Di atas tanah yang disayat waktu,
kami bangun katedral dari kata-kata:
Kebangsaan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, Ketuhanan.
Bukan dari batu bata, bukan marmer,
tapi luka yang dibisikkan menjadi doa.
Pancasila, tubuhmu terbuat dari reruntuhan,
impian para petani, nelayan, dan guru
yang diganti spanduk dan sinyal Wi-Fi,
dan tanah saat matahari jatuh di kaki Merapi.
Di jantung kota yang pengap oleh hoaks dan perdebatan plastik,
siapa yang masih mendengar lima loncengmu berdentang?
dan kami yang menyimpan puisi dalam dompet,
muak melihat hukum terlalu sibuk selfie di Instagram.
Puisi Karya: Fileski Walidha Tanjung
Penulis, penyair, dan musisi yang menyelesaikan studi jurusan Teater di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya
Editor : Dwi Siswanto