Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mengenal Ciri Khas Penganut Kejawen: Menjaga Keseimbangan Hidup Lewat Laku Spiritual Jawa

Halo Jember • Rabu, 23 April 2025 | 00:00 WIB
Kejawen sebuah sistem spiritual dan filosofi hidup yang berakar kuat dalam budaya Jawa. (Jawa Pos)
Kejawen sebuah sistem spiritual dan filosofi hidup yang berakar kuat dalam budaya Jawa. (Jawa Pos)

HALOJEMBER - Kejawen sebagai salah satu bentuk spiritualitas asli Nusantara terus menarik perhatian publik, terutama di tengah kembalinya minat generasi muda pada kearifan lokal.

Sebagai ajaran yang mengakar dalam budaya Jawa, Kejawen tidak hanya menawarkan pandangan spiritual, tetapi juga membentuk cara hidup para pengikutnya secara menyeluruh.

Mereka yang mengikuti aliran Kejawen biasanya menunjukkan ciri khas tersendiri dalam sikap, pola pikir, hingga laku hidup sehari-hari.

 Baca Juga: Kejawen dan Agama-agama Lainnya: Menelusuri Akar Spiritualitas Jawa dalam Lanskap Kepercayaan Nusantara

Berbeda dengan pemeluk agama formal yang menjalankan ibadah berdasarkan tata aturan yang telah dibakukan.

Penganut Kejawen menjalani keyakinannya secara fleksibel, lebih menekankan pada keselarasan antara batin dan lingkungan sekitar.

1. Menjunjung Tinggi Nilai Keseimbangan dan Keselarasan

Salah satu ciri paling menonjol dari penganut Kejawen adalah komitmen mereka terhadap keseimbangan hidup.

Dalam ajaran Kejawen, hidup yang baik adalah hidup yang harmonis — antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan kekuatan spiritual yang lebih tinggi.

 Baca Juga: Tradisi Tolak Bala dan Pengaruhnya terhadap Ketakutan akan Santet

“Bagi kami, hidup itu tentang menjaga keselarasan. Tidak boleh berlebihan, tidak boleh serakah. Semua ada waktunya, semua ada ukurannya,” ujar Ki Purbo, seorang sesepuh Kejawen di daerah Karanganyar.

2. Praktik Laku dan Tapa Brata

Para penghayat Kejawen dikenal menjalani laku, yaitu serangkaian latihan spiritual yang bertujuan untuk membersihkan batin dan mendekatkan diri pada Sang Hyang.

Laku ini bisa berupa tapa brata (puasa dan menyepi), tirakat, semedi (meditasi dalam diam), hingga menjaga perilaku dan ucapan dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan ibadah formal, praktik spiritual Kejawen bersifat sangat pribadi dan tidak ditujukan untuk dipamerkan. Mereka percaya bahwa ketulusan batin lebih penting daripada tampilan luar.

3. Menghormati Leluhur dan Melestarikan Tradisi

Penganut Kejawen sangat menjunjung tinggi penghormatan kepada leluhur. Mereka rutin melakukan ziarah kubur, mengadakan selametan, dan memperingati hari-hari tertentu seperti wetonan (hari kelahiran menurut kalender Jawa).

Bagi mereka, hubungan dengan leluhur tidak terputus meskipun telah tiada.

Kebiasaan ini sering kali terlihat dalam tradisi-tradisi seperti nyadran (bersih kubur) menjelang Ramadan atau acara kenduri di desa-desa. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan dan
ungkapan syukur atas berkah hidup.

4. Sikap Hidup "Nrimo" dan Tidak Ambisius

Penganut Kejawen umumnya memiliki kepribadian yang tenang, sabar, dan tidak mudah terpancing emosi.

Mereka memegang teguh prinsip nrimo ing pandum, yakni menerima segala sesuatu yang terjadi sebagai bagian dari kehendak Tuhan. Prinsip ini bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi lebih kepada sikap ikhlas dalam menjalani kehidupan.

Sikap tidak ambisius dan menghindari pertikaian juga menjadi ciri khas lainnya. Dalam menghadapi konflik, mereka cenderung memilih jalan damai dan menjaga hubungan baik dengan semua orang.

5. Tidak Fanatik dan Terbuka terhadap Perbedaan

Salah satu nilai penting dalam Kejawen adalah keterbukaan. Para pengikut Kejawen biasanya tidak fanatik terhadap satu ajaran saja, bahkan banyak dari mereka yang tetap menjalankan ritual agama formal seperti Islam, Kristen, atau Hindu, bersamaan dengan tradisi Kejawen.

“Agama bisa bermacam-macam, tapi hakikat Tuhan itu satu. Yang penting niat kita tulus dan perbuatan kita baik,” kata Mbah Karjo, seorang penghayat Kejawen dari Gunung Kidul.

6. Lebih Dekat dengan Alam dan Kehidupan Spiritual

Kehidupan para penganut Kejawen biasanya dekat dengan alam. Mereka percaya bahwa alam adalah bagian dari kehidupan spiritual dan menjadi media untuk berkomunikasi dengan energi ilahi.

Tak jarang mereka memilih tinggal di tempat yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota, untuk lebih mudah menjalani semedi dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Banyak yang percaya bahwa gunung, hutan, dan sungai memiliki energi spiritual tertentu yang bisa menjadi tempat bertapa atau berdoa.

Inilah mengapa lokasi seperti Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan gua-gua di pegunungan sering menjadi tempat favorit para penghayat Kejawen untuk menyendiri.

7. Tidak Mengajak atau Berdakwah, Tapi Menjadi Teladan

Berbeda dengan agama-agama yang mengajarkan penyebaran ajaran (dakwah atau misi), Kejawen tidak mengenal konsep misionaris.

Ajaran Kejawen tidak dipaksakan kepada orang lain. Mereka lebih memilih menjadi contoh dalam sikap dan perbuatan daripada mengajak secara langsung.

Kehidupan yang sederhana, damai, penuh toleransi, dan menghargai perbedaan menjadi cara mereka menunjukkan nilai-nilai Kejawen. “Kejawen itu bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk dijalani,” ungkap Ki Suro, tokoh budaya di Solo.

Ajaran Luhur yang Tetap Relevan

Meski Kejawen kerap dianggap kuno atau mistis oleh sebagian orang, nilai-nilai yang diajarkannya terbukti relevan hingga kini.

Dalam dunia yang semakin cepat dan penuh tekanan, ajaran tentang keseimbangan, ketenangan batin, dan penghormatan terhadap alam dan sesama menjadi pelajaran berharga.

Para penghayat Kejawen membuktikan bahwa spiritualitas tidak harus formal atau seragam. Justru dengan keragaman seperti inilah Indonesia semakin kaya — bukan hanya dalam budaya, tapi juga dalam cara memandang hidup dan kepercayaan.

 

 Penulis: MG25 Okky Filzah Amalina

Editor : Halo Jember
#spiritual #jawa #kejawen