HALOJEMBER – Kalimantan merupakan pulau yang kaya akan tradisi, budaya, dan masih memegang teguh berbagai mitos serta kepercayaan yang diwariskan oleh leluhur mereka.
Salah satu mitos yang masih kuat dipegang oleh masyarakat Kalimantan adalah mitos kepuhunan.
Mitos ini tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap alam, kehidupan, dan hubungan mereka dengan leluhur serta pentingnya menghormati budaya yang telah berkembang secara turun-temurun.
Kepuhunan merujuk pada kepercayaan bahwa akan mengalami musibah karena tidak mencicipi sesuatu atau tidak memakan sesuatu yang dipersembahkan.
Ibaratnya ketika seseorang tinggal di wilayah Kalimatan dan kedatangan tamu, namun tamu tersebut menolak dan tidak ingin mencicipi atau makanan dan minuman yang ditawarkan, maka akan celaka atau mengalami musibah.
Percaya atau tidak, mitos ini sudah menjadi tradisi yang sudah lama dipercaya oleh masyarakar Kalimantan karena sebagian besar masyarakat yang tinggal di sana pernah mengalami kejadian tersebut.
Bahkan jika Anda masih tidak percaya dengan mitos ini, sebaiknya dilakukan saja sesuai dengan tradisi yang ada dengan tujuan menghormatinya.
Untuk menghindari kepuhunan, ada beberapa upacara adat atau tindakan yang biasanya dilakukan yaitu:
- Mencicipi Makanan
Jika ditawari makanan atau minuman oleh tuan rumah meskipun tidak lapar, sebaiknya tetap menyantapnya dengan mencicipi sedikit atau menyentuh makanan tersebut.
Hal ini dilakukan guna menunjukkan sebuah penghargaan dan menghindari kepuhunan
- Mengucapkan Kata Khusus
Di beberapa daerah di Kalimantan, ada yang melakukan tindakan dengan cukup menyentuh makanan dan mengucapkan kata “SAPULUN” atau “PUSE-PUSE” dengan arti menerima tawaran tersebut dengan hormat.
- Bejapai
Tindakan selanjutnya yakni apabila Anda tidak ingin makan, cukup menyentuh makanan dengan jari dan menyentuh leher Anda. Tindakan ini juga dianggap sebagai cara untuk menghindari kepuhunan.
Meski zaman sudah modern, kepercayaan terhadap mitos kepuhunan masih tetap kuat di beberapa kalangan masyarakat Kalimantan.
BACA JUGA: Mitos dan Asal-usul Larangan Bawa Daging Sapi ke Gunung Agung di Bali
Walaupun sebagian masyarakat muda mungkin mulai meragukan mitos ini seiring dengan masuknya pendidikan formal dan pengaruh modernisasi.
Namun, banyak juga yang menganggap bahwa mitos kepuhunan memiliki nilai moral yang tinggi. Kepercayaan ini mengajarkan pentingnya hidup dalam keseimbangan dengan alam, menghormati tradisi, dan tidak sembarangan merusak lingkungan.
Penulis: Audya Amalia Mufida
Editor : Halo Jember