HALOJEMBER - Dewasa ini, eksistensi jamu gendong mulai asing di masyarakat. Hal ini karena daya saing antara khasiat minuman tradisional dengan racikan medis.
Meskipun begitu, sebagian orang masih populer dengan jamu. Minuman tradisional ini diracik dengan resep leluhur secara turun-temurun dan dipercaya bermanfaat bagi tubuh.
Baca Juga: Mengenal Fenomena Menarik “Polar Night”, Salah Satunya Ada di Alaska
Kata jamu berasal dari bahasa Jawa Kuno 'djampi' atau 'oesodo', yang berarti metode penyembuhan dengan menggunakan ramuan herbal.
Jamu mulai dikenal sejak zaman Mesolithikum dan Neolithikum yang dibuktikan dengan penemuan peralatan batu lumping yang biasa digunakan untuk meracik jamu.
Jamu gendong bukan sekedar minuman tradisional, melainkan cerminan dari kearifan lokal dan filosofi hidup masyarakat Indonesia.
Setiap racikan jamu mengandung makna mendalam yang terjalin erat dengan alam, kesehatan, dan kehidupan manusia.
Baca Juga: Pacaran Lima Tahun, Angga Yunanda dan Shenina Unggah Foto Menikah, Bikin Kaget Netizen
Umumnya, penjual jamu gendong akan menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah dengan memikul bakul jamu berisi botol jamu yang digendong dengan kain jarik.
Secara filosofis, menggendong bakul jamu identik dengan merawat anak. Jamu yang digendong merepresentasikan anak sebagai sumber rezeki yang harus diperlakukan dengan lemah lembut dan telaten.
Baca Juga: Keindahan Pantai Bambang Lumajang Bikin Liburan Semakin Berkesan
Orang Jawa percaya bahwa apapun yang terjadi di kehidupan pasti ada kaitannya dengan alam. Hal ini juga berkaitan dengan kondisi kehidupan manusia seperti penyakit, jodoh dan lain-lain.
Maka dari itu, isi bakul dari jamu gendong biasanya berisi delapan atau sembilan botol. Jumlah dari botol jamu tersebut diibaratkan sebagai arah mata angin. Mereka percaya bahwa penyakit bisa datang dari arah mana saja.
Begitu pula dengan resep racikan jamu yang diwariskan, penyakit yang menimpa kondisi tubuh kita murninya dari alam. Oleh karena itu, pengobatannya juga memerlukan bantuan alam berupa rempah alami.
Konon, seorang pembuat jamu (acaraki) harus berdoa dan melakukan meditasi serta berpuasa untuk dapat merasakan energi positif yang bermanfaat bagi kesehatan. Ritual ini diperlukan karena bagaimanapun juga masyarakat Jawa kuno percaya bahwa Tuhanlah sang penyembuh utama
Tak hanya proses pembuatan dan cara menjualnya, ternyata jenis jamu yang dihasilkan juga memiliki makna sendiri sebagai simbol kehidupan.
Urutan minum delapan varian jamu gendong menggambarkan fase kehidupan manusia, dimulai dari rasa manis-asam hingga kembali manis. Rasa ini melambangkan siklus kehidupan manusia.
Kunir asem atau kunyit asem merupakan simbol kehidupan yang manis ketika bayi hingga pra remaja yang mulai merasakan kehidupan yang sebenarnya.
Beras kencur menggambarkan masa remaja dengan rasa sedikit pedas. Begitupun dengan jamu Cabe Puyang, Pahitan, Kunci Sirih, Kudu Laos, Uyup-uyup dan sinom yang secara garis besar bermakna fase kehidupan manusia.
Dengan histori dan makna filosofis tertentu yang menyertai proses pembuatan jamu tradisional tersebut. Minuman tradisional jamu menjadi ciri khas masyarakat nusantara khususnya daerah Jawa dan diakui sebagai salah satu warisan dunia asal Indonesia.
Editor : Halo Jember