Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Fenomena Eksorsisme dalam Kehidupan Nyata: Saat Iman Bertemu Kekuatan Tak Kasat Mata

Halo Jember • Rabu, 16 April 2025 | 22:00 WIB
 
eksorsisme, yaitu proses pengusiran roh jahat, setan, atau entitas gaib yang diyakini merasuki seseorang, tempat, atau benda yang biasanya dilakukann oleh gereja Katolik. (Canva)
eksorsisme, yaitu proses pengusiran roh jahat, setan, atau entitas gaib yang diyakini merasuki seseorang, tempat, atau benda yang biasanya dilakukann oleh gereja Katolik. (Canva)

RADAR JEMBER - Dalam berbagai kisah keagamaan, cerita rakyat, hingga budaya populer, istilah "exorcist" atau pengusir setan kerap kali muncul sebagai figur sentral yang memerangi kekuatan jahat. 

Istilah ini mungkin terdengar menyeramkan, namun sebenarnya memiliki sejarah panjang dan makna mendalam, khususnya dalam tradisi spiritual dan keagamaan.

Secara umum, exorcist merujuk pada seseorang yang melakukan ritual eksorsisme, yaitu proses pengusiran roh jahat, setan, atau entitas gaib yang diyakini merasuki seseorang, tempat, atau benda. 

Praktik ini bertujuan untuk membebaskan individu dari pengaruh negatif yang bersifat supranatural. Dalam konteks agama Kristen, khususnya dalam Gereja Katolik, eksorsisme adalah bagian dari ritus resmi Gereja. 

Seorang eksorsis biasanya adalah imam yang telah ditunjuk secara khusus oleh uskup dan telah menjalani pelatihan teologis dan spiritual untuk menangani kasus kerasukan yang serius.

Namun, istilah ini juga muncul dalam tradisi lain, seperti dalam Islam (ruqyah), Hinduisme, hingga praktik shamanisme dan animisme, yang menunjukkan bahwa eksorsisme bukan hanya milik satu agama atau budaya saja.

Kata exorcist berasal dari bahasa Latin exorcista, yang berarti "orang yang bersumpah atas nama Tuhan untuk mengusir setan". 

Praktik ini sudah dikenal sejak zaman kuno, bahkan sebelum Kekristenan terbentuk. Dalam tradisi Yahudi kuno, para nabi dan imam memiliki peran serupa dalam menangani gangguan spiritual.

Dalam perjanjian baru Alkitab, Yesus sendiri beberapa kali digambarkan mengusir setan dari orang-orang yang kerasukan. 

Hal ini menjadi dasar teologis bagi Gereja dalam mempercayai eksorsisme sebagai bagian dari pelayanan rohani.

Pada abad pertengahan, eksorsisme menjadi praktik yang umum di kalangan rohaniwan, meskipun kerap kali disalahpahami dan dicampuradukkan dengan takhayul atau praktik sihir. 

Seiring waktu, Gereja Katolik memperketat prosedur eksorsisme agar tidak sembarangan dilakukan dan hanya ditangani oleh imam yang kompeten secara rohani dan psikologis.

Ritual eksorsisme yang resmi di Gereja Katolik disebut "Ritus Eksorsisme Agung", yang tertuang dalam buku Rituale Romanum

Prosedur ini hanya dilakukan setelah penyelidikan menyeluruh, termasuk penilaian medis dan psikologis terhadap orang yang diduga kerasukan, untuk memastikan bahwa gangguan tersebut bukan akibat gangguan mental seperti skizofrenia atau epilepsi.

Dalam ritualnya, eksorsist menggunakan doa-doa khusus, air suci, salib, dan terkadang relikui kudus. 

Ia memohon kepada Tuhan dan menyerukan agar roh jahat meninggalkan tubuh atau tempat yang dirasuki, dalam nama Yesus Kristus.

Ritual ini bisa berlangsung dalam satu sesi singkat atau bahkan berhari-hari hingga berminggu-minggu, tergantung dari kasusnya. 

Dalam banyak kasus, kehadiran eksorsis menjadi harapan terakhir bagi keluarga yang merasa tak berdaya menghadapi gejala-gejala supranatural.

Eksorsisme mendapatkan perhatian luas berkat pengaruh budaya populer, terutama melalui film-film seperti "The Exorcist" (1973) yang melegenda dan menjadi ikon horor. 

Film ini menggambarkan seorang gadis yang kerasukan setan dan perjuangan dua imam untuk mengusirnya, dengan visual dan narasi yang mengguncang pemirsa.

Sejak saat itu, banyak film dan serial TV menampilkan tokoh eksorsis, baik dalam genre horor, misteri, maupun fantasi. 

Meski film sering melebih-lebihkan, ketertarikan masyarakat pada tema eksorsisme menunjukkan adanya keresahan yang lebih besar terhadap hal-hal gaib, serta keinginan untuk memahami dunia tak kasat mata.

Namun, tidak sedikit pula yang menanggapinya dengan skeptisisme. Para psikolog dan ilmuwan berpendapat bahwa banyak kasus "kerasukan" lebih tepat dijelaskan melalui gangguan kejiwaan atau trauma psikologis. 

Meski demikian, sebagian orang tetap meyakini bahwa ada kekuatan di luar nalar manusia yang memerlukan pendekatan spiritual.

Keberadaan eksorsist dan praktik eksorsisme berada di antara dua dunia: iman dan ilmu pengetahuan. 

Bagi sebagian orang, ini adalah bagian dari keyakinan religius yang mendalam; bagi yang lain, ini adalah bentuk pelarian dari kenyataan atau simbol perjuangan melawan ketakutan terdalam manusia.

Yang jelas, keberadaan eksorsist mencerminkan bahwa manusia, sejak dahulu, selalu mencari cara untuk melindungi dirinya dari yang tak terlihat—baik melalui doa, ilmu, maupun kepercayaan.

 Penulis: MG25 Maria Yakomin Angella Unawekla

Editor : Halo Jember
#gereja katolik #salib #eksorsisme