HALOJEMBER - Kepercayaan masyarakat Jawa tentang hubungan kehidupan manusia dan alam, membentuk cerita yang berkaitan dengan identitas budaya dan sejarah nusantara.
Keris misalnya, bukan hanya bagian dari jenis senjata tajam, keris dalam budaya Jawa memiliki simbol dan makna tersendiri bagi siapapun pemiliknya.
Baca Juga: Mengenal Santa Claus Sosok Ikonik Pada Perayaan Hari Raya Natal
Eksistensi keris yang dilestarikan saat ini, menjadi simbol perjalanan sejarah masyarakat Jawa. Meskipun banyak artikel yang menceritakan asal usul keris, tetapi sebagian besar orang percaya keris berasal dari Pulau Jawa.
Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya relief keris di Candi Borobudur pada abad ke-8, Candi Prambanan pada abad ke-9, atau patung lelaki Jawa dengan keris di pemandian Candi Letha pada abad ke-15.
Keris berasal dari kata kereran (mencegah) dan aris (pelan-pelan), yang berarti mencegah hawa nafsu secara perlahan-lahan.
Jadi orang yang memiliki keris dimaksudkan untuk dapat mengendalikan diri, tidak gegabah dalam bertindak, dan penuh pertimbangan. Keris juga memiliki sebutan Wesi Aji atau Tosan Aji dengan makna besi yang memiliki nilai atau berharga bagi pemiliknya.
Baca Juga: Megupas Asal-usul dan Fakta Menarik tentang Mitologi Hewan Kappa asal Jepang Roh Supranatural
Umumnya, sebuah keris memiliki tiga bagian yang terdiri dari bilah (pisau), hulu (gagang), dan warangka (sarung). Setiap ukiran dalam keris memiliki makna tersendiri yang mewakili seni dan keotentikannya serta simbol pusaka tersebut.
Biasanya orang Jawa mempertimbangkan 3 hal sebelum memiliki keris, yaitu tangguh (asal-usul keris), sepuh (berkaitan dengan umur keris), dan wutuh (wujud keris yang belum patah bagian-bagiannya).
Baca Juga: Watu Ulo Dibalik Keindahan Menyimpan Kisah Kelam Bagi Yang Putus Asa
Secara filosofis, keris memiliki makna berbeda yang merepresentasikan nilai-nilai luhur budaya Jawa. Misalnya keris yang memiliki luk atau lekukan dengan jumlah ganjil seperti luk satu sebagai simbol kesederhanaan, dan luk tiga sebagai simbol sikap semeleh (berserah diri).
Keris juga dapat menjadi simbol status atau strata sosial, mulai dari petani, prajurit, hingga raja. Selain itu, keris juga menyiratkan perilaku dan pemaknaan hidup bagi masyarakat termasuk ketajaman berpikir dan kelembutan hati.
Dahulu keris hanya digunakan pada peperangan atau duel sebagai senjata tikam sekaligus benda pelengkap sesajen. Saat ini, kegunaan keris menjadi lambang identitas budaya, aksesoris dalam berbusana, simbol kecerdikan budi, atau barang antik yang dikoleksi karena estetikanya.
Proses pembuatan keris oleh Empu dikenal sakral dalam budaya Jawa, maka tak jarang keris dianggap memiliki kekuatan magis.
Bahkan keris seringkali dijadikan jimat keberuntungan bagi sebagian orang. Selain itu keris juga diyakini menambah keberanian dan rasa percaya diri sehingga melindungi pemiliknya dari serangan wabah penyakit, malapetaka dan sebagainya.
Oleh karena itu, sebagian orang yang memiliki keris di rumahnya memperlakukan benda pusaka tersebut dengan hati-hati dan cenderung spesial. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan masyarakat Jawa terhadap para leluhurnya.
Sudah menjadi pemandangan yang lumrah pada masyarakat Jawa, apabila benda-benda pusaka seperti keris akan diberi “makan” berupa bunga setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon. Ada juga yang dibakarkan dupa dengan mantra dan doa-doa tertentu.
Kadang juga di-kum (direndam) setiap bulan Sura (Muharram) yang dilakukan oleh orang-orang tertentu. Ritual atau proses adat seperti ini dapat kita jumpai di lingkungan keraton seperti Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta.
Penulis : Faydhatul B M
Editor : Halo Jember