HALO JEMBER - Di tengah embusan angin Pantai Paseban, tersimpan sejarah tua tentang akhir perjuangan pendakwah Islam.
Tokoh ini dikenal dengan panggilan Mbah Gembong, yang memiliki nama asli Syekh Sayid Alimul Hasanningrat.
Pendakwah ini telah menempuh perjalanan panjang dari Jawa Barat hingga akhirnya menetap dan wafat di pesisir Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Jember. Makam Mbah Gembong memang tak begitu dikenal. Namun, kisahnya cukup heroik.
Juru kunci makam Mbah Gembong, Mbah Sumo, menceritakan sejarah keberadaan makam tersebut. Dikatakan, Mbah Gembong merupakan juru dakwah yang berasal dari Jawa Barat.
Dia lahir tahun 1488 Masehi. Kemudian, setelah dewasa memulai syiar agama Islam di Banten.
Setelah memiliki banyak murid, kemudian melanjutkan perjalanannya ke Magelang. Nah, cerita yang sama pun dia lakukan setelah punya banyak murid. Dia selanjutnya pindah ke Pati, Ponorogo, dan beberapa kabupaten/kota. Terakhir dia sampai di Paseban sekitar tahun 1603 atau 422 tahun sebelum Jember lahir.
Dikatakan, saat itu agama Buddha masih menjadi agama mayoritas di Nusantara. Sehingga tak mudah bagi Mbah Gembong untuk menyebarluaskan agama Islam.
Dia bahkan harus menetap bertahun-tahun di setiap kota demi syiar Islam.
“Jadi, beliau itu baru pindah ke daerah lain setelah dia berhasil mendapatkan banyak murid atau pengikut,” terang Sumo, yang merupakan juru kunci ke-5 di makam Mbah Gembong.
Diceritakan, Mbah Gembong sempat menikah dan memiliki satu anak saat menetap di Pasuruan.
Setelah sang anaknya lahir atau berusia 36 hari (selapan dalam istilah Jawa), Mbah Gembong kemudian kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini merupakan perjalanannya yang terakhir, yakni menuju pantai selatan, tepatnya di pesisir Pantai Paseban.
Pada tahun 1603 atau 422 tahun sebelum Jember lahir, Mbah Gembong sudah berusia 115. Dalam perjalanannya, dia hanya berjalan kaki.
Saat di Jember, komunikasi Mbah Gembong sudah tak begitu lancar. Ketika warga sekitar menanyakan dari mana asalnya, Mbah Gembong selalu menjawab Gembong. “Dari situlah namanya dikenal sebagai Mbah Gembong.
“Tidak banyak orang yang tahu bahwa sebelum di Jember, beliau adalah pendakwah,” jelas Sumo, Juru Kunci Makam Mbah Gembong.
Editor : Halo Jember