Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Identik dengan Hari Raya Idul Fitri, Ternyata ini Filosofi Opor Ayam, Ketupat dan Lebaran

Halo Jember • Jumat, 14 Maret 2025 | 12:00 WIB

 

Opor ayam dan ketupat makanan khas saat Lebaran (Canva)
Opor ayam dan ketupat makanan khas saat Lebaran (Canva)

HALOJEMBER - Setelah sebulan berpuasa selama, hari Raya Idul Fitri tiba sebagai bentuk kemenangan umat Islam. Di Indonesia, hari Raya idul Fitri dikenal dengan kata lebaran.

Berbagai macam perayaan dan tradisi dilakukan untuk menyambut hari istimewa tersebutSelain tradisi sungkeman dan halal bihalal, masakan opor juga menjadi ciri khas menu makanan yang wajib disajikan ketika lebaran.

Tidak lengkap rasanya jika lebaran tanpa opor ayam dan ketupat apalagi saat kumpul keluarga. Lalu, pernahkah kalian berpikir mengapa lebaran identik dengan masakan tersebut? Dan apa hubungan antara opor ayam dan lebaran?

Baca Juga: Optimalkan Libur Lebaran 2025: Persiapan Mudik, Kesehatan, dan Keuangan yang Wajib Diperhatikan

Menurut sejarah opor ayam merupakan hasil akulturasi budaya asing. Opor ayam pertama kali diperkenalkan oleh saudagar asal Arab dan India yang mulai memasuki nusantara melewati daerah pesisir pada abad ke-16.

Hal inilah yang kemudian membuat opor ayam bisa didapatkan di wilayah yang berakar dari budaya Melayu dan Jawa.

Baca Juga: Libur Lebaran 2025 Dimulai Lebih Awal! Ini Jadwal Lengkap Libur Sekolah dan Cuti Bersama

Kari dikenal sebagai hidangan khas India dengan rempah-rempahnya yang kaya, sedangkan gulai adalah masakan khas Arab yang menggunakan bumbu khasnya.

Salah satu bentuk asimilasi yang terjadi adalah pengaruh Kerajaan Mughal di India, menciptakan sajian "Qorma" yang dimasak dengan susu atau yoghurt.

Di Indonesia, penggunaan santan sebagai bahan utama dalam memasak opor ayam menjadi ciri khas yang membedakannya dari qorma.

Baca Juga: Mudik Lebaran Gratis 2025: Nyaman dan Berkesan Bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur

Sedangkan dalam buku Malay Annual karya Hermanus Johannes de Graaf sejarawan asal Belanda yang meneliti tentang budaya Jawa,  menjelaskan bahwa ketupat pertama kali muncul pada pemerintahan Demak.

Saat itu, Sunan Kalijaga mengalami kesulitan untuk menyebarkan agama Islam karena penduduk Jawa kala itu memiliki kepercayaan sendiri (kejawen).

Oleh karena itu, beliau memperkenalkan ketupat untuk perayaan Hari Raya Idul Fitri yang biasanya dilakukan sepekan setelah lebaran yaitu pada 8 Syawal.

Jika ditelusuri lebih dalam, opor ayam dan ketupat memiliki makna filosofis yang membuat keduanya menjadi masakan khas menu lebaran.

Makna Filosofi Ketupat

Kata ketupat merupakan singkatan dari ngaku lepat dan laku papat . Ngaku Lepat berarti mengakui kesalahan yang sering dihubungkan dengan tradisi sungkeman ketika lebaran.

Proses sungkeman  dilakukan dengan bersimpuh di hadapan orang tua dan meminta ampun.

Sungkeman dilakukan mengandung nilai kehidupan dan mengajarkan kita akan pentingnya menghormati orang tua, rendah hati dan memohon maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan atas orang lain.

Sedangkan arti dari Laku papat yaitu menggambarkan empat tindakan yang dilakukan saat hari Raya Idul Fitri berupa lebaran (berakhirnya waktu puasa), luberan (ajakan bersedekah), leburan (leburnya dosa), dan laburan (harapan menjadi manusia yang lebih baik). 

Menurut kepercayaan orang Jawa, bentuk ketupat merepresentasikan empat arah mata angin dan satu kiblat atau pusat yang dikenal dengan istilah kiblat papat limo pancer.

Bentuk ketupat yang begitu sempurna melambangkan kemenangan umat Islam di hari Lebaran. Keempat sisi ketupat juga diartikan sebagai empat macam nafsu yang dimiliki manusia dan dikalahkan dengan berpuasa. 

Sedangkan bungkusan ketupat yang rumit mencerminkan berbagai kesalahan manusia. Saat bungkusan itu dibuka, tampak nasi putih yang melambangkan kebersihan dan kesucian hati kita setelah memohon ampun.

Filosofi Opor Ayam

Jika ada ketupat pasti ada opor ayam. Gabungan kedua masakan ini tak hanya bercita rasa lezat namun juga bermakna filosofis. Kandungan santan pada kuah opor ayam melambangkan santen yang artinya pangapunten alias minta maaf.

Selain memiliki arti meminta maaf, opor ayam juga menjadi simbol kebersamaan dan kehangatan keluarga. Hal tersebut digambarkan dengan acara makan bersama keluarga sesaat setelah pulang dari shalat Idul Fitri.

Jika kedua makanan tersebut disajikan secara bersamaan, maka ketupat dan opor ayam melambangkan permintaan maaf yang tulus serta niat untuk memperbaiki diri dengan hati yang putih dan suci. Inilah alasan mengapa kedua makanan tersebut menjadi ikonik saat lebaran tiba.

Akan tetapi, hal tersebut akan berbeda sesuai daerah terutama di luar Jawa yang memiliki makanan khas Lebaran masing-masing. Misalnya di Sumatra, rendang, gulai nangka, lontong Medan, sate Padang, arsik, menjadi menu wajib ketika Hari Raya Idul Fitri tiba.

 

Penulis : Faydhatul Baroroh M

Editor : Halo Jember
#lebaran #ketupat #tradisi #opor ayam #hari raya idul fitri