Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Pro dan Kontra Sound Horeg, Hiburan Tapi Banyak Menimbulkan Kerugian

Halo Jember • Rabu, 12 Maret 2025 | 14:00 WIB
Beberpa orang menikmati musik sound horeg (Radar Jember)
Beberpa orang menikmati musik sound horeg (Radar Jember)

HALOJEMBER - Bising, satu kata yang menggambarkan keadaan saat ada musik keras yang sedang diputar. Ketika ada suara keras yang diputar secara terus-menerus, seringkali orang merasa terganggu akan situasi yang sedang terjadi. Inilah yang membuat sound horeg menuai banyak pro dan kontra.

Sound horeg berasal dari kata sound yang berarti suara, dan horeg dalam bahasa Jawa yang berarti bergetar. Sound horeg biasanya diputar di atas sebuah truk pick up.

Truk tersebut diisi dengan tumpukan sound yang tinggi sehingga akan menghasilkan suara yang menggelegar.

Selain itu, biasanya truk yang mengangkut sound system ini akan dihias sedemikian rupa dengan lampu berwarna-warni dan banner yang khas dengan identitas daerah masing-masing.

Sound horeg ini seringkali ditemukan di daerah Jawa Timur-an, seperti Banyuwangi, Jember, Malang, Kediri, dll.

Biasanya, sound horeg diputar saat ada sebuah acara pesta, hajatan, festival atau karnaval di suatu daerah.

Musik yang seringkali diputar adalah musik yang bergenre elektronik dengan volume tingkat tinggi.

Beberapa pihak mengklaim bahwa sound horeg merupakan suatu budaya yang harus dipertahankan.

Karena bagaimanapun sound horeg yang memiliki cukup banyak peminatnya saat ini. Dari sinilah pro dan kontra terkait keberadaan sound horeg muncul di masyarakat.

Bagi penikmat dan penggiat sound horeg, kegiatan ini merupakan suatu hiburan yang memiliki sensasi tersendiri bagi mereka.

Bahkan, kerap kali ditemukan aktivitas adu sound atau battle sound, di mana beberapa kelompok akan berkompetisi dalam pemutaran sound horeg. Di sisi lain, banyak pihak yang merasa dirugikan dengan adanya sound horeg.

Keberadaan sound horeg di sekitar mereka seringkali mengganggu pendengaran bahkan menyebabkan kerusakan fisik, seperti kaca yang pecah dan genting rumah yang bisa berjatuhan.

Lebih parahnya, jika terus-terusan diputar dengan frekuensi yang tinggi, sound horeg dapat merusak pendengaran manusia.

Polusi suara yang muncul disebabkan sound horeg inilah yang menjadi dampak negatif dari adanya kultur sound horeg ini.

Tingkat kebisingan yang dimiliki sound horeg bisa mencapai 135 desibel. Angka tersebut melampaui batas kebisingan yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Jika seseorang terus-menerus terpapar suara dengan tingkat kebisingan yang tinggi, orang tersebut berisiko terkena NIHL (noise induced hearing loss) atau GAPB (gangguan pendengaran akibat bising).

Dengan demikian, sudah semestinya masyarakat harus bijak dalam memilih hiburan yang tidak menimbulkan kerugian di sekitar.

 

Penulis: MG25 Hafidzah Aulia Salsabila

 

Editor : Halo Jember
#kerugian #hiburan #sound horeg