Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Jangan Dilanggar Kalau Tak Ingin Kena Sial, Ini 7 Pantangan Malam 1 Suro dalam Tradisi Jawa

Sidkin • Kamis, 26 Juni 2025 | 23:40 WIB
Malam 1 Suro masyarakat Jawa. Ada 7 pantangan dan mitos yang masih diyakini masyarakat.
Malam 1 Suro masyarakat Jawa. Ada 7 pantangan dan mitos yang masih diyakini masyarakat.

HALO JEMBER - Malam 1 Suro selalu punya tempat tersendiri dalam hati masyarakat Jawa.

Bukan hanya karena nuansa spiritualnya yang kental, tapi juga karena berbagai mitos dan pantangan yang dipercaya turun-temurun hingga kini.

Ada kepercayaan bahwa pada malam ini, dunia kasat mata dan tak kasat mata menjadi lebih dekat dari biasanya.

Maka tak heran, banyak orang memilih bersikap lebih hati-hati, bahkan cenderung diam dan menyepi ketika malam 1 Suro tiba.

Di balik kesunyian malam itu, tersimpan sejumlah larangan yang diyakini bisa membawa kesialan atau nasib buruk bila dilanggar.

Apakah semua itu hanya mitos? Atau justru bagian dari kearifan lokal yang menyimpan pesan moral dan spiritual?

Berikut ini 7 pantangan yang masih diyakini sebagian masyarakat Jawa terkait malam 1 Suro:

1. Dilarang Keluar Rumah, Terutama Saat Malam Tiba

Salah satu larangan paling umum yang dipercaya oleh masyarakat Jawa adalah anjuran untuk tidak keluar rumah saat malam 1 Suro.

Larangan ini bahkan tercatat dalam Jurnal Universitas Bina Darma (UBD) yang meneliti komunikasi ritual di lingkungan Keraton Yogyakarta, Surakarta, dan Pura Mangkunegaran Solo.

Kepercayaan ini berakar pada anggapan bahwa malam 1 Suro adalah waktu di mana energi-energi gaib bergerak aktif.

Dengan tetap berada di dalam rumah, masyarakat merasa lebih aman dari kemungkinan gangguan hal-hal tak terlihat.

Mereka percaya bahwa keluar rumah pada malam ini bisa membawa nasib sial, atau bahkan menyebabkan seseorang terkena musibah.

2. Dilarang Menggelar Hajatan, Termasuk Pernikahan dan Sunatan

Mengadakan pesta atau hajatan besar seperti pernikahan, khitanan, atau perayaan lain selama bulan Suro.

Sebab ini dianggap sebagai pamali oleh sebagian masyarakat Jawa.

Keyakinannya, jika tetap dilakukan, maka pernikahan tersebut bisa menghadapi berbagai cobaan, bahkan musibah.

Namun, dari sudut pandang Islam, tidak ada larangan resmi untuk menikah pada bulan Muharam (bulan yang bertepatan dengan Suro dalam kalender Hijriah).

Artinya, kepercayaan ini lebih bersifat budaya daripada agama.

3. Jangan Bicara, Apalagi Berisik – Ritual Tapa Bisu Jadi Bukti

Di Yogyakarta, malam 1 Suro dirayakan dengan sebuah ritual unik bernama Tapa Bisu Mubeng Beteng, yakni berjalan kaki mengelilingi benteng keraton dalam keheningan total.

Tak satu pun peserta berbicara, tak ada suara gaduh.

Ritual ini bukan hanya simbol pengendalian diri, tetapi juga penghormatan terhadap malam yang dianggap sakral.

Diam bukan berarti tanpa makna.

Justru dalam diam itulah, para pelaku tapa bisu merenungi makna kehidupan dan memperkuat hubungan batin dengan Sang Pencipta.

 Baca Juga: Pantangan Gunung Madyopuro di Film Sekawan Limo. Mirip dengan Larangan Gunung Lawu dan Semeru

4. Jaga Lisan: Perkataan Kasar Bisa Jadi Kenyataan

Malam 1 Suro juga dianggap sebagai waktu yang sangat sensitif terhadap ucapan.

Masyarakat Jawa percaya bahwa berkata kasar atau mengucapkan hal-hal buruk pada malam ini bisa membawa akibat nyata.

Apa yang diucapkan dengan sembrono bisa saja benar-benar terjadi, karena malam ini dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang tinggi.

Oleh karena itu, menjaga lisan bukan hanya tentang etika, tapi juga bentuk perlindungan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.

 Baca Juga: Ilmu Pelet dalam Tradisi Santet: Antara Cinta, Energi Gaib, dan Etika Spiritual

5. Makhluk Gaib Mencari Korban yang Lalai

Mitos lain yang cukup menggetarkan adalah tentang kemunculan makhluk gaib di malam 1 Suro.

Konon, entitas tak terlihat ini berkeliaran untuk mencari manusia yang lengah atau melakukan kesalahan di malam tersebut.

Maka, masyarakat dianjurkan untuk waspada, menahan diri dari tindakan sembrono, dan memperbanyak doa sebagai bentuk perlindungan.

 Baca Juga: Gerbang Gaib Terbuka di Malam 1 Suro. Ini Penjelasan Om Hau dan Weton Apa yang Harus Diwaspadai

6. Dilarang Pindahan atau Membangun Rumah

Kegiatan besar seperti pindah rumah atau memulai pembangunan rumah baru juga termasuk dalam pantangan malam 1 Suro.

Masyarakat Jawa meyakini bahwa memulai sesuatu yang besar pada malam atau bulan ini dapat membawa kesialan bagi penghuni rumah.

Oleh sebab itu, banyak yang sengaja menunda proses pindahan atau pembangunan hingga bulan Suro berlalu.

 Baca Juga: Cerita Keunikan hingga Mistis Tradisi Petik Laut di Pantai Puger Jember, Selalu Digelar Pada Bulan Suro  

7. Ruwatan: Pembersihan Diri dari Nasib Buruk

Tradisi ruwatan juga sering dilakukan pada malam 1 Suro. Ini adalah upacara spiritual yang bertujuan untuk melepaskan seseorang dari nasib buruk atau sukerta.

Biasanya, ruwatan dilakukan terhadap orang-orang dengan ciri kelahiran tertentu, seperti anak tunggal, anak kembar sepasang, atau anak lelaki yang diapit oleh dua saudara perempuan.

Mereka dianggap lebih rentan terhadap gangguan makhluk gaib atau kekuatan jahat yang disimbolkan oleh Batara Kala.

Ruwatan dianggap sebagai bentuk pembersihan diri dan perlindungan dari bahaya tak kasat mata.

 Baca Juga: Tradisi Tolak Bala dan Pengaruhnya terhadap Ketakutan akan Santet

Penutup: Antara Kepercayaan, Tradisi, dan Spiritualitas

Percaya atau tidak, mitos dan pantangan malam 1 Suro telah menjadi bagian dari tradisi dan identitas budaya Jawa selama berabad-abad.

Di balik larangan-larangan tersebut, terkandung nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan kita untuk introspeksi, berhati-hati, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Malam ini bukan sekadar pergantian tahun Jawa, melainkan momentum refleksi yang penuh makna, antara dunia yang tampak dan yang tak kasat mata.

Jadi, apakah Anda masih berani keluar rumah saat malam 1 Suro?

Editor : Sidkin
#malam 1 suro #mitos #masyarakat jawa #Suro 2025 #Pantangan