HALOJEMBER - Tumpeng merupakan salah satu tradisi kuliner yang sarat akan makna dalam budaya Jawa. Lebih dari sekadar hidangan, tumpeng melambangkan nilai-nilai spiritual dan sosial yang mendalam, mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Tradisi tumpeng diyakini telah ada sejak era pra-Islam di Jawa, dengan pengaruh kuat dari budaya Hindu.
Bentuk kerucut pada nasi tumpeng dianggap merepresentasikan Gunung Mahameru, tempat bersemayam para dewa dalam kepercayaan Hindu.
Seiring waktu, tradisi ini berakulturasi dengan nilai-nilai Islam, menjadikan tumpeng sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kata "tumpeng" dalam tradisi Islam Jawa merupakan akronim dari "yen metu kudu sing mempeng," yang berarti "bila keluar harus dengan sungguh-sungguh."
Lauk-pauk yang menyertai tumpeng biasanya berjumlah tujuh macam, di mana angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut "pitu," melambangkan "pitulungan" atau pertolongan.
Setiap elemen dalam tumpeng memiliki makna simbolis. Misalnya, nasi berbentuk kerucut melambangkan harapan agar kehidupan selalu meningkat dan mencapai puncak kesuksesan.
Lauk-pauk yang beragam mencerminkan keseimbangan hidup dan keberagaman rezeki yang diberikan oleh Tuhan.
Dalam masyarakat Jawa, terdapat berbagai jenis tumpeng yang disesuaikan dengan konteks acara atau perayaan tertentu. Beberapa di antaranya meliputi:
1. Tumpeng Robyong: Disajikan dalam upacara pertanian sebagai simbol kesuburan dan harapan panen yang melimpah.
2. Tumpeng Pungkur: Digunakan dalam upacara kematian, melambangkan penghormatan terakhir kepada almarhum.
3. Tumpeng Nujuh Bulan: Dihidangkan dalam acara tujuh bulanan kehamilan sebagai doa untuk keselamatan ibu dan janin.
Setiap jenis tumpeng memiliki komposisi dan penyajian yang khas, mencerminkan nilai-nilai budaya dan spiritual yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa.
Meskipun zaman terus berkembang, tradisi tumpengan tetap lestari dan sering dijumpai dalam berbagai acara, seperti perayaan ulang tahun, syukuran, hingga peringatan hari kemerdekaan.
Keberadaan tumpeng dalam setiap perayaan mencerminkan rasa syukur dan kebersamaan, nilai-nilai yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat Jawa hingga kini.
Dengan demikian, tumpeng bukan sekadar hidangan, melainkan manifestasi dari filosofi hidup masyarakat Jawa yang menghargai harmoni, keseimbangan, dan rasa syukur dalam setiap aspek kehidupan.
Penulis: MG25 Nasisya Awaleta Kardestya
Editor : Halo Jember