HALOJEMBER - Payung telah lama menjadi bagian penting dari berbagai ritual kematian di seluruh dunia. Benda ini, yang pada awalnya berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari, berkembang menjadi simbol yang sarat dengan makna spiritual dalam konteks kematian.
Di beberapa budaya, payung tidak hanya berfungsi sebagai alat pelindung cuaca, tetapi juga diartikan sebagai simbol perlindungan terhadap roh yang telah meninggal, serta digunakan sebagai penghormatan terakhir dalam proses pengantaran jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir.
Payung dalam Tradisi Pemakaman di Asia
Di Asia Tenggara, payung sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dari prosesi pemakaman. Di Indonesia, khususnya di beberapa daerah seperti Jawa dan Bali, payung digunakan untuk mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Dalam prosesi pemakaman tradisional, keranda atau usungan jenazah biasanya diarak ke kuburan atau tempat kremasi, dan payung besar dibawa oleh orang terdekat almarhum. Payung ini biasanya berwarna putih atau emas, yang melambangkan kesucian dan perlindungan dari gangguan roh jahat selama perjalanan menuju alam baka.
BACA JUGA: Mitos Ayam Berkokok di Malam Hari, Tanda Mistis atau Fenomena Alamiah
Di Bali, payung emas menjadi salah satu elemen penting dalam upacara ngaben (kremasi). Payung tersebut dipegang atau ditempatkan di atas keranda yang membawa jenazah, melambangkan bahwa almarhum mendapatkan perlindungan dari roh jahat dan diberi kehormatan untuk menempuh perjalanannya menuju kehidupan setelah mati.
Payung ini sering dihias dengan motif tradisional, memberikan kesan sakral pada prosesi tersebut.
Simbolisme Payung dalam Prosesi Mengantarkan Jenazah
Pengantaran jenazah dalam tradisi Jawa sering dilakukan dengan penuh tata krama dan diiringi oleh doa serta alunan kidung religi. Payung yang dibawa di atas keranda memiliki makna simbolis yang mendalam.
Selain melindungi jasad dari hujan atau panas, payung juga diyakini melambangkan perlindungan bagi roh almarhum dari bahaya yang tidak terlihat, terutama dari gangguan roh-roh jahat yang bisa menghalangi perjalanannya menuju alam baka.
BACA JUGA: Mitos Bunut Bolong di Bali, Pasangan Bisa Putus atau Cerai
Di beberapa daerah, payung yang digunakan juga dilengkapi dengan hiasan sederhana sebagai tanda penghormatan. Dalam prosesi tersebut, keluarga dekat biasanya berjalan di belakang keranda dengan penuh penghormatan, sedangkan orang-orang yang dipercaya memegang payung akan berjalan di depan, mengarahkan perjalanan almarhum menuju tempat peristirahatan terakhir.
Payung Putih dalam Pemakaman Adat Jawa
Di banyak daerah di Jawa, terutama di kalangan masyarakat adat Jawa, penggunaan payung putih dalam prosesi pemakaman memiliki makna yang mendalam. Payung putih sering kali digunakan untuk menutupi keranda atau usungan jenazah saat diarak menuju tempat peristirahatan terakhir.
Warna putih melambangkan kesucian dan kedamaian, serta dipercaya dapat melindungi roh almarhum dari gangguan roh jahat selama perjalanan menuju alam baka.
Payung ini biasanya dipegang oleh kerabat dekat almarhum, yang mengikuti prosesi jenazah dari rumah duka hingga ke kuburan. Penggunaan payung dalam pemakaman ini mencerminkan penghormatan terakhir dari keluarga dan masyarakat kepada almarhum.
Dalam tradisi Jawa, peralihan dari dunia hidup ke dunia roh dianggap sebagai momen yang sakral, dan payung putih berfungsi sebagai simbol perlindungan spiritual selama peralihan tersebut.
BACA JUGA: Mitos Kepuhunan di Kalimantan: Kepercayaan Leluhur yang Masih Hidup di Tengah Masyarakat
Makna Payung dalam Kematian di Era Modern
Di zaman modern, meskipun tradisi penggunaan payung dalam pemakaman mungkin tidak sepopuler dulu, simbolisme dan makna spiritual di balik payung masih tetap hidup di beberapa budaya. Di banyak pemakaman tradisional di desa-desa di Indonesia, payung putih masih sering terlihat di atas keranda atau saat prosesi menuju kuburan.
Demikian pula, di pemakaman Tionghoa dan beberapa bagian Asia lainnya, payung hitam tetap menjadi elemen penting dalam penghormatan terakhir kepada yang telah meninggal.
Bahkan di pemakaman yang lebih modern, payung tetap hadir sebagai simbol penghormatan dan kesucian, terutama dalam konteks keagamaan atau adat istiadat lokal.
Dalam beberapa kasus, payung juga digunakan oleh pelayat untuk melindungi diri dari terik matahari atau hujan, tetapi tetap memberikan nuansa sakral dalam prosesi pemakaman tersebut.
BACA JUGA: Mitos dan Asal-usul Larangan Bawa Daging Sapi ke Gunung Agung di Bali
Di Pulau Jawa, penggunaan payung dalam prosesi pemakaman adalah tradisi yang masih dipertahankan di banyak daerah. Payung, terutama yang berwarna putih, melambangkan kesucian dan perlindungan bagi arwah almarhum.
Tradisi ini mencerminkan bagaimana masyarakat Jawa memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal, sekaligus meyakini bahwa payung memiliki peran spiritual dalam melindungi arwah dari gangguan selama perjalanannya menuju alam baka.
Payung dalam konteks ini bukan sekadar alat fisik, tetapi simbol penghormatan dan perlindungan yang penting dalam proses peralihan hidup menuju kematian.
Penulis: Ayin Tripuan Maharani
Editor : Halo Jember