Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Pondok Mambaul Falah Bondowoso Lestarikan Gamelan untuk Sebarkan Risalah Islam

Halo Jember • Sabtu, 5 April 2025 | 22:00 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: DI Ponpes Mambaul Falah ini, santri juga bermain gamelan. (Ari Pangestu)
LESTARIKAN BUDAYA: DI Ponpes Mambaul Falah ini, santri juga bermain gamelan. (Ari Pangestu)

HALOJEMBER - Pondok pesantren Mambaul Falah berdiri sejak 2012 silam. Dibangun oleh seorang tokoh agama asal Kudus, Jateng.

Dia adalah Kyai Haji Ahmad Kamaluddin. Hingga saat ini, tempat tersebut banyak dikenal masyarakat, karena tradisi unik serta bangunan dengan arsitektur khas Jawa.

Pondok pesantren tersebut, menyebarkan risalah Islam kepada masyarakat menggunakan pendekatan seni dan budaya.

Bahkan disebut-sebut menjadi satu-satunya pondok di Bondowoso yang menggunakan cara seperti itu.

Mereka juga memiliki kelompok hadrah, yang biasa memainkan gamelan yang dikombinasikan dengan shalawat.

Condong tresno merupakan sebutan bagi kelompok hadrah tersebut. Mereka biasa memainkan tembang wali songo, seperti Lir-ilir hingga Sluku-sluku Batok.

Mereka tak lupa menggunakan gamelan dalam setiap penampilannya. Cara tersebut terinspirasi dari gaya dakwah yang dilakukan oleh MH Ainun Najib atau lebih akrab disapa Cak Nun.

"Kalau pengajian beliau kan menyampaikan ayat, kemudian diiringi dengan musik gamelan," jelas Ustad Fandi Ika Maulana, salah seorang pengajar di Ponpes Manbaul Falah.

Seiring berjalannya waktu, Gamelan Condong Tresno pun mulai bertransformasi dengan menambah alat musik rebana dalam permainan Gamelannya.

Tembang yang dibawakan, beberapa adalah tembang sholawat dengan iringan Gamelan.

Melalui Gamelan Condong Tresno yang lahir enam tahun setelah berdirinya Ponpes itu, pihaknya ingin melestarikan kembali masuknya Islam ke tanah Jawa dengan Gamelan.

Kendati memang diakui Ustad Fandi, kala itu banyak penolakan dari warga sekitar. “Awalnya gamelan di tanah Bondowoso, kerap dimaknai hiburan. Tak ada seni dakwahnya,” ujarnya.

Awalnya, orang yang mengikuti pengajian setiap tanggal 17 dalam kalender Jawa, hanya dihadiri oleh 100 orang saja, mereka adalah keluarga santri yang menetap di Mambaul Falah.

Namun dengan ketelatenan dan kesabaran, jumlah jamaahnya kini mencapai ribuan orang.

Gamelan yang dibawakan para santri tersebut setiap malam Jumat manis juga  berkeliling melakukan Nyekar Pepunden, atau ziarah makam leluhur dan makam.

Biasanya pasca doa bersama di makam, kemudian hadrah Gamelan Condong Tresno memainkan tembang karya Wali Songo.

"Jadi ngaji, doa dan tahlil, setelah acara selesai main gamelan di makam itu," terangnya. (ham/nur)

Editor : Halo Jember
#pondok pesantren #gamelan #islam #bondowoso #dakwah