Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Pembunuhan Massal di Banyuwangi Dibalik Teror 'Ninja' dan Dukun Santet

Halo Jember • Jumat, 20 Desember 2024 | 02:55 WIB

 

 

Ilustrasi Ninja (Pinterest)
Ilustrasi Ninja (Pinterest)

HALOJEMBER- Kasus pembunuhan terhadap kiai dan guru ngaji di Banyuwangi, Jawa Timur, pada tahun 1998 masih menyisakan banyak misteri. Tragedi ini, yang hingga kini belum terungkap secara tuntas, menyisakan berbagai tanda tanya besar.

Belum ada kepastian mengenai siapa pelaku pembantaian tersebut, siapa yang mengendalikan, dan apa motif di balik kekejaman yang terjadi.

Pembunuhan massal yang menewaskan sejumlah ulama dan pengajar agama ini terus mengguncang memori kolektif masyarakat, meskipun kejadian itu sudah berlangsung lebih dari dua dekade yang lalu.

Tragedi yang terjadi pada akhir abad ke-20 ini tidak hanya menjadi luka bagi masyarakat Banyuwangi, tetapi juga menorehkan kenangan pahit bagi keluarga-keluarga korban.

Banyak di antara mereka yang kehilangan orang-orang terdekat dalam sekejap mata. Ayah, suami, ibu, serta keluarga lainnya menjadi korban kekerasan yang tak termaafkan.

Beberapa di antaranya kehilangan orang yang mereka cintai dalam cara yang sangat brutal, menjadikan mereka sebagai yatim piatu, janda, atau bahkan harus hidup sebatang kara setelah tragedi itu. Kehidupan mereka yang hancur seketika adalah bukti betapa dahsyatnya dampak dari pembunuhan tersebut.

Menurut data yang dihimpun oleh pemerintah, jumlah korban tewas dalam peristiwa itu mencapai 115 orang di 20 kecamatan di Banyuwangi.

Angka ini memang cukup mencengangkan, namun tim pencari fakta (TPF) yang dibentuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyebutkan bahwa jumlah korban sebenarnya lebih banyak lagi, mencapai 143 orang.

Angka ini menunjukkan betapa luasnya penyebaran teror yang terjadi selama periode tersebut, yang mempengaruhi banyak wilayah di Banyuwangi.

Masyarakat Banyuwangi pada saat itu dirundung ketakutan yang luar biasa akibat banyaknya kasus yang dihubungkan dengan praktik ilmu hitam.

Orang-orang yang dicurigai sebagai dukun santet, yang diyakini dapat menyebabkan malapetaka bagi orang lain, tiba-tiba saja menjadi sasaran pembunuhan oleh sekelompok orang tak dikenal.

Keadaan tersebut menciptakan ketegangan luar biasa di masyarakat. Banyak warga yang merasa terancam dan mulai saling curiga satu sama lain, memperburuk situasi yang sudah penuh dengan ketidakpastian.

Dalam suasana yang mencekam tersebut, para korban yang kebetulan dianggap terlibat dalam praktik santet pun menjadi target serangan. Pembunuhan demi pembunuhan berlangsung dengan kejam, tanpa memperhatikan siapa yang terlibat atau tidak.

Tindakan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang siapa yang sebenarnya ada di baliknya. Apakah ini merupakan bagian dari konflik internal yang lebih besar, ataukah ada kekuatan lain yang mencoba memanfaatkan situasi untuk tujuan tertentu? Hingga kini, jawabannya masih belum jelas. Yang pasti, dampak dari peristiwa ini sangat besar bagi masyarakat, tidak hanya dalam hal korban jiwa, tetapi juga dalam mengubah dinamika sosial dan keagamaan di Banyuwangi.

Memori kelam ini tetap hidup, bahkan meskipun waktu terus berjalan. Bagi keluarga yang ditinggalkan, setiap kenangan tentang orang yang mereka cintai yang hilang dalam tragedi tersebut tak akan pernah pudar. Mereka masih merasakan kesedihan dan kehilangan yang mendalam.

Pembantaian yang dilakukan dengan cara yang sangat brutal itu masih menjadi catatan hitam dalam sejarah Banyuwangi, yang menunggu untuk diungkap secara terang benderang. Hingga saat ini, masyarakat masih berharap agar kebenaran dapat terungkap, agar pelaku dan motif di balik pembantaian tersebut bisa diketahui dan mendapatkan keadilan yang seharusnya.

Penulis :Ahmad Rofiqhi Laming

 

Editor : Halo Jember
#banyuwangi #ninja #dukun santet