Bersyukurlah,
bersepeda di pagi Jember,
saat embun masih berani menempel di daun-daun muda,
dan angin belum mengenal bising.
Ada sungai yang membelah
lahan pertanian dan perumahan,
mengalir tenang,
menjadi cermin langit dan tawa anak-anak mandi di dalamnya.
Di pinggir sungai itu,
aku berhenti.
Menyeduh kopi yang harum seperti tanah basah,
sehangat matahari yang malu-malu naik dari balik bukit.
Indah sekali,
seperti dunia yang lupa pada masalahnya.
Tapi kadang,
mata ini menangkap kenyataan:
truk-truk besar lewat perlahan
di jalan beraspal tak jauh dari sini
mengangkut batu, mengeruk pasir,
meninggalkan debu pada dedaunan yang tadinya segar.
Dan aku bertanya dalam diam,
sampai kapan semua ini bertahan?
Sampai kapan sungai tetap jernih?
Sampai kapan kopi tetap harum tanpa getir?
Puisi Karya: Yuli Yanto
Alumnus Akuntansi FEB Unej dan Pegiat Gowes
Editor : Dwi Siswanto