' akan terus melekat dan menjadi stigma yang merendahkan perempuan. Dari fenomena sosial inilah, mitos sangkal lebih banyak diterapkan pada anak gadis.
Apakah mitos ini merugikan? Secara umum, mitos sangkal tidak langsung merugikan seseorang. Khususnya bagi seseorang yang berpikir maju, memiliki wawasan dan pengalaman luas, tidak akan begitu saja terpengaruh oleh mitos ini.
Seorang gadis yang cukup dewasa untuk menemukan jodohnya tetapi belum juga berjodoh, namun memiliki pendidikan dan pengalaman yang cukup, tidak akan merasa rendah diri dengan keadaan dirinya yang belum menikah. Bisa jadi ia tidak peduli dengan penilaian orang bahwa dirinya sangkal.
Meski demikian, hingga kini, bagi sebagian orang Madura, mitos sangkal ini masih dianggap berlaku. Dalam beberapa kondisi yang dirasionalisasikan dengan kesangkalan, sebagian besar orang tetap percaya bahwa sangkal ini nyata, lebih dari sekadar persepsi. Demikianlah tradisi mitos sangkal yang masih bertahan di masyarakat Madura.
Penulis: Sufi Binti Khofifah
Editor : Halo Jember