HALOJEMBER - Tawur Kesanga merupakan salah satu rangkaian penting dalam perayaan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu, khususnya di Bali. Upacara ini dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, tepatnya pada Tilem (bulan mati) sasih kesanga atau bulan kesembilan dalam penanggalan Saka.
Secara sederhana, tawur berarti persembahan atau korban suci, sedangkan kesanga merujuk pada bulan kesembilan dalam kalender Saka. Tawur Kesanga merupakan upacara Bhuta Yadnya, yaitu persembahan yang ditujukan untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan unsur-unsur alam semesta.
Ritual ini bertujuan untuk menetralisir kekuatan negatif (bhuta kala) agar tercipta keharmonisan sebelum memasuki Tahun Baru Saka.
Tawur Kesanga memiliki makna penyucian dan penyeimbangan. Dalam ajaran Hindu, alam semesta terdiri dari unsur positif dan negatif yang harus dijaga keseimbangannya. Melalui upacara ini, umat memohon agar energi negatif tidak mengganggu kehidupan manusia.
Ritual ini juga menjadi simbol introspeksi diri bahwa sebelum memasuki tahun baru, manusia perlu membersihkan diri dari sifat buruk seperti amarah, keserakahan, dan keegoisan.
Upacara Tawur Kesanga biasanya dilakukan di tingkat rumah tangga, desa adat, hingga skala besar di perempatan jalan atau alun-alun. Persembahan berupa sesaji dan simbol-simbol tertentu dipersembahkan sesuai tingkatan upacara.
Setelah Tawur Kesanga, malam harinya digelar pawai ogoh-ogoh sebagai simbolisasi sifat buruk manusia yang kemudian dimusnahkan. Rangkaian ini menjadi penutup sebelum memasuki keheningan total pada Hari Raya Nyepi.
Tawur Kesanga mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Ritual ini juga menegaskan bahwa harmoni hidup tidak tercapai tanpa kesadaran untuk mengendalikan diri dan menjaga lingkungan.
Melalui Tawur Kesanga, umat Hindu mempersiapkan diri secara lahir dan batin untuk menyambut Tahun Baru Saka dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan semangat baru menuju kehidupan yang lebih harmonis.
Editor : Viona Rj