HALOJEMBER - Setiap tahun, ribuan jamaah dari berbagai wilayah di Indonesia memadati Dusun Bulan, Desa Banyurejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk melaksanakan Haul Habib Ahmad bin Ali Bafaqih dan haul ayahandanya, Habib Ali bin Ahmad Bafaqih, yang akrab dikenal sebagai Habib Tempel.
Pada tahun ini, Haul Habib Ahmad bin Ali Bafaqih ke-39 bersamaan dengan Haul ke-91 ayahandanya, Habib Ali bin Ahmad Bafaqih, akan digelar pada 26–27 April 2025 di Ndalem Habib Ahmad bin Ali Bafaqih, Kemusuh, Bulan, Banyurejo, Tempel, Sleman, DIY.
Panitia penyelenggara haul tahun ini berharap acara ini dapat terus mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus menjadi momentum penguatan karakter spiritual di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Kegiatan haul ini tak hanya menjadi sebuah rutinitas kegiatan spiritual tahunan. Tetapi juga menjadi tradisi akan budaya religi yang terus dilestarikan sebab mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sekitarnya.
Sejatinya, wafatnya Habib Ahmad terjadi di bulan Sya’ban sekitar tahun 1407 Hijriah. Haulnya kemudian dilaksanakan saat bulan Syawal.
Hal ini dilaksanakan sekaligus bersamaan dengan haul ayah beliau, Habib Ali bin Ahmad Bafaqih yang sudah menjadi tradisi selalu diperingati pada akhir bulan Syawal.
Habib Ahmad lahir sebagai tunadaksa, yaitu di amana kondisi fisiknya tak sesempurna orang lain. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang religius, tetapi karena kekurangannya inilah yang membuat kehidupannya tak selalu mudah.
Meski demikian, ia dikenal luas oleh masyarakat karena kesabaran hatinya yang luar biasa dalam menghadapi berbagai cobaan dalam hidup.
Bahkan diceritakan bahwa beliau sempat berjualan korek api untuk menyambung hidup saat muda.
Ketabahan Habib Ahmad inilah yang menjadikannya sosok teladan yang selalu dikenang masyarakat hingga kini.
Makamnya kini selalu dipenuhi oleh kerumunan peziarah dari berbagai daerah Indonesia.
Tradisi haul pertama kali dilaksanakan sejak wafatnya Habib Ahmad, sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengenang jejak-jejak spiritual beliau.
Biasanya, rangkaian acara pada haul yang diselenggarakan tiap tahun itu meliputi pembacaan doa bersama, ziarah ke makam Habib Ahmad dan ayahandanya, pengajian umum oleh habaib dan ulama dari berbagai daerah, hingga pagelaran kesenian Islami tradisional yang turut menguatkan nilai dan tradisi budaya lokal.
Melalui haul ini, diharapkan kesabaran dan juga keikhlasan Habib Ahmad bin Ali Bafaqih semasa hidupnya dapat terus diteladani dan menginspirasi masyarakat luas, tak hanya di Jogja tetapi juga di seluruh Indonesia.
Penulis: MG25 Hafidzah Aulia Salsabila
Editor : Halo Jember