Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mengungkap Fakta Dibalik Aura Mistis Pantai Watu Ulo, Sebuah Misteri yang Belum Terungkap

Halo Jember • Sabtu, 11 Januari 2025 | 01:31 WIB
Pantai Watu Ulo (Radar Jember)
Pantai Watu Ulo (Radar Jember)

HALOJEMBER - Pantai Watu Ulo jadi opsi spot wisatawan favorit dari masa ke masa. Perpaduan pasir hitam serta panorama laut yang memukau menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Tiket pengunjung yang terjangkau semakin menarik minat pelancong untuk dijadikan tujuan wisata saat liburan tiba.

Dalam bahasa Jawa kata “watu” berarti batu dan “ulo” ialah ular, jika digabungkan Watu Ulo berarti batu yang menyerupai ular.

Baca Juga: Mengapa Pantai Watu Ulo Dijadikan Tempat Favorit Burdir?

Keunikan pantai ini terletak pada gugusan batu dengan struktur mirip sisik ular yang menjadi asal muasal nama tersebut. Diketahui panjang batu ini sekitar 110 meter dengan lebar lebih-kurang 4 meter.

Dibalik keindahannya, pantai Watu Ulo menyimpan legenda mistis yang dipercaya masyarakat hingga kini. Konon, ada seekor naga raksasa yang menguasai desa tersebut bernama Nogo Rojo.

Cara baru baca koran! Lebih Praktis dengan koran digital dan e-paper
Cara baru baca koran! Lebih Praktis dengan koran digital dan e-paper

Menurut cerita, Nogo Rojo sangat rakus dan memakan semua ikan di laut, sehingga penduduk lokal kesulitan untuk mendapatkan hasil tangkapan.

Tidak hanya rakus, tetapi ia juga menakut-nakuti manusia dan menghancurkan segala yang ada di sekitarnya.

Geram dengan perilakunya yang merugikan penduduk desa, seorang pria bernama Joko Mursodo bertarung dengan Nogo Rojo dan berhasil mengalahkannya.

Baca Juga: Jejak Sejarah dan Mitos di Pantai Watu Ulo Jember Terbelah oleh Joko Mursodo

Dari kisah tersebut, masyarakat percaya bahwa batu raksasa itu merupakan bagian tubuh Nogo Rojo yang dipotong menjadi tiga bagian.

Kepalanya terlempar ke daerah Pantai Grajagan Banyuwangi, tubuhnya di Pantai Watu Ulo, Jember, dan ekornya ada di Pacitan.

Versi lain menyebutkan bahwa batu tersebut adalah perwujudan dari naga yang sedang bersemedi, diutus oleh Ajisaka.

Naga ini dipercaya akan terbangun kembali dalam bentuk manusia setelah menyempurnakan semedinya.

Masyarakat percaya, batu tersebut menjadi saksi bisu kerajaan Nyi Roro Kidul yang menyimpan batu permata di bawahnya.

Kumpulan mitos yang beredar tidak hanya memberikan sensasi mistis pantai tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia.

Sebagian masyarakat percaya akan mitos yang tersebar, tak sedikit pula mereka beranggapan hal tersebut berhubungan dengan segi spiritual. 

Puluhan pegon / cikar meriahkan Festival Watu Ulo Pegon (Foto : Azzqal Azqiya / Radar Jember)
Puluhan pegon / cikar meriahkan Festival Watu Ulo Pegon (Foto : Azzqal Azqiya / Radar Jember)

Oleh karenanya, tradisi turun-temurun pun tetap diselenggarakan di sekitar pantai Watu Ulo, salah satunya Pegon.

Awalnya tradisi ini merupakan kegiatan syukuran dan doa bersama yang dilakukan oleh para tukang cikar di pantai watu ulo sejak tahun 1945.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berkembang menjadi acara festival yang lebih meriah dan modern.

Festival tahunan Pegon atau juga biasa disebut Waton dilakukan masyarakat desa Sumberejo kecamatan Ambulu sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan rezeki.

Istilah Pegon sama seperti Cikar yaitu kendaraan kereta tradisional yang ditarik oleh dua ekor sapi, digunakan untuk mengangkut hasil panen dan barang-barang masyarakat.

Zaman dulu pegon digunakan untuk mengangkut pasir, batu, hasil pertanian dan lainnya. 

Dalam tradisi ini, pegon membawa hasil bumi yang dirangkai mirip ancak  dan diarak dari balai desa menuju pantai. Mereka juga menampilkan kesenian untuk dilestarikan ke generasi-generasi berikutnya.

Acara ditutup dengan doa bersama, kemudian masyarakat saling berebut isi gunungan hasil bumi yang dipercaya membawa keselamatan dan kelapangan rezeki.

Sorak sorai tradisi pegon yang dilakukan masyarakat setempat, berhasil menarik wisatawan untuk sekedar melihat budaya lokal hingga menikmati pemandangan pantai. 

Tradisi Pegon atau Waton memiliki potensi untuk diakui sebagai bagian penting dari kesenian dan budaya lokal.

Masyarakat berharap, kemeriahan Festival Waton  akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya sehingga mampu meningkatkan jumlah wisatawan.

Editor : Halo Jember
#Watu Ulo #mistis #pegon #misteri