HALOJEMBER - Ramadan selalu punya cara unik untuk dirayakan di setiap daerah, termasuk di Bondowoso, Jawa Timur. Ada tradisi unik yang dilakukan dan dipertahankan oleh masyarakat Bondowoso hingga sekarang.
Tradisi itu dilakukan untuk menyambut bulan puasa, sekaligus menjadi bagian dari kebersamaan selama Ramadan. Yuk, kenali beberapa tradisi menarik di Bondowoso saat bulan Ramadan ini!
1. Nampanih Pasah, Tradisi Menyambut Ramadan
Di Desa Blimbing, ada tradisi bernama Nampanih Pasah, yang biasanya dilakukan dua hari sebelum Ramadan. Intinya, tradisi ini adalah momen untuk membersihkan diri dan mempersiapkan hati sebelum memasuki bulan penuh berkah.
Warga biasanya berkumpul untuk berdoa bersama, berbagi makanan, dan menjaga silaturahmi. Nampanih Pasah merupakan cara untuk memulai Ramadan dengan hati yang lebih tenang dan penuh rasa syukur.
2. Kadisah, Selamatan Desa Jelang Puasa
Tradisi lain yang masih lestari adalah Kadisah, semacam selamatan desa yang diadakan untuk menyambut Ramadan. Tradisi ini biasanya dimulai dengan nyekar (ziarah makam) ke tokoh-tokoh masyarakat yang dihormati.
Setelah itu, ada arak-arakan kesenian tradisional yang menambah semarak suasana. Bagi masyarakat Bondowoso, Kadisah merupakan bagian dari identitas budaya mereka.
3. Megengan, Tradisi Makan Bersama Jelang Ramadan
Sebelum memasuki bulan puasa, ada satu tradisi yang tak boleh dilewatkan, yaitu Megengan. Biasanya, acara ini diawali dengan saling memaafkan, doa bersama, lalu ditutup dengan makan bareng. Menu andalannya? Nasi tumpeng lengkap dengan lauk khas daerah.
Uniknya, tradisi ini juga masih dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bondowoso, sebagai momen refleksi dan kebersamaan bagi para warga binaan dan petugas.
4. Bi’ibih, Tradisi Berbagi Nasi Bungkus
Kalau di daerah lain ada tradisi berbagi takjil, di Bondowoso ada Bi’ibih, tradisi mengantarkan nasi bungkus ke tetangga. Biasanya, ini dilakukan pada tanggal 25 dan 27 Ramadan, menjelang malam-malam terakhir bulan suci.
Isinya sederhana, yaitu dengan lauk seperti serundeng kelapa. Tradisi ini jadi cara masyarakat Bondowoso untuk mempererat tali silaturahmi dan berbagi berkah di penghujung Ramadan. Sayangnya, tradisi ini mulai jarang ditemukan, terutama di daerah perkotaan.
5. Berburu Nasi Bungkus di Akhir Ramadan
Menjelang Idulfitri, ada kebiasaan unik di Bondowoso: berburu nasi bungkus! Setelah Salat Ashar, masyarakat mulai berbagi nasi bungkus, dan siapa saja boleh mengambilnya.
Suasananya mirip dengan berburu takjil gratis di kota-kota besar. Kegiatan ini bukan sekadar soal makanan, tapi juga simbol kepedulian dan rasa syukur menjelang hari kemenangan.
Meski zaman terus berubah, semoga tradisi-tradisi ini tetap lestari dan bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Karena pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tapi juga tentang kebersamaan, kepedulian, dan keberkahan.
Editor : Halo Jember