HALOJEMBER - Pondok pesantren Mambaul Falah dikenal memiliki keunikan dengan mengajarkan dan mengenalkan risalah Islam melalui cara yang berbeda.
Selain itu, Pondok pesantren tersebut juga memiliki berbagai keunikan lainnya. Baik dari segi arsitektur bangunan, tradisi, hingga kebiasaan yang mereka lakukan secara rutin.
Salah satunya kebiasaan menggunakan pakaian adat Jawa setiap tanggal tertentu.
Pondok pesantren Mambaul Falah terletak di Desa Wonosuko, Kecamatan Tamanan. Kurang lebih berjarak 14 kilometer dari pusat kota Bondowoso.
Butuh waktu perjalanan kurang 24 menit untuk mencapai tempat itu. Aksesnya cukup mudah, dapat dilewati menggunakan roda dua atau roda empat.
Ketika memasuki tempat itu, pengunjung akan dimanjakan dengan arsitektur bangunannya. Nuansa Jawa kental terlihat di pondok itu. Baru masuk saja, akan disambut pintu gapura layaknya zaman kerajaan.
Ketika masuk, pengunjung akan disuguhkan dengan banyaknya ukiran Gunungan Wayang yang terdapat pada dinding ruangan.
Jika ingin mengunjungi tempat itu, sebaiknya tepat pada tanggal 17 kalender Jawa. Mereka memiliki kebiasaan unik pada waktu tersebut.
Semua santri akan menggunakan pakaian adat jawa. Sehingga kental dengan suasana tradisional.
Salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Mambaul Falah, Fandi Ika Maulana mengatakan, santri mengenakan baju adat Jawa, yakni blangkon dan Surjan.
Kemudian, santriwati mengenakan kebaya dan jarik setiap tanggal 17 kalender Jawa setiap bulannya.
“Baju adat ini tak hanya sekedar pakaian. Namun, memiliki makna nasehat Islam,” imbuhnya.
Sementara itu, santri asal Jember, Siti Nurlaili menyebut, penggunaan pakaian adat Jawa dilakukan setiap tanggal 17 kalender Jawa.
Dimulai dari ba'da Ashar hingga ba'da Ashar hari berikutnya. Meski dia lahir dari keluarga dengan adat madura, namun mengaku bangga ketika menggunakan pakaian adat tersebut.
Penggunaan pakaian adat Jawa itu, merupakan upaya melestarikan budaya. Selain sebagai menjadi media untuk mengingatkan para santri, bahwa Wali Songo yang memperkenalkan Islam dengan budaya Jawa.
"Beliau bukan hanya tentang agama saja, diperpadukan antara agama dan budaya. Bahwa Wali Songo dulu itu memperpadukan," tuturnya. (ham/nur)
Editor : Halo Jember