Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mengenal Orang Linuwih, Praktik Mistis Kejawen Jembatan Realita dan Dunia Gaib

Halo Jember • Kamis, 1 Mei 2025 | 16:00 WIB
Kejawen sebuah sistem spiritual dan filosofi hidup yang berakar kuat dalam budaya Jawa. (Jawa Pos)
Kejawen sebuah sistem spiritual dan filosofi hidup yang berakar kuat dalam budaya Jawa. (Jawa Pos)
 
HALOJEMBER -  Kejawen bukan sekadar sebuah kepercayaan atau agama, melainkan sebuah falsafah hidup masyarakat Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ajaran ini menekankan pentingnya keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan adikodrati.
 
Namun, di balik ajarannya yang sarat dengan nilai-nilai spiritual dan etika kehidupan, kejawen juga menyimpan sisi mistis yang sering kali tidak terjangkau oleh nalar logika modern.
 
Di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang begitu pesat, kepercayaan dan praktik spiritual tradisional kejawen masih bertahan di berbagai pelosok Indonesia.
 
 
Praktik mistis kejawen biasanya dijalankan secara tersembunyi dan hanya diketahui oleh kalangan tertentu, seperti para spiritualis, dukun, atau mereka yang disebut "orang linuwih" orang yang dianggap memiliki kelebihan dalam hal spiritual dan batin.

Dalam tradisi kejawen, praktik-praktik seperti semedi, tapa brata, puasa mutih, hingga laku prihatin menjadi jalan utama untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta, serta membuka pintu komunikasi dengan dunia gaib.

Tidak jarang, mereka yang menjalani laku spiritual kejawen mengaku mendapatkan wangsit atau petunjuk dari arwah leluhur, bahkan makhluk halus penjaga tempat keramat.

Salah satu tempat yang kerap menjadi tujuan pelaku kejawen untuk mencari petunjuk atau kekuatan batin adalah Gunung Lawu.

Gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini dikenal sebagai lokasi keramat yang dipercaya menjadi tempat moksa (menghilangnya jasad secara gaib) salah satu raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya V.

Banyak orang melakukan ritual malam seperti semedi atau tirakat di puncaknya, khususnya di tempat-tempat seperti Hargo Dalem atau Sendang Drajat.

Menurut pengakuan beberapa pelaku spiritual, mereka pernah mengalami kejadian mistis seperti mendengar suara gamelan dari arah hutan, melihat bayangan sosok berpakaian kerajaan, hingga merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata yang seolah mengawasi mereka.

Kejawen juga dikenal melalui praktik "ngelmu", yaitu ilmu spiritual atau kebatinan yang diyakini dapat memberikan berbagai kemampuan supranatural.

Ngelmu ini tidak bisa dipelajari sembarangan. Dibutuhkan kesungguhan, laku prihatin, serta pengendalian diri yang luar biasa.

Beberapa jenis ilmu kejawen bahkan dianggap sangat berbahaya jika tidak dijalani dengan niat yang murni.

Ilmu-ilmu seperti ajian sejati, ilmu kebal, atau ilmu pelet, masih dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai warisan dari leluhur yang memiliki daya magis tersendiri.
Namun, tak sedikit pula yang menyangsikan sisi mistis dari kejawen.

Sebagian kalangan, khususnya generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan modern, menganggap praktik ini sebagai bentuk takhayul atau bahkan bentuk kepercayaan yang bertentangan dengan logika dan agama.

Meski demikian, pandangan ini tidak sepenuhnya menyurutkan semangat para pelaku kejawen untuk terus melestarikan tradisi mereka.

Bahkan, ada pula yang mencoba menjembatani antara kejawen dan ilmu psikologi modern, dengan menyebutnya sebagai bentuk eksplorasi batin dan kesadaran spiritual yang mendalam.

Menurut Dr. Retno Sari, seorang antropolog budaya dari Universitas Gadjah Mada, kejawen adalah bentuk kearifan lokal yang unik dan penuh filosofi.

"Kejawen mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam dan menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama makhluk. Di balik praktik mistisnya, kejawen sebenarnya mengandung nilai-nilai moral yang sangat luhur," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa dalam kejawen, unsur mistis bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari proses pencarian jati diri dan pemahaman hidup yang lebih dalam.

Di beberapa daerah, pemerintah mulai mengangkat kejawen sebagai bagian dari warisan budaya tak benda yang patut dilestarikan.

Festival budaya, seminar spiritual, hingga pelestarian situs-situs keramat menjadi upaya nyata untuk menjaga eksistensi kejawen di tengah tantangan zaman.

Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, kejawen bukan sekadar ajaran, melainkan jati diri yang mengikat mereka dengan tanah leluhur, sejarah, dan dimensi spiritual yang lebih luas.

Meskipun sering dianggap misterius dan tak terjangkau akal, kejawen tetap hidup dan tumbuh sebagai warisan mistis yang tak lekang oleh waktu.

Di tengah gelapnya malam dan sunyinya semedi, kejawen tetap berbisik pelan kepada mereka yang bersedia mendengar: bahwa hidup bukan hanya tentang yang terlihat, tapi juga yang tersembunyi di balik rasa.

 

 Penulis: MG25 Okky Filzah Amalina

Editor : Halo Jember
#Tradisi Jawa #gaib #kejawen #praktik mistis