HALOJEMBER- Bunga Edelweis, yang sering dijuluki sebagai "bunga abadi," memang memiliki keistimewaan yang tidak hanya terkait dengan penampilannya yang menawan, tetapi juga dengan kemampuan luar biasa untuk bertahan dalam kondisi ekstrem.
Edelweis mengandung hormon etilen, yang berfungsi untuk mencegah kerontokan kelopak bunga, bahkan dalam kondisi yang keras sekalipun.
, bunga Edelweis mampu mekar dan bertahan hingga lebih dari sepuluh tahun, bahkan mungkin lebih lama. Inilah sebabnya mengapa Edelweis sering dianggap sebagai simbol keabadian, sebuah bunga yang mampu bertahan menghadapi kerasnya alam.
Karena sifatnya yang bisa bertahan lama, banyak pendaki gunung yang terpikat untuk memetik bunga ini sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan dari perjalanan mereka.
Namun, kebiasaan ini ternyata sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup bunga Edelweis, terutama Edelweis Jawa yang tergolong langka dan dilindungi.
Dalam upaya pelestarian alam, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan yang melarang pemetikan bunga Edelweis.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem mengatur dengan tegas larangan melakukan aktivitas yang dapat merusak keutuhan zona inti taman nasional, termasuk pemetikan bunga Edelweis.
Menurut Pasal 33 Ayat 1 UU tersebut, setiap tindakan yang bisa mengancam keberlangsungan flora dan fauna yang dilindungi harus dihentikan. Jika seseorang tetap melanggar larangan ini, ancaman hukuman berupa pidana penjara hingga 10 tahun dan denda sebesar Rp200 juta dapat dikenakan, sebagaimana tercantum dalam Pasal 40 Ayat 2 UU yang sama.
Bunga Edelweis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1819 oleh seorang ilmuwan asal Jerman, Caspar Georg Carl Reinwardt, yang menjumpai tanaman ini di lereng Gunung Gede, Jawa Barat. Penelitiannya kemudian dilanjutkan oleh Carl Heinrich Schultz.
Keberadaan Edelweis Jawa di Indonesia bukan hanya sekadar penemuan ilmiah, tetapi juga menjadi warisan alam yang harus dijaga dan dilestarikan.
Nama "Edelweis" sendiri berasal dari bahasa Jerman, yang terdiri dari dua kata: "edel" yang berarti mulia dan "weis" yang berarti putih. Nama ini menggambarkan keindahan bunga yang bersih dan murni, serta simbol kehormatan dan kemuliaan.
Indonesia memiliki beberapa pegunungan yang menjadi habitat alami bagi Edelweis, seperti Gunung Lawu, Gunung Semeru, Gunung Rinjani, Gunung Pangrango, Gunung Gede, dan Gunung Papandayan.
Di setiap gunung ini, hamparan bunga Edelweis dapat ditemukan di ketinggian tertentu, yang membuatnya menjadi daya tarik utama bagi para pendaki dan pecinta alam. Namun, keberadaan Edelweis di alam liar bukanlah hal yang tak ternilai.
Tanaman ini memiliki peran penting dalam ekosistemnya, dan keberadaannya harus dijaga agar tidak punah akibat eksploitasi yang tidak terkendali. Oleh karena itu, meskipun bunga ini begitu memikat, para pendaki dan wisatawan hendaknya lebih bijak dengan tidak memetiknya, dan cukup menikmati keindahannya di habitat aslinya.
Penting untuk diingat bahwa pelestarian Edelweis bukan hanya tentang melindungi satu spesies bunga, tetapi juga melindungi keseluruhan ekosistem yang ada di gunung-gunung Indonesia.
Dengan menjaga kelestarian Edelweis, kita turut berkontribusi pada pelestarian alam secara keseluruhan, yang pada gilirannya juga akan memberi manfaat bagi generasi mendatang. Sebagai bunga yang disebut-sebut abadi, Edelweis bukan hanya sekadar tanaman, melainkan simbol dari kesadaran kita akan pentingnya menjaga keseimbangan alam demi masa depan yang lebih baik.
Penulis : Ahmad Rofiqhi Laming
Editor : Halo Jember