Kesenian kentrung memang bukan kesenian yang hanya dimiliki oleh masyarakat daerah Bondowoso, banyak dari daerah lain yang juga memiliki kesenian kentrung sebagai kesenian daerahnya.
Namun, yang membedakan kesenian kentrung Bondowoso dengan kesenian kentrung daerah lain adalah kesenian kentrung Bondowoso dimainkan oleh 3 orang. Hal tersebut yang menjadi ciri khas kesenian kentrung di Bondowoso.
“Meskipun kentrung itu seni peran, tapi beda dengan drama. Kentrung itu sebentar-sebentar berpantun. Kadang juga dilagukan pantunnya, dalam bahasa Madura,” ungkap pria yang sudah belasan tahun mengepalai Group Apresiasi Seni (GAS) Bondowoso tersebut. Dikutip dari radarjember.jawapos.com
Menjadi hiburan masyarakat, kesenian kentrung pada awalnya digunakan sebagai iringan berbagai kegiatan acara-acara adat seperti upacara tradisional, pernikahan atau sekedar acara hiburan untuk masyarakat Bondowoso.
Namun semakin berkembangnya zaman, kesenian kentrung tidak hanya digunakan sebagai iringan acara-acara besar, tetapi juga digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari untuk menyampaikan gagasan sampai kejadian penting yang terjadi di masyarakat.
Kesenian ini biasanya menampilkan berbagai cerita sejarah termasuk cerita rakyat atau legenda daerah yang memberikan pesan moral bagi pendengarnya.
Bukan sekedar hiburan, kesenian tradisional kentrung dianggap sebagai simbol kekayaan budaya lokal Bondowoso yang memiliki peran penting dalam kehidupan sosial.
Kesenian kentrung mempunyai nilai historis dan pesan moral yang tinggi bagi masyarakat daerah Bondowoso.
Dalam aspek inilah yang membuat kesenian kentrung menjadi kekayaan yang harus dipertahankan dan dilestarikan dari generasi saat ini sampai ke generasi yang akan datang.
Pada kenyataannya, meskipun kesenian ini harus terus bertahan dan dilestarikan, muncul beberapa tantangan untuk mewujudkan upaya pelestariannya.
Termasuk dari salah satu faktor budaya asing, semakin banyaknya pengaruh budaya modern yang masuk ke dalam kehidupan masyarakat, semakin berkurang pula minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan seni tradisional Bondowoso.
Generasi-generasi muda era sekarang lebih banyak memilih hiburan yang datang dari dunia digital.
Namun, di tengah tantangan tersebut, masyarakat Bondowoso terus berupaya untuk menjaga kelestarian kentrung. Salah satu bentuk upaya tersebut adalah melalui pengajaran seni kentrung di berbagai sanggar seni yang ada di Bondowoso.
Melalui sanggar seni, generasi muda diberi kesempatan untuk mengenal dan mempelajari seni kentrung, serta mendalami makna-makna yang terkandung di dalamnya.
Selain itu masyarakat Bondowoso tetap mengusahakan terwujudnya seni pertunjukan kentrung sebagai pengingat masyarakat akan beberapa pesan-pesan sosial di masyarakat seperti gotong royong dan keharmonisan.
Tidak hanya untuk masyarakat Bondowosonya sendiri. Mengingat semakin sedikit generasi muda yang mengenal dan tertarik pada seni tradisional ini, berbagai pihak mulai mengadakan festival dan acara budaya yang melibatkan kesenian kentrung.
Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan kesenian ini kepada masyarakat luas, termasuk para wisatawan yang berkunjung ke Bondowoso.
Jadi, tidak hanya untuk diingat oleh masyarakat dalam, masyarakat luar pun harus mengenal dan melestarikan kekayaan lokal tradisional berupa kesenian kentrung khas Bondowoso.
Seiring dengan berkembangnya teknologi, beberapa pertunjukan kentrung juga mulai dipublikasikan melalui platform digital, seperti YouTube dan media sosial, untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Dengan demikian, seni kentrung tidak hanya terbatas pada komunitas lokal, tetapi dapat dikenal oleh banyak orang di luar daerah Bondowoso.
Dengan segala upaya pelestarian yang dilakukan, kentrung diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi salah satu seni tradisional yang tetap hidup di tengah arus globalisasi.
Seni ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga simbol dari kekayaan budaya dan jati diri masyarakat Bondowoso yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis: MG25 Cintya Diyanti Utomo
Editor : Halo Jember