Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Sejarah Singkat Asal Usul Mitos Larangan Orang Sunda Menikah dengan Orang Jawa

Halo Jember • Kamis, 19 September 2024 | 04:44 WIB

 

Ilustrasi Hayam Wuruk (Pinterest)
Ilustrasi Hayam Wuruk (Pinterest)

HALOJEMBER.COM - Mitos larangan orang Sunda menikah dengan orang Jawa adalah salah satu cerita yang cukup populer di masyarakat Indonesia, terutama di kalangan masyarakat Sunda dan Jawa.

Mitos ini berkembang dari cerita sejarah yang kemudian diinterpretasikan dengan berbagai cara oleh generasi berikutnya.

BACA JUGA: Kenal Abah Guru Sekumpul? Berikut Sikap Tauladan Guru Sekumpul yang Patut untuk Dicontoh

Untuk memahami asal-usulnya, perlu dilihat dari sudut pandang sejarah hubungan antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit, serta faktor budaya yang berkembang di masyarakat.

Sejarah Hubungan Kerajaan Sunda dan Majapahit

Mitos ini sering dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi pada masa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara, khususnya antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.

BACA JUGA: Mengungkap Misteri Orang Bunian: Legenda dari Sumatera

  1. Peristiwa Perang Bubat (1357 M)

Mitos ini banyak dikaitkan dengan Perang Bubat, yang merupakan salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Kerajaan Sunda dan Majapahit.

Berdasarkan naskah sejarah, terutama Pararaton dan Kidung Sunda, peristiwa ini berawal dari niat pernikahan antara putri Kerajaan Sunda, yaitu Dyah Pitaloka Citraresmi, dengan Raja Majapahit, Hayam Wuruk.

Raja Majapahit, Hayam Wuruk, tertarik untuk mempersunting Dyah Pitaloka, putri cantik dari Kerajaan Sunda.

BACA JUGA: Siulan Malam Hari Cara untuk Memanggil Setan, Mitos atau Fakta

Persuntingan tersebut bertujuan untuk mempererat hubungan diplomatik kedua kerajaan. Maharaja Sunda, Sri Baduga Maharaja, menerima lamaran tersebut dan berangkat ke Majapahit untuk mengantarkan putrinya.

Namun, ketika rombongan dari Sunda tiba di Bubat (dekat wilayah Majapahit), Gajah Mada, Patih Majapahit, memandang pernikahan ini sebagai kesempatan untuk menguasai Kerajaan Sunda.

Gajah Mada bersikeras bahwa putri Sunda harus diperlakukan sebagai tanda takluknya Sunda kepada Majapahit, bukan sebagai pernikahan biasa.

Akibat perbedaan pandangan ini, terjadi konflik antara rombongan Sunda dan pasukan Majapahit di Bubat yang berujung pada perang. Dalam perang tersebut, seluruh rombongan dari Sunda, termasuk raja dan para prajurit tewas. Dyah Pitaloka, merasa terhina dan melakukan belapati (bunuh diri demi kehormatan).

 BACA JUGA: Abah Guru Sekumpul Berikan Amalan dengan Pahala Lebih Besar dari pada Ibadah Seumur Hidup

  1. Dampak Perang Bubat

Tragedi ini menimbulkan luka yang mendalam bagi rakyat Sunda, dan rasa permusuhan terhadap Majapahit pun muncul. Peristiwa ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap kehormatan Kerajaan Sunda.

Narasi ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Sunda.

Munculnya Mitos Larangan Pernikahan

Seiring berjalannya waktu, cerita tentang Perang Bubat diinterpretasikan secara mitologis oleh masyarakat.

Salah satu bentuk interpretasi tersebut adalah munculnya mitos larangan orang Sunda menikah dengan orang Jawa.

Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan munculnya mitos tersebut:

  1. Rasa Luka Sejarah

Peristiwa Perang Bubat dianggap sebagai simbol penghinaan terhadap Sunda oleh Majapahit. Masyarakat Sunda menilai bahwa mereka pernah dikhianati oleh orang Jawa (Majapahit).

Sehingga muncul anggapan bahwa pernikahan antara Sunda dan Jawa membawa kesialan atau nasib buruk. Peristiwa ini menjadi sumber mitos yang diwariskan secara lisan.

BACA JUGA: Mitos Tako’ Sangkal Masyarakat Madura. Benarkah Menolak Lamaran Jadi Penyebab Perempuan Tidak Laku?

  1. Kesenjangan Budaya dan Identitas

Selain faktor sejarah, kesenjangan budaya antara masyarakat Sunda dan Jawa juga turut memperkuat mitos ini.

Masyarakat Sunda memiliki identitas budaya yang berbeda dengan orang Jawa, baik dalam bahasa, adat istiadat, maupun nilai-nilai sosial.

Hal ini memperkuat persepsi bahwa pernikahan antara orang Sunda dan Jawa bisa menimbulkan konflik atau ketidakcocokan.

  1. Penyederhanaan Sejarah Menjadi Mitos

Seperti halnya banyak peristiwa sejarah lainnya, Perang Bubat kemudian disederhanakan dalam bentuk mitos yang mengatakan bahwa “orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa.”

Ini adalah salah satu bentuk perlindungan budaya, di mana masyarakat Sunda mencoba melindungi identitas mereka dari pengaruh budaya luar, termasuk dari Jawa.

Realitas Masyarakat Modern

Pada kenyataannya, mitos ini lebih bersifat kultural dan simbolis, serta tidak memiliki dasar hukum atau kepercayaan yang kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang Sunda dan Jawa yang menikah dan hidup bahagia tanpa mengalami kesialan seperti yang digambarkan dalam mitos tersebut.

Mitos ini lebih sebagai warisan budaya yang mengandung unsur sejarah dan rasa trauma kolektif dari peristiwa masa lalu.

Di era modern, terutama dengan semakin berkembangnya pemahaman lintas budaya, mitos ini sudah mulai memudar.

Banyak kalangan muda yang tidak lagi mempercayai larangan tersebut, meskipun di beberapa daerah masih ada yang meyakininya sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah nenek moyang.

Penulis: Audya Amalia Mufida

Editor : Halo Jember
#hayam wuruk #sunda #jawa