Halo Jember - Haul merupakan tradisi mengenang wafatnya ulama yang telah berlangsung secara turun-temurun di Indonesia.
Dahulu, informasi mengenai jadwal haul biasanya tersebar lewat pengumuman masjid, pesantren, atau dari mulut ke mulut.
Kini, dengan maraknya penggunaan media sosial, pengumuman dan dokumentasi haul menjadi lebih cepat dan meluas.
Beberapa panitia haul besar membuat akun khusus di Facebook, Instagram, dan YouTube untuk mempromosikan rangkaian acara.
Melalui Instagram, panitia sering membagikan poster digital yang memuat tanggal, lokasi, serta daftar penceramah haul.
YouTube menjadi tempat live streaming tahlilan dan tausiyah, sehingga jamaah yang jauh pun dapat menyaksikan secara real time.
WhatsApp dan Telegram juga dimanfaatkan untuk menyebarkan brosur digital, link pendaftaran, dan informasi logistik haul.
Sebagian ulama muda bahkan menggunakan TikTok untuk membuat video singkat pengingat haul, lengkap dengan nuansa seni hadrah atau shalawat.
Strategi digital ini membuat generasi milenial dan Z yang jarang datang ke masjid menjadi lebih tertarik mengetahui jadwal haul.
Tidak hanya penonton, banyak content creator yang meliput suasana haul, mulai dari persiapan panggung hingga aneka bazar kuliner khas.
Konten haul di media sosial sering mendapat komentar dari ribuan netizen baik pujian, tanya jawab seputar jadwal, maupun kritik terkait keramaian.
Twitter pun menjadi ajang diskusi singkat, di mana akun-akun lokal memberitakan update lalu lintas dan penutupan jalan menuju lokasi haul.
Baca Juga: Jawa Timur Jadi Pusat Tradisi Haul, Mana Saja Lokasinya?
Hasilnya, haul yang semula berskala lokal dapat menjangkau nasional; jamaah luar kota bisa merencanakan perjalanan jauh dengan lebih mudah.
Terlepas dari kemudahan, penggunaan media sosial juga menimbulkan kekhawatiran: misalnya penyebaran hoaks terkait keamanan atau penipuan paket ziarah haul.
Beberapa akun palsu pernah menawarkan paket bus dan penginapan haul dengan harga sangat murah; panitia resmi kemudian mengeluarkan peringatan.
Panitia haul wajib memverifikasi akun media sosial resmi, mencantumkan kontak yang dapat dihubungi, dan menempelkan logo lembaga penyelenggara agar tidak disalahgunakan.
Secara budaya, kehadiran haul di dunia maya memperkuat identitas komunitas pesantren dan ulama sebagai pelestari tradisi keagamaan.
Jejak digital haul juga menjadi arsip virtual: video ceramah dari dekade sebelumnya kini dapat ditonton kembali sebagai bahan kajian dan inspirasi.
Beberapa peneliti budaya memandang fenomena ini sebagai “digitalisasi tradisi”: tradisi kuno yang tetap hidup dengan memanfaatkan teknologi modern.
Haul digital memungkinkan para pakar agama muda untuk mengembangkan metode dakwah baru, misalnya sesi tanya jawab virtual setelah ceramah.
Di samping itu, toko online yang menjual sajadah, sarung, dan mukena berkualitas tinggi turut mempromosikan produk mereka kepada jamaah haul lewat Instagram Ads.
Penulis: MG25 Ailatul Miza Zulfa
Editor : Dwi Siswanto