Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Gus Iqdam: Menyebarkan Islam Rahmatan Lil Alamin Lewat Majelis Pemuda Tersesat

Halo Jember • Minggu, 27 April 2025 | 23:00 WIB
 
Gus Iqdam ulama muda yang sedang naik daun karena dakwahnya yang ringan. (Instagram)
Gus Iqdam ulama muda yang sedang naik daun karena dakwahnya yang ringan. (Instagram)

HALOJEMBER - Di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, keberadaan tokoh agama yang mampu menjangkau semua kalangan dengan pendekatan yang lembut, humanis, dan relevan sangat dibutuhkan.

Salah satu sosok yang hadir menjawab kebutuhan itu adalah Gus Iqdam, seorang ulama muda asal Blitar yang berhasil menciptakan ruang dakwah yang inklusif dan merangkul, melalui wadah unik bernama “Majelis Pemuda Tersesat”.

Nama yang terdengar nyeleneh ini justru menjadi jembatan kuat bagi banyak orang yang merasa jauh dari agama untuk kembali mendekat tanpa rasa takut dan dihakimi.

Gus Iqdam dikenal dengan gaya ceramahnya yang khas: santai, diselingi humor, dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat.

Namun di balik penyampaiannya yang ringan, terdapat pesan-pesan keislaman yang dalam dan menyentuh hati.

Gus Iqdam bukan hanya sekadar menyampaikan ilmu agama, melainkan mengajak jamaah untuk merasakan keindahan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin agama yang membawa rahmat dan kasih sayang bagi seluruh makhluk.

Dalam setiap majelisnya, Gus Iqdam selalu menekankan bahwa Islam adalah agama yang penuh cinta dan pengampunan. Ia mengajak jamaahnya, terutama anak-anak muda, untuk tidak malu kembali kepada Allah, walau memiliki masa lalu yang kelam.

Ia percaya bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, dan tugas agama bukan untuk menghakimi, melainkan membimbing.

Dalam berbagai kesempatan, ia mengatakan bahwa yang paling penting dalam hidup bukanlah masa lalu seseorang, melainkan niat dan usahanya untuk terus memperbaiki diri.

Ceramah-ceramah Gus Iqdam kerap viral di media sosial. Salah satu momen yang banyak menyentuh hati adalah ketika ia bercerita tentang perjuangan seorang ibu yang tulus mencintai anak-anaknya, meskipun sering disakiti.

Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Gus Iqdam mengingatkan jamaah tentang pentingnya menghormati dan merawat orang tua.

Tayangan itu menyebar luas di TikTok, Instagram, dan YouTube, ditonton jutaan orang, dan memicu banyak netizen untuk merenung bahkan menangis.

Ceramah yang penuh emosi dan ketulusan itu menjadi contoh nyata bagaimana agama bisa disampaikan dengan hati dan diterima dengan hati pula.

Fenomena Majelis Pemuda Tersesat juga menarik perhatian banyak kalangan, mulai dari para pelajar, mahasiswa, pekerja muda, hingga tokoh-tokoh masyarakat dan selebriti.

Banyak yang mengaku merasa nyaman datang ke majelis ini karena atmosfernya yang tidak mengintimidasi. Di sini, tak ada kursi yang hanya diperuntukkan untuk ‘orang suci’. Semua diperlakukan setara.

Gus Iqdam percaya bahwa dakwah harus dimulai dari empati, bukan dari asumsi atau penghakiman.

Tidak jarang, ia mengkritik gaya dakwah yang terlalu kaku dan hanya fokus pada aturan tanpa menyentuh sisi psikologis jamaah.

Menurutnya, dakwah yang efektif adalah dakwah yang bisa membuat seseorang merasa diterima dulu, baru kemudian dibimbing.

Hal inilah yang membuat Gus Iqdam menjadi begitu dekat dengan anak-anak muda yang selama ini mungkin merasa bahwa masjid dan majelis tak lagi menjadi tempat yang ramah bagi mereka.

Namun tentu saja, pendekatan dakwah Gus Iqdam bukan tanpa tantangan. Sebagian pihak menganggap gaya penyampaiannya terlalu santai dan kurang “serius” dalam membawakan ajaran agama. 

Ada pula yang mempertanyakan nama “Pemuda Tersesat” yang dinilai bisa menimbulkan kesan negatif. Namun Gus Iqdam tetap teguh dengan misinya.

Menurutnya, justru lewat pendekatan seperti inilah banyak orang yang merasa “tersesat” bisa kembali menemukan cahaya.

Ia bahkan mengatakan, “Kalau namanya ‘Majelis Orang Suci’, siapa yang mau datang? Justru kita semua ini sedang sama-sama belajar jadi lebih baik.”

Lebih dari sekadar seorang penceramah, Gus Iqdam telah menjadi simbol perubahan dalam dunia dakwah Islam di Indonesia.

Ia menghadirkan model dakwah yang membumi, penuh cinta, dan tetap teguh pada prinsip-prinsip Islam yang moderat.

Ia tidak hanya mengajak orang untuk shalat dan berdzikir, tapi juga untuk menjadi manusia yang lembut hatinya, sabar dalam ujian, dan hormat kepada sesama.

Inilah cerminan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam—bukan hanya untuk umat Islam saja, tetapi juga untuk seluruh makhluk ciptaan Tuhan. 

Fenomena Gus Iqdam mengajarkan kita bahwa dakwah tidak harus keras dan menakutkan. Justru lewat kelembutan, kejujuran, dan pendekatan yang relevan, pesan agama bisa menyentuh lebih banyak hati.

Di zaman ketika banyak orang merasa kosong secara spiritual, kehadiran sosok seperti Gus Iqdam menjadi sangat berarti. Ia membuktikan bahwa agama bukan milik kelompok tertentu saja, melainkan untuk semua orang yang ingin berubah dan kembali kepada kebaikan.

 

 Penulis: MG25 Okky Filzah Amalina

Editor : Halo Jember
#Islam rahmatan lil alamin #gus iqdam #pemuda tersesat #dakwah