HALOJEMBER - Dalam masyarakat yang multikultural dan multireligius seperti Indonesia, hidup rukun dan damai antar umat beragama bukan hanya sebuah cita-cita, melainkan juga kebutuhan yang mendesak.
Perbedaan keyakinan yang ada sejak lama menjadi bagian dari kekayaan bangsa ini, namun tanpa sikap toleransi yang kuat, perbedaan tersebut bisa menjadi sumber konflik.
Toleransi menjadi kata kunci untuk menciptakan kehidupan sosial yang harmonis, saling menghargai, dan damai.
Baca Juga: Momen Paskah, Saat Tepat Perkuat Toleransi Antar Umat Beragama
Toleransi dalam beragama bukan berarti mengorbankan keyakinan pribadi, melainkan kemampuan untuk menerima dan menghormati hak orang lain dalam menjalankan agamanya.
Dengan kata lain, toleransi adalah bentuk kedewasaan spiritual dan sosial yang memampukan seseorang untuk hidup berdampingan secara damai dengan mereka yang memiliki pandangan berbeda.
Toleransi dalam konteks keberagamaan mencakup beberapa aspek penting. Pertama, penghormatan terhadap kebebasan individu dalam memilih dan menjalankan agamanya.
Baca Juga: Tanamkan Toleransi hingga Kepedulian Sosial, Gerakan Seniman Kampanyekan Perdamaian
Kedua, tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain. Ketiga, menghindari ujaran kebencian, prasangka, atau sikap diskriminatif terhadap kelompok agama lain.
Menurut tokoh agama dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di salah satu daerah di Jawa Timur, KH. Ma'ruf Hidayat, toleransi bukan sekadar semboyan, tapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
"Kita bisa berbeda dalam keyakinan, tetapi harus tetap bersatu dalam kemanusiaan. Toleransi adalah jalan tengah agar kita tidak terjebak pada fanatisme sempit," ujarnya.
Baca Juga: Ducati Desmo450 MX Masuk Jalur Produksi, Siap Guncang Kelas Motocross Dunia
Membangun sikap toleran tidak bisa instan. Diperlukan pendidikan dan pembiasaan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Kurikulum pendidikan di Indonesia telah mulai mengintegrasikan nilai-nilai toleransi dan keberagaman melalui pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta mata pelajaran agama.
Namun demikian, peran keluarga tetap menjadi yang paling utama. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang penuh kebencian atau fanatisme berlebihan cenderung meniru perilaku tersebut.
Oleh karena itu, orang tua perlu menjadi contoh dalam bersikap terbuka, menghargai perbedaan, dan tidak menyebarkan ujaran kebencian, terutama di era digital seperti sekarang.
Meski sudah banyak upaya dilakukan untuk memupuk toleransi, tantangan tetap ada. Penyebaran informasi hoax, propaganda keagamaan yang ekstrem, serta politisasi agama menjadi hambatan serius.
Media sosial kerap menjadi alat untuk memperkuat sentimen negatif terhadap kelompok agama tertentu.
Menurut survei yang dilakukan oleh Wahid Foundation, intoleransi di ruang digital mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini memperkuat urgensi pengawasan dan literasi digital agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) yang menyesatkan.
Tokoh agama memiliki peran strategis dalam menjaga kerukunan. Mereka tidak hanya menjadi panutan dalam komunitasnya, tetapi juga berperan sebagai jembatan komunikasi antarumat beragama.
Ceramah-ceramah yang menyejukkan dan membangun semangat persatuan sangat dibutuhkan untuk menanggulangi radikalisme dan intoleransi.
Pemerintah, melalui Kementerian Agama dan berbagai instansi terkait, juga terus mendorong dialog antar agama, pendirian rumah ibadah yang adil, serta memperkuat regulasi untuk mencegah diskriminasi.
Program moderasi beragama yang digagas pemerintah menjadi langkah konkret dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan beragama dan hidup berdampingan secara damai.
Toleransi bukan sekadar sikap pasif, tetapi tindakan aktif untuk menjaga perdamaian. Masyarakat yang toleran adalah masyarakat yang kuat, karena mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Dalam suasana menjelang Hari Raya besar keagamaan yang sering kali berdekatan antara satu agama dan lainnya, mari kita jadikan momen tersebut sebagai ajang untuk mempererat persaudaraan lintas iman.
Hidup damai dalam keberagaman bukanlah hal yang mustahil jika semua pihak bersedia membuka hati, berdialog, dan saling menghargai.
Dengan toleransi, Indonesia bisa tetap kokoh sebagai negara yang majemuk, adil, dan beradab.
Penulis: MG25 Maria Yakomin Angella Unawekla
Editor : Halo Jember