Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mengungkap Fakta Dibalik Film Horor Eksorsisme, Pertempuran Antara Iman Kepercayaan dan Tipu Muslihat Iblis

Halo Jember • Rabu, 23 April 2025 | 01:30 WIB
 
eksorsisme, yaitu proses pengusiran roh jahat, setan, atau entitas gaib yang diyakini merasuki seseorang, tempat, atau benda yang biasanya dilakukann oleh gereja Katolik. (Canva)
eksorsisme, yaitu proses pengusiran roh jahat, setan, atau entitas gaib yang diyakini merasuki seseorang, tempat, atau benda yang biasanya dilakukann oleh gereja Katolik. (Canva)
 
HALOJEMBER - Eksorsis atau ritual pengusiran setan telah menjadi tema klasik dan tak lekang oleh waktu dalam perfilman Barat. 

Sejak kemunculan film The Exorcist pada tahun 1973 yang mengejutkan publik dengan adegan-adegan menegangkan dan kontroversial, genre horor bertema eksorsis terus bermunculan dalam berbagai versi dan gaya.

Mulai dari The Conjuring hingga The Exorcism of Emily Rose, tema ini tampaknya tak pernah kehilangan daya tarik. 

Tapi apa yang membuat eksorsis begitu digemari oleh sineas dan penonton film Barat?

Salah satu faktor utama popularitas tema eksorsis di Barat adalah kuatnya akar keagamaan, khususnya dalam tradisi Kristen Katolik dan Protestan.

Dalam kepercayaan ini, setan dan roh jahat diyakini nyata dan dapat merasuki manusia. Gereja Katolik Roma bahkan memiliki prosedur resmi untuk praktik eksorsis, yang dilakukan oleh imam yang sudah ditunjuk dan dilatih khusus.

“Eksorsis memberi visualisasi langsung dari pertempuran antara kebaikan dan kejahatan, antara Tuhan dan iblis,” ujar Prof. Jonathan Myers, dosen Teologi dan Budaya Pop di University of California Los Angeles. “Itu narasi universal yang mudah diterima dan sangat cocok diangkat dalam film," lanjutnya.

Tema eksorsis juga menyentuh ketakutan kolektif manusia: kehilangan kendali atas diri sendiri. 

Bayangkan seseorang yang tiba-tiba berbicara dalam bahasa asing, melukai dirinya sendiri, atau menunjukkan kekuatan supranatural. 

Ketakutan ini sangat primal berasal dari ketidakpastian tentang tubuh, jiwa, dan eksistensi manusia.

Film eksorsis juga sering mengangkat isu keluarga dan iman. Dalam The Conjuring, misalnya, kita tak hanya menyaksikan pertarungan melawan iblis, tapi juga ikatan emosional keluarga dan perjuangan spiritual seorang pendeta. 

Elemen-elemen ini menambah kedalaman cerita, membuat penonton tidak hanya takut, tapi juga tersentuh secara emosional.

Dari segi teknis, tema eksorsis memberikan peluang besar untuk eksplorasi efek visual dan audio yang menegangkan. 

Adegan tubuh melayang, suara iblis yang menyeramkan, hingga perubahan fisik drastis pada karakter yang kerasukan, memberi tantangan sekaligus daya tarik bagi para sutradara horor.

James Wan, sutradara The Conjuring, pernah mengatakan bahwa eksorsis adalah “sumber ketegangan horor yang tak ada habisnya karena sangat manusiawi tapi juga sangat supernatural.” 

Dalam wawancara dengan Variety show, ia menyebutkan bahwa "ketakutan terbaik datang dari sesuatu yang tak terlihat tapi diyakini ada."

Dari sisi bisnis, film bertema eksorsis terbukti laris. The Exorcist (1973) menghasilkan lebih dari $400 juta secara global dan dinobatkan sebagai salah satu film horor terlaris sepanjang masa.

The Conjuring Universe bahkan mencetak rekor sebagai franchise horor tersukses dengan pendapatan lebih dari $2 miliar di seluruh dunia.

Film semacam ini seringkali dibuat dengan anggaran yang relatif rendah tapi bisa menghasilkan keuntungan besar karena minat penonton yang tinggi. 

Kombinasi ini membuat tema eksorsis menjadi “investasi aman” bagi banyak studio film.

Di balik semua itu, ada ketertarikan abadi manusia terhadap dunia gaib dan hal-hal yang tak bisa dijelaskan secara rasional. 

Meskipun dunia Barat sangat maju secara ilmiah dan teknologi, kebutuhan akan spiritualitas dan rasa penasaran terhadap dunia lain tetap ada.

“Eksorsis menawarkan sensasi sekaligus perenungan,” kata Dr. Lisa Chambers, psikolog budaya dari University of Chicago. 

“Ia memberi ruang bagi penonton untuk mengeksplorasi ketakutan terdalam mereka, sambil bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya nyata," lanjutnya

Eksorsis bukan hanya cerita tentang iblis dan pengusiran roh jahat. Ia adalah cermin dari ketakutan, kepercayaan, dan kompleksitas manusia. 

Dalam dunia perfilman Barat, tema ini terbukti mampu bertahan puluhan tahun dan terus berevolusi mengikuti zaman. 

Selama manusia masih takut akan yang tak terlihat, film bertema eksorsis tampaknya akan terus menghantui layar lebar—dan imajinasi kita.


Penulis: MG25 Maria Yakomin Angella Unawekla

Editor : Halo Jember
#gereja katolik #horor #iblis #eksorsisme