Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Menggabungkan Warisan Budaya: Festival Rawat Budaya Pandalungan di Probolinggo Menampilkan Pesona Kesenian Jawa dan Madura

Halo Jember • Selasa, 24 September 2024 | 20:00 WIB
Festival Rawat Budaya yang Diselenggarakan di Alun-Alun Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, (intagram resmi endlessprobolinggo)
Festival Rawat Budaya yang Diselenggarakan di Alun-Alun Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, (intagram resmi endlessprobolinggo)

HALOJEMBER.COM – Untuk melestarikan kekayaan budaya lokal yang ada di setiap daerah di Jawa Timur, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Kemendikbudristek menggelar kegiatan bertema "Rawat Budaya Pendhalungan" di Alun-Alun Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada tanggal 19 hingga 21 September 2024.

Acara ini dirancang sebagai platform untuk mempromosikan dan menjaga budaya Pendhalungan, yang merupakan hasil perpaduan antara adat Jawa dan Madura.

Budaya Pendhalungan tidak hanya mencerminkan identitas masyarakat setempat, tetapi juga menyimpan nilai-nilai sejarah dan sosial yang kaya.

PJ Bupati Probolinggo, Ugas Irwanto, menyampaikan sambutan positif terhadap kegiatan ini.

Dalam pidatonya, beliau menegaskan pentingnya pelestarian kebudayaan daerah, terutama di tengah tantangan modernisasi yang membuat banyak generasi muda mulai melupakan akar budaya mereka.

“Kegiatan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kekayaan budaya daerah adalah warisan yang harus kita jaga dan rawat. Melalui acara ini, kita ingin menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian terhadap budaya lokal di hati masyarakat,” ujarnya.

BACA JUGA: Mitos Menabrak Kucing Hitam Dalam Budaya Jawa, Begini Penjelasannya

Dalam rangkaian acara Rawat Budaya Pendhalungan, berbagai kesenian adat dari wilayah Tapal Kuda ditampilkan. Beberapa pertunjukan yang menarik perhatian termasuk Tari Gandrung Banyuwangi, Singo Ulung Bondowoso, dan Musik Dhug-dhug.

Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah Tari Kiprah Glipang, seni tari khas Kabupaten Probolinggo yang berasal dari Desa Pendil, Kecamatan Banyuanyar.

Tari ini tidak hanya menampilkan keindahan gerakan, tetapi juga mengandung makna mendalam tentang sejarah dan budaya setempat.

Endah Budi Haryani, Kepala BPKW XI, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang pertunjukan seni, tetapi juga sebagai wadah edukasi bagi masyarakat.

“Kami ingin menjadikan acara ini sebagai kesempatan untuk mendidik masyarakat, terutama generasi muda, tentang kekayaan budaya lokal yang mereka miliki. Ini adalah bentuk investasi untuk masa depan budaya kita,” ungkapnya.

BACA JUGA: Mitos atau Fakta, Wanita Haid Tidak Boleh Makan Timun

Kepala BPKW XI juga menekankan pentingnya melestarikan kebudayaan daerah untuk mencegah klaim dari daerah atau negara lain. Dalam konteks ini, BPKW telah menetapkan beberapa Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) untuk melindungi kekayaan budaya Indonesia.

“Pada tahun 2023, sudah ada 12 WBTBI yang ditetapkan di Jawa Timur, dan pada tahun 2024, kami telah menetapkan 13 warisan budaya lagi. Ini adalah langkah strategis untuk melindungi budaya kita dari klaim pihak luar,” jelas Endah.

Acara ini dihadiri oleh peserta dari delapan kabupaten dan kota di Tapal Kuda, yang masing-masing menampilkan kesenian khas daerah mereka.

Selain itu, masyarakat Kota Kraksaan merasa bangga dan senang bisa menyaksikan pagelaran tarian budaya lokal, yang sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk berinteraksi dengan UMKM yang hadir di acara tersebut.

Banyak pengunjung yang antusias, berbagi pengalaman dan menikmati keanekaragaman yang ditawarkan dalam festival.

Bupati Ugas juga mencatat bahwa budaya Pendhalungan, yang menggabungkan dua etnis besar, memiliki potensi besar dalam meningkatkan sektor ekonomi dan pariwisata daerah.

BACA JUGA: Menguak Mitos Jawa Duduk di Bantal Sebabkan Bisul, Apa iyaa?

“Jika dikelola dengan baik, ini dapat memberikan dampak positif terhadap ekonomi pariwisata serta mempererat kerukunan masyarakat. Kita harus memanfaatkan potensi ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ugas juga menyoroti tantangan di era digital yang membuat generasi muda kurang peduli terhadap budaya lokal. Oleh karena itu, sebagai langkah lanjutan, pemerintah akan mengadakan lomba sendratari yang mengangkat tema sejarah Kabupaten Probolinggo.

Lomba ini diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk memahami dan melestarikan budaya.

Endah Budi Haryani menambahkan bahwa kegiatan seperti ini juga menjadi ajang untuk membangkitkan minat anak muda terhadap budaya lokal.

“Kami berharap, dengan melihat pertunjukan budaya seperti ini, anak-anak akan lebih tertarik untuk belajar dan menjaga warisan budaya mereka. Budaya adalah bagian dari identitas kita, dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk melestarikannya,” ujar Endah.

Selain pertunjukan kesenian, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pameran budaya yang memberikan informasi mengenai warisan budaya dan sejarah daerah. Pameran ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk memahami lebih dalam tentang apa yang mendasari setiap pertunjukan dan makna di balik setiap tarian atau alat musik yang ditampilkan.

BACA JUGA: Tak Hanya Menambah Nafsu Makan, Kunyit Dipercaya Mampu Obati Kanker, Mitos atau Fakta?

Hal ini menambah dimensi edukatif pada acara, memastikan bahwa pengunjung tidak hanya terhibur tetapi juga mendapatkan pengetahuan baru tentang budaya Pendhalungan.

Kabupaten Probolinggo, sebagai tuan rumah acara, dipilih karena memiliki kekayaan budaya yang beragam, termasuk Candi Jabung, yang merupakan salah satu daya tarik wisata bersejarah.

Candi ini tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjadi simbol sejarah yang penting bagi masyarakat setempat. Dengan memanfaatkan lokasi yang kaya akan sejarah dan budaya, acara ini diharapkan dapat menarik lebih banyak perhatian dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya.

Secara keseluruhan, kegiatan Rawat Budaya Pendhalungan ini bukan hanya sebuah acara seni, tetapi juga simbol dari komitmen pemerintah dan masyarakat dalam menjaga serta melestarikan kekayaan budaya lokal.

Melalui kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta Pemerintah Kabupaten Probolinggo, diharapkan budaya Pendhalungan dapat terus hidup dan berkembang.

Acara ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dapat bersatu dalam upaya melestarikan warisan budaya yang berharga untuk generasi mendatang, menjadikan budaya sebagai fondasi yang kuat bagi identitas dan kehidupan sosial mereka.

Penulis: Ayin Tripuan Maharani

Editor : Halo Jember
#Festival Rawat Budaya #budaya #Budaya Pandalungan #probolinggo