HALOJEMBER - Indonesia, negeri yang kaya akan budaya dan sejarah, menyimpan banyak peninggalan masa lalu yang masih berdiri kokoh hingga kini.
Salah satu jejak sejarah yang menarik perhatian adalah keberadaan gereja-gereja tua yang menjadi saksi perkembangan agama Kristen di Nusantara.
Selain nilai spiritualnya, gereja-gereja ini juga menyimpan kisah panjang perjuangan, akulturasi budaya, dan arsitektur klasik yang memesona.
Berikut ini adalah deretan gereja bersejarah di Indonesia yang masih berdiri megah hingga hari ini.
1.Gereja Sion – Jakarta Barat
Dikenal sebagai gereja tertua di Indonesia, Gereja Sion terletak di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat.
Gereja ini dibangun pada tahun 1695 oleh komunitas Portugis yang diasingkan oleh Belanda, yang dikenal sebagai Mardijkers.
Gereja ini dahulu bernama Portugeesche Buitenkerk, yang berarti “Gereja Portugis di Luar Tembok Kota”.
Bangunan bergaya kolonial Belanda ini didominasi oleh dinding bata tebal, jendela-jendela besar, dan atap kayu jati yang masih asli.
Interiornya sederhana namun anggun, mencerminkan kesederhanaan hidup jemaatnya saat itu. Hingga kini, gereja Sion masih aktif digunakan untuk kebaktian setiap minggu.
2.Gereja Blenduk – Semarang
Di jantung kawasan Kota Lama Semarang berdiri megah Gereja Blenduk, ikon sejarah dan arsitektur yang dibangun pada tahun 1753.
Nama “Blenduk” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “kubah”, mengacu pada atap bulat besar yang menjadi ciri khas gereja ini.
Gereja ini awalnya didirikan oleh jemaat Protestan asal Belanda. Dalam sejarahnya, gereja ini telah beberapa kali mengalami renovasi, termasuk penambahan menara kembar dan jam di kedua sisi.
Arsitektur neoklasik dengan sentuhan Eropa menjadikan bangunan ini tak hanya tempat ibadah, tetapi juga objek wisata sejarah yang populer di Semarang.
3.GPIB Immanuel – Jakarta Pusat
Terletak di kawasan Gambir, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel merupakan peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1835.
Awalnya gereja ini dikenal sebagai Willemskerk, nama yang diberikan sebagai penghormatan kepada Raja Willem I dari Belanda.
Bangunan gereja ini mencerminkan gaya arsitektur neo-klasik dengan pilar-pilar besar dan kubah tinggi yang menjulang.
Interior gereja ditata elegan dengan kursi kayu panjang dan mimbar klasik. Lokasinya yang strategis di tengah kota menjadikan GPIB Immanuel mudah diakses dan sering dikunjungi wisatawan maupun jemaat lokal.
4. Gereja Tua Sikka – Flores, NTT
Di ujung timur Indonesia, tepatnya di Desa Sikka, Flores, berdiri Gereja Tua Sikka yang dibangun pada tahun 1899 oleh misionaris Portugis.
Gereja ini mencerminkan akulturasi antara budaya Katolik Eropa dan lokal Flores.
Bangunan gereja terbuat dari batu karang dan kayu dengan atap tinggi yang sederhana, namun kuat.
Dinding dalam gereja dihiasi dengan kain tenun khas Sikka, mencerminkan identitas lokal yang kental.
Gereja ini menjadi simbol perjumpaan budaya, agama, dan sejarah yang tak lekang oleh waktu.
5. Gereja Tugu – Jakarta Utara
Gereja Tugu, yang dibangun pada tahun 1747, adalah gereja tua yang berada di Kampung Tugu, Jakarta Utara.
Dibangun oleh komunitas keturunan Portugis (Mardijkers), gereja ini menjadi saksi keberadaan masyarakat Tugu yang unik dengan budaya Portugis-Betawi.
Bangunannya sederhana, terbuat dari batu dan kayu, dengan langit-langit tinggi dan jendela besar yang memberikan pencahayaan alami.
Gereja ini tidak hanya penting dalam konteks keagamaan, tetapi juga budaya karena komunitas Tugu masih melestarikan musik tradisional keroncong Tugu dan bahasa kreol Portugis.
Melestarikan Warisan Iman dan Budaya
Gereja-gereja tua ini tidak sekadar bangunan fisik, melainkan simbol dari perjalanan panjang umat Kristiani di Indonesia.
Mereka menjadi saksi bisu berbagai peristiwa, mulai dari masa penjajahan, perkembangan kota, hingga perubahan zaman.
Pelestarian gereja-gereja bersejarah ini menjadi tanggung jawab bersama, baik dari pemerintah, gereja, maupun masyarakat.
Selain untuk tujuan keagamaan, keberadaan mereka juga penting untuk pendidikan sejarah, pariwisata budaya, dan pelestarian arsitektur klasik.
Dengan tetap berdirinya gereja-gereja ini, Indonesia menunjukkan bahwa nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan sejarah dapat terus hidup berdampingan dalam harmoni.
Penulis: MG25 Maria Yakomin Angella Unawekla
Editor : Halo Jember