HALOJEMBER - Nama Habib Sholeh Tanggul telah dikenal masyarakat penjuru nusantara. Meski sosoknya sudah lama wafat, namun kisah dan karomahnya yang luar biasa masih menjadi buah bibir di masyarakat khususnya daerah Jember.
Meskipun namanya dijadikan nama sebuah daerah, Habib Sholeh Tanggul bukanlah masyarakat asli Jember.
Beliau lahir pada 17 Jumadil Ula tahun 1313 H atau sekitar 1895 M di Desa Qorbah Ba Karman, Hadramaut, Yaman. Habib Sholeh Tanggul memiliki nama asli Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid.
Baca Juga: Habib Abu Bakar Gresik Beri Sorban Hijau ke Habib Sholeh Tanggul. Pertanda Apa Itu?
Beberapa tulisan mengungkapkan bahwa Habib Sholeh atau juga dikenal dengan Mbah Sholeh Tanggul merupakan keturunan ke-39 Rasulullah SAW dari garis keturunan Husein bin Ali bin Abi Thalib.
Maka dari itu, tak heran jika beliau memiliki berbagai karomah yang luar biasa. Salah satu karomah yang sering diceritakan adalah kemampuan beliau menyembuhkan putra Raja Arab Saudi yang cacat sejak lahir.
Konon, putra Raja Arab mengalami kondisi cacat sejak lahir dimana dia tidak memiliki lubang dubur sebagaimana manusia normal.
Sang Raja bahkan sudah melakukan pengobatan dimana-mana. Akhirnya penasehat raja, Habib Alwi bin Abbas Al-Maliki, memberi saran untuk memanggil Habib Sholeh Tanggul.
Baca Juga: Habib Abu Bakar Assegaf Gresik, Guru dari Habib Sholeh Tanggul
Singkat cerita, putra Raja Arab tersebut sembuh dari kondisi cacatnya berkat karomah yang dimiliki Habib Sholeh Tanggul.
Dari situlah awal mula Habib Sholeh Tanggul di Hadramaut, Yaman dikenal sebagai habib paling kaya di Indonesia karena kedermawanannya yang luar biasa.
Sebagaimana pemuka agama, beliau menghabiskan masa kecilnya mempelajari ilmu agama. Ia mempelajari ilmu Fiqih dan Tasawuf dari sang ayah Habib Muhsin bin Ahmad al-Hamid, sedangkan Al-Qur'an ia pelajari dari Syekh Saíd Ba Mudhij, ulama kenamaan Wadi 'Amd.
Habib Sholeh Tanggul memulai dakwahnya di tanah air dengan mengajak masyarakat untuk sholat berjamaah dan membaca Al-Quran yang biasa dilakukan di sebuah Mushola kecil. Selama perjuangan dakwahnya ini, ia dikenal sebagai sosok yang penolong.
Karena kekaromahan dan kedudukan kesucian, Habib Sholeh mendapat julukan “Wali Qutub” (tingkatan tertinggi diantara wali allah atau kekasih Allah).
Beliau juga mahir merangkai syair-syair cinta dan pujian kepada Allah dan Rasul. Syair tersebut dirangkai dalam bahasa Arab dengan kesusastraan tingkat tinggi dan gaya bahasa Assyi’rul Humaini atau semacam puisi rakyat khas Yaman.
Beliau wafat pada Minggu, Sabtu, 8 Syawal 1396 H atau 2 Oktober 1976 M. Sepeninggal Habib Sholeh Tanggul, syair-syair tersebut ditulis ulang oleh salah satu muridnya yakni Ustadz Abdullah Zahir. Kumpulan syair Habib Sholeh Tanggul diabadikan dalam buku “Diwan Al-Isyqi Was- Shofa Fi mahabbati Al- Habib Al- Musthofa” atau Antologi Asmara Nan Suci Tentang Cinta Nabi Terkasih Al- Musthofa yang berisi 105 macam qasidah.
Melalui dakwahnya, beliau juga mewariskan warisan spiritual yang menunjukkan tentang kekuatan doa dan keikhlasan serta menegaskan bahwa semua kesembuhan berasal dari Allah.
Seperti Sholawat Habib Sholeh Tanggul yang diyakini dapat mengabulkan hajat dan membawa keberkahan bagi mereka yang mengamalkannya.
Selain warisan spiritual, kisah hidup sebagai wali Allah, serta kumpulan syair yang dibukukan, beliau juga meninggalkan warisan berupa sumur keramat di daerah Lumajang yang kini menjadi tujuan wisata religi bagi banyak orang yang berharap mendapatkan berkah dan kesembuhan.
Perjalan hidup Habib Sholeh Tanggul terpatri dalam ingatan masyarakat sebagai pengingat akan kekuatan iman dan keikhlasan dalam menghadapi ujian hidup.
Kisahnya juga ditulis dalam sebuah buku berjudul Habib Sholeh sebagai “Sang Matahari Tanggul”.
Buku ini menceritakan biografi Habib Sholeh Tanggul, karomah yang dimiliki beliau, nasihat, kumpulan do’a yang mustajab hingga cerita detik-detik wafatnya Habib Sholeh.
Editor : Halo Jember